Trump Melawat, Krisis Negara Islam Memuncak

Trump Melawat, Krisis Negara Islam Memuncak

5

Krisis wilayah Teluk yang berujung blokade terhadap Qatar, dimotori oleh Saudi Arabia,  dipicu oleh sebuah laporan yang mengutip ucapan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang mengkritik ‘sikap bermusuhan AS’ terhadap Iran. Qatar mengatakan bahwa itu pernyataan palsu ulah dari suatu komplotan peretas ‘yang tercela.’ Arab Saudi, saingan utama Republik Islam Iran, telah lama mencemaskan ambisi regional Teheran.

Saudi bahkan dalam pernyataannya menuduh Doha “mendukung kegiatan kelompok teroris yang didukung Iran di kawasan Qatif,” sebuah wilayah Syiah di timur Arab Saudi. Qatar juga dituduh mendukung pemberontak Houthi di Yaman. Doha, yang ambil bagian dalam koalisi pimpinan Saudi di Yaman, menekankan bahwa mereka “menghormati kedaulatan negara lain, tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka.” Patut diduga, provokasi Donald Trumpt terhadap tetangga Qatar, punya andil dalam kekisruhan diplomatik ini, ditambah sentimen anti Iran di Saudi, menyebabkan kegerahan negara petro dolar itu sehingga merasa perlu memberi sanksi keras kepada tetangga dekatnya.

Lalu bagaimana halnya dengan Libya yang turut memutuskan hubungan ?  Orang kuat di militer Libya, Khalifa Haftar, yang didukung Mesir dan UEA, menuduh Qatar mendukung ‘kelompok-kelompok teroris’. Haftar bergabung dengan pemerintah yang berbasis di Tobruk, di timur Libya. Sementara Qatar mendukung pemerintah tandingan yang berbasis di Tripoli. Faktor dukung mendukung pada faksi di Libya menjadikan alasan negara Afrika utara ini, yang berbeda dibanding negara lainnya.

Hal lain yang kuat ditengarai sebagai pemicu krisis saat ini, adalah kekuatan media sebagai alat bermanuver. Dalam pernyataan hari Senin, Arab Saudi menuding Qatar ‘menggunakan media untuk menghasut’. Media Qatar dituduhnya menyediakan ruang bersuara bagi para anggota Ikhwanul Muslimin. Namun, Qatar mengatakan bahwa telah terjadi “suatu kampanye hasutan berdasarkan tuduhan yang sepenuhnya merupakan rekayasa.”

“Kampanye media (melawan Qatar) gagal meyakinkan opini publik di wilayah ini dan di negara-negara Teluk khususnya, yang menjadi sebab terus meningkatnya ketegangan,” kata kementerian luar negeri Qatar dalam sebuah pernyataan (sumber : BBC indonesia).

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di lembaga pemberitaan Saudi, SPA, Qatar dituduh “mendukung berbagai kelompok teroris dan sektarian yang bertujuan untuk mengacaukan wilayah tersebut, termasuk Kelompok Ikhwanul Muslimin, Daesh (ISIS) dan Al-Qaida”. Namun, Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan dalam sebuah pernyataan, langkah pemutusan hubungan oleh Riyadh, Abu Dhabi dan Manama itu “tidak dapat dibenarkan dan didasarkan pada tuduhan yang tak terbukti dan tak berdasar”. Pernyataan tersebut menekankan bahwa Qatar ‘berkomitmen’ pada Piagam Dewan Kerjasama Teluk dan “menjalankan tugasnya dalam memerangi terorisme dan ekstremisme”, demikian BBC memberitakan.

Dua pekan yang lalu, negara-negara itu memblokir situs berita Qatar, termasuk Al Jazeera. Media pemerintah Qatar memuat pernyataan kontroversial yang disebut dikemukakan oleh Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang mengkritik Arab Saudi. Pemerintah di Doha menyebut bahwa itu pernyataan palsu, dan menudingnya sebagai perbuatan suatu ‘kejahatan siber yang tercela’.

Sebelumnya, pada tahun 2014, Arab Saudi, Bahrain dan UEA menarik duta besar mereka dari Qatar selama beberapa bulan sebagai protes atas tudingan campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka. Qatar mengatakan bahwa kantor berita mereka telah diretas.

Indikasi ada upaya adu domba, yang dilakukan melalui cara peretasan situs pemberitaan resmi, menjadi isu menarik. Siapakah yang bertanggung jawab atas pernyataan kontroversial tersebut ? Lalu bagaimana negara terkemuka di wilayah teluk, demikian mudah tersulut dengan ulah para penyabot dunia maya ? Boleh jadi, kasus ini menjadi fenomena gunung es, yang tampak dari permukaan seperti bukit kecil, tetapi potensi pertentangan yang jauh lebih besar, hanya muncul dalam beberapa saat, tetapi menimbulkan efek yang sangat luas.

Kendati Qatar bergabung dengan koalisi AS melawan ISIS, para pemimpin Syiah Irak menuding bahwa mereka memberikan dukungan finansial kepada ISIS. Namun, orang-orang kaya di Qatar diyakini memberikan sumbangan besar kepada ISIS, sementara pemerintah Qatar memberi bantuan uang dan senjata kepada kelompok Islam garis keras di Suriah. Qatar juga dituduh memiliki hubungan dengan kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Front al Nusra, yang berafiliasi dengan al-Qaida.

Adakah Qatar menjalankan standar ganda dalam percaturan politik dan militer di Timur Tengah ? Faktanya, tendensi itu dibantah secara tegas oleh pemerintah Qatar. Ada hal yang rumit untuk dipahami, kecenderungan pemerintah dengan pihak di luar lembaga resmi Qatar, tampaknya mengindikasikan perbedaan. Ironisnya, negara-negara tetangganya melihatnya sebagai hal yang serupa. Adakah ini skenario Donald Trump, menarik disimak.

artikel lainnya : home-ruskandi

Share.

About Author

Tempat artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage