Otoritas Turki Pecat Lebih Dari 110 Ribu Pejabat, Anggota Parlemen, Polisi, Tentara, DLL. Jika Indonesia Kudeta, Siapa Yang Dipecat Pertama?

Otoritas Turki Pecat Lebih Dari 110 Ribu Pejabat, Anggota Parlemen, Polisi, Tentara, DLL. Jika Indonesia Kudeta, Siapa Yang Dipecat Pertama?

10

Turki ibarat kaca cermin untuk Indonesia.

 

Peristiwa Kudeta yang terjadi pada tahun 2016 masih berbuntut panjang sampai sekarang. Apapun alasan dibalik peristiwa Kudeta tidaklah terlalu penting, yang penting adalah menyoroti adanya tindakan makar yang dilakukan para elit politik di dalam negeri Turki.

Presiden Turki, Recep Tayyep Erdogan, mulai memperlihatkan tangan besinya demi menyelamatkan negara dari goncangan kelompok yang ingin menjatuhkan dirinya. Otoritas Turki melakukan pemecatan besar-besar terhadap semua pihak yang mendukung aksi kudeta. Masa darurat dibelakukan lebih dari tiga bulan paska kudeta.

Gelombang pemecatan besar-besar terjadi sejak bulan juli 2016 sampai Juli 2017, tercatat lebih dari 100.000 Pegawai Sipil Negara, Pejabat, Akademisi, Polisi dan Tentara. Erdogan juga menutup sebanyak 160 media, 350 lembaga, memecat 100 pilot angkatan udara, dan memblokir wikipedia dan aplikasi media sosial. Memblokir media sosial seperti Twitter, Facebook dan Instagram untuk sementara.

Erdogan mengeluarkan 3 dekrit sejak tanggal 15 Juli 2016, hari dimana kudeta terjadi. Dekrit ke-3 dikeluarkan pada tanggal 31 Juli 2016 yang berisi tentangr eformasi militer Turki yang membuat lembaga militer setempat semakin dikontrol oleh Erdogan.

Otoritas Turki terus melakukan pembersihan orang-orang yang dianggap terkait ulama Fethullah Gulen, menyusul kudeta yang gagal tahun lalu. Yang terbaru, lebih dari 7 ribu polisi, tentara dan pejabat-pejabat kementerian dipecat sesuai dekrit baru yang dikeluarkan di bawah status keadaan darurat negara yang diterapkan setelah kudeta tersebut.

Pemerintah Turki menuding ulama ternama Fethullah Gulen mendalangi upaya kudeta pada Juli 2016 tersebut. Gulen yang bermukim di AS itu telah membantah tudingan tersebut. Setelah upaya kudeta berdarah tersebut, pemerintahan Erdogan bertekad untuk membasmi “virus” Gulen dari institusi-institusi negara.Selain menargetkan para pengukut Gulen, pemerintah Turki juga menindak para politisi dan institusi yang terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Kelompok Kurdi Turki ini dituduh telah melakukan pemberontakan selama 32 tahun di wilayah tenggara Turki.

Dalam sebuah dekrit yang dikutip Reuters, Turki mengumumkan penutupan sekitar 550 lembaga, 18 badan amal, dan sembilan media. Turki sebelumnya telah menutup lebih dari 130 media sejak Juli lalu.

Itulah harga sebuah peristiwa kudeta di negara demokrasi seperti Turki.

Kedekatan Presiden Recep Tayyep Erdogan dengan rakyatnya, adalah kunci dari kegagalan kudeta yang terjadi. Begitu Erdogan menyerukan pada rakyatnya untuk turun kejalan, serentak mereka langsung turun ke jalan dan menggagalkan usaha pihak yang ingin menggulingkan pemerintahan seorang presiden yang dicintai rakyat.

Sosok Erdogan adalah sosok yang  sudah lama tidak dimiliki oleh negara Turki, yaitu sosok seorang yang duduk dalam pemerintahan, yang dicintai oleh rakyatnya.

Persamaan Erdogan dan Jokowi

Lalu saya melihat Presiden kita, Joko Widodo.

Baik Erdogan maupun Jokowi, keduanya dikenal rakyatnya karena kesederhana mereka. Kalau Erdogan berhasil mengalirkan air bersih ke rumah-rumah rakyat Turki yang sudah lama dinanti-nanti, Jokowi berhasil menerangi rumah-rumah rakyat Indonesia walaupun belum seluruhnya, tapi pembangunan penerangan ini masih terus dilakukan.

Banyak hal yang tidak didapatkan oleh raykat Turki dan baru mereka dapatkan sejak Erdogan menjadi Presiden Turki. Pertanyaan saya selalu sama, mengapa pemimpin sebelumnya tidak dapat mengalirkan air bersih ke rumah-rumah rakyatnya? Saya tidak menggoogling berita-berita seberapa besar dan dalam rangkaian mafia pejabat yang menggurita di negara Turki. Namun, masalah politik yang dihadapi pemerintahan Erdogan terkesan hanya datang dari Fethullah Gulen.

Bercermin Pada Turki 

Melihat carut marutnya Indonesia saat ini, saya melihat adalah langkah yang wajar jika pemerintah melakukan pencegahan sebelum negara ini jadi berdarah-darah. Seperti Perppu atas Organisasi Masyarakat atau pemblokiran telegram, bahkan pemblokiran twitter, facebook dan media sosial lainnya, jika hal ini dipandang perlu dilakukan.

Yang membedakan Indonesia dari Turki adalah pihak yang menggoyang pemerintahan. Di Indonesia, hampir semua orang yang menggoyang punya alasan yang sama, mereka merasa kepentingan mereka dalam hal mencuri uang negara terganggu dengan semua peraturan dan kebijakan serta ketegasan yang dimiliki oleh Jokowi. Sementara Turki, hanya masalah ideologi.

Namun demikian, ujung perjalanan politik di dua negara bisa saja berakhir sama yaitu menggulingkan kekuasaan  dengan cara yang berbeda. Semoga Pak Jokowi di lindungi Allah SWT dan selalu diberi kekuatan, keselamatan, kesabaran dan kemudahan. Agar Indonesia tidak harus seperti Turki apalagi seperti Suriah. Amin.

 

 

 

ref. https://news.detik.com/internasional/d-3561632/lagi-turki-pecat-lebih-dari-7-ribu-polisi-tentara-dan-pejabat

sindo, kompas, cnn.

 

Share.

About Author

Pendukung Pemerintahan yang SAH! Muslim yang mendukung Ahok dan Jokowi. Warga Negara yang mencintai Negerinya.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage