Suriah, Rusia, dan Amerika Serikat serta Politik Dunia yang Rapuh

Suriah, Rusia, dan Amerika Serikat serta Politik Dunia yang Rapuh

4

Jujur, akhir-akhir ini penulis melihat bahwa dunia berada dalam fondasi yang paling rapuh sejak Perang Dingin berakhir pada tahun 1990. Konflik yang sekarang masih merajalela di sebagian belahan dunia, sampai sekarang hanya bisa “diisolasi” saja oleh PBB namun tidak pernah sepenuhnya “dipadamkan”. Parahnya beberapa konflik terutama di Timur Tengah dan benua Afrika malah menjadi permainan geopolitik negara-negara adidaya untuk mencari keuntungan dan sumber daya energi yang massif.

Jika mengingat kata-kata Bung Karno, maka tahun 2016 kemarin adalah Tahun Vivere Pericoloso atau tahun hidup dalam bahaya. Mungkin Indonesia belum terlalu merasakannya secara pahit. Namun coba tengoklah Suriah yang menjadi ajang permainan perang antara AS dan Rusia melalui boneka-boneka mereka dan dibalut dengan konflik Perang Saudara. Saya tidak berusaha membenarkan salah satu pihak, karena keduanya mempunyai andil yang sama dalam penderitaan yang menimpa rakyat Suriah. Rusia yang “terpaksa” turun tangan membantu Presiden Assad untuk melawan pasukan “pemberontak” yang sebetulnya adalah hasil rekayasa Amerika dan NATO.

Pasukan-pasukan “pemberontak” ini padahal aslinya adalah sel-sel grup dari Al-Qaeda dan ISIS yang banyak berdatangan dari luar Suriah. “Loh, tapi kok kenapa AS malah mendukung mereka?” Karena memang itulah modus Amerika dari jaman dulu untuk menghancurkan pemerintahan negara yang mereka tidak suka. Bahkan kalau mau dirunut Al-Qaeda dan Taliban sendiri adalah bentukan pemerintah AS saat Afghanistan melawan Uni Soviet di tahun 1980-an. Kini setelah kekacauan timbul secara besar-besaran di Suriah akibat kedatangan pemberontak dari luar. Akhirnya pasukan Assad dan Rusia yang mulai frustasi malah menjalankan perang total terhadap pemberontak, dan akibatnya juga banyak memakan korban sipil yang sebetulnya masih mendukung Assad sebagai presiden sah. Ini terjadi karena banyak pasukan pemberontak yang menyamar jadi penduduk sipil dalam pertempuran. Perbedaan antara lawan atau kawan pun menjadi sangat rancu. Jadi tidak heran kalau kejahatan perang akhirnya terjadi dari mana-mana oleh kedua pihak yang bertikai.

Beberapa waktu lalu muncul sedikit harapan, pasukan pemberontak yang akhirnya berhasil ditumpas secara represif oleh pasukan Assad di timur Aleppo, menimbulkan upaya untuk perdamaian kembali ditingkatkan. Tapi mau tahu siapa penghalang usaha perdamaian itu? Yap, Amerika Serikat. Amerika yang merasa pasukan buatannya dikalahkan kini mencari cara melalui propaganda media yang massif dan terstruktur dengan rapi. Ketika media independen berkata bahwa akhirnya Aleppo berhasil “dibebaskan” dari tangan pemberontak. Maka media mainstream Barat menyebut bahwa Aleppo “dihancurkan” oleh pasukan Assad. Narasi-narasi ini juga diperkeruh dengan sentimen konflik antara Sunni (pasukan pemberontak) dan Syiah (Assad) yang sebetulnya awal mulanya bukan berasal dari portal berita milik kaum radikal, melainkan berasal dari media mainstream semacam BBC, CNN, dan kawan-kawannya. Saya ingat ketika membaca beberapa berita BBC, mereka selalu menekankan perbedaan mazhab ini sebagai salah satu penyebab disintegrasi di Suriah. Inilah yang menyebabkan akhirnya banyak orang menganggap perang ini adalah perang antar mazhab. Retorika berbahaya ini kemudian digunakan para kaum radikal untuk menarik minat orang awam agar juga mau berjihad ke Suriah dengan dalil menyelamatkan agama. Hingga akhirnya konflik pun makin tidak berujung.

Saya tidak ingin melakukan pembenaran terhadap kejahatan perang yang dilakukan Assad atas kepentingan kekuasaannya di Suriah. Saya melihat Assad merasa dirinya tidak ingin bernasib sama seperti Gaddafi di Libya ataupun Saddam Husein di Iraq, yang ketika tersingkir negaranya langsung terjun bebas ke kekacauan politik dan sektarian yang lebih parah daripada ketika dipimpin oleh kediktatoran mereka. Iraq kini telah menjadi negara mati segan hidup tak mau, setiap kali ada pemilu “demokratis” sehabis itu pula langsung terjadi kekacauan. Libya yang dulu digembar-gemborkan sebagai negara yang “terbebaskan” dari pengaruh jahat Gaddafi setelah tewas dibom oleh NATO, kini nyatanya malah menjadi surga pelatihan teroris yang lebih besar dan menjadi pemasok utama senjata-senjata ilegal untuk berbagai konflik di Timur Tengah dan Afrika. Assad dan Rusia secara politik melihat jika dirinya tumbang, maka Suriah akan langsung terjun bebas menjadi sarang teroris, sehingga mereka “terpaksa” mengambil jalan dengan cara menghajar pemberontak dengan kekerasan total, dan karena pemberontak tersebut banyak yang menggunakan warga sipil sebagai tameng mereka akhirnya korban sipil pun banyak berjatuhan.

Permasalahan Suriah yang semakin kompleks dari hari ke hari, membuat penulis khawatir bahwa Suriah akan menjadi pemicu bom waktu perang total seluruh dunia. Karena sekarang Rusia dan AS sedang berada dalam kondisi paling menegangkan dalam hubungan diplomatis mereka setelah Perang Dingin. AS menggunakan segala cara untuk meraih sentimen anti-Rusia terkait masalah Suriah. Lalu ketika cara ini tidak berhasil, AS menuduh Rusia ikut campur dalam pemilu AS 2016 yang mengakibatkan Donald Trump terpilih. Terakhir AS mengusir 35 diplomat Rusia dari kedutaan Rusia di AS, karena dituduh sebagai mata-mata dan hacker. Beberapa insiden diplomatik ini untungnya tidak ditanggapi Rusia dengan emosi dan gegabah, karena Rusia juga sadar bahwa jika masalah ini dibawa ke konflik terbuka, maka perang yang terjadi akan mampu menghancurkan dunia secara total.

Maka ketika banyak yang bilang bahwa Suriah dan Rusia adalah penjahat perang apalagi yang bilang itu adalah Amerika Serikat, penulis cuma bisa tertawa. Sedangkan Amerika sudah 15 tahun menghancurkan Timur Tengah menjadi tidak berbentuk dan dipenuhi oleh faksi-faksi yang saling berebut kekuasaan dan menimbulkan krisis pengungsi hingga daratan Eropa. Karma is a bitch you know.

Menyambut tahun baru ini Suriah, Turki, Rusia, PBB, dan beberapa negara Arab (minus Amerika) berusaha untuk kembali mengadakan perundingan damai dengan pihak pemberontak. Mari kita berharap kekejaman dan peperangan yang sudah berangsur-angsur ini selesai. Dan kita juga berharap agar semua konflik di Timur Tengah bisa terselesaikan dengan cepat. Karena sekarang Timur Tengah berada di titik nadir paling kritis. Negara-negara di Timur Tengah satu persatu tumbang dan menjadi tempat yang chaos. Dan jika ini terus terjadi bukan tidak mungkin konflik global akan mudah tersulut dan mengakibatkan kehancuran dunia.

 

Share.

About Author

Iseng-iseng saja

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage