Qatar Mendulang Dukungan Luas, Sanksi Dukungan Trump Menuju Anti Klimaks.

Qatar Mendulang Dukungan Luas, Sanksi Dukungan Trump Menuju Anti Klimaks.

3

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson pada Sabtu (8/7) mendesak negara-negara Arab mengakhiri boikot mereka terhadap Qatar. Johnson bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Sabah Khaled Al-Sabah pada Sabtu dan dijadwalkan mengunjungi Qatar di hari yang sama. “Yang perlu dilihat orang-orang adalah deeskalasi dan progres dalam menangani pendanaan teroris di lawasan ini, dan progres untuk mengakhiri blokade ini,” ucap Johnson, menyuarakan dukungan kepada Kuwait sebagai mediator dalam krisis tersebut. Johnson, yang juga mengadakan pembicaraan di Arab Saudi pada Jumat, mengatakan “sangat tidak mungkin” krisis saat ini akan mengarah pada konflik militer. “Semua orang yang saya ajak bicara mengatakan sebaliknya. Tidak ada kemungkinan konfrontasi militer,” imbuhnya (sumber : antaranews).

Isu blokade atas negara Qatar, tampaknya sudah mulai menuju anti klimaks karena minimnya dukungan dari dunia internasional. Mudah difahami mengapa blokade yang dijalankan beberapa negara Arab tidak efektif, menyusul penolakan Turki dan Iran turut dalam langkah yang sama. Qatar adalah negara yang dikenal memiliki banyak hubungan relatif lebih cair dengan dunia barat, dibanding tetangga dekatnya. Qatar juga secara ekonomi sangat sulit ditinggalkan oleh negara-negara yang memiliki kepentingan di daratan itu. Bahkan disinyalir, latar belakang penggalangan blokade politik dan ekonomi kali ini berbau kontroversi, karena ketidak relaan Saudi Arabia yang didukung Amerika, atas kedekatan Qatar dengan Iran yang mereka tuduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berbagai peristiwa terorisme.

Sejak awal kasus ini merebak, Turki menjadi pihak paling depan dalam menentang langkah blokade. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (6/6) menyampaikan ketidak-setujuannya terhadap sanksi yang dijatuhkan atas Qatar setelah hubungan diplomatik antara beberapa negara Arab dan Qatar memburuk. “Saya ingin dengan jelas mengatakan bahwa kami tidak menyetujui sanksi atas Qatar,” kata Erdogan, sebagaimana dikutip kantor berita resmi Turki, Anadolu Agency. “Perkembangan ini, yang terjadi saat kita memerlukan solidaritas dan kerja sama lebih besar daripada sebelumnya, tidak bagus buat negara mana pun di wilayah ini,” kata Erdogan dalam acara iftar (buka puasa) yang diselenggarakan di Ibu Kota Turki, Ankara, oleh Partai Pembangunan dan Keadilan, yang berkuasa di Turki (sumber : antaranews).

Mengingat tidak turut sertanya Turki dan Iran, menyebabkan Qatar tidak mengalami dampak berarti, maka boleh jadi justru sentimen dukungan terhadap Qatar akan meluas, terutama bagi para praktisi di bidang ekonomi dan pariwisata. Blokade tidak dijalankan secara menyeluruh, terutama masih berlangsungnya operasional penerbangan menuju dan dari Qatar ke negara-negara barat, artinya blokade ini hanya efektif bagi hubungan di darat dan laut yang praktis mudah dikendalikan di wilayah perbatasan. Jikapun Saudi Arabia dan sekutunya menghendaki ada sanksi yang lebih efektif, tentu harus mendekati negara-negara dalam kawasan yang lebih luas. Jika hal ini akan dilakukan, maka upaya mereka harus berlipat ganda serta akan menghadapi rintangan secara politik dan ekonomi yang sangat berat.

Hal yang menarik ditunjukkan oleh pihak Amerika. Di satu sisi, secara formal mereka mengkhawatirkan perkembangan krisis teluk yang belum menunjukkan perbaikan, seperti dikemukakan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Kamis (6/7), yang menyatakan pihaknya semakin khawatir bahwa sengketa antara Qatar dan negara lain Timur Tengah dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengalami kebuntuan (sumber : antaranews). Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai kunjungannya di kawasan teluk telah menunjukkan sikap dalam krisis Qatar. Dalam serangkaian cuitan hari Selasa (06/06), Presiden Trump dengan tegas memposisikan diri membela Saudi, dengan mengatakan isolasi Qatar -yang dituduh mendanai kelompok-kelompok ekstrem- bisa menjadi awal dari berakhirnya dampak buruk yang diakibatkan oleh terorisme. Ia kemudian menulis, “Senang melihat bahwa lawatan (saya di) Arab Saudi dan (pertemuan dengan raja Saudi) … telah membuahkan hasil.” (sumber : bbc online).

Dilihat dari persfektif politik, situasi politik luar negeri Amerika menimbulkan persoalan kontradiktif, seperti ada jarak yang memisahkan Presiden dengan Departemen Luar Negeri. Rasanya baru kali ini, pernyataan seorang Presiden AS menjadi keluar dari konteks, ketika secara diplomatis lembaga di bawah keperesidenan menyuarakan pernyataan yang terkesan berseberangan. Gejala yang menarik untuk dianalisis, adakah Trump menyatakan sikapnya dalam kapasitas pribadi ?

Artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi

Share.

About Author

Tempat artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage