Trump yang Gila, Akhirnya Diancam Pemakzulan

Trump yang Gila, Akhirnya Diancam Pemakzulan

7

Trump tak henti menuai kontroversi. Ia menjelma menjadi sosok totaliter baru di era milenia. Keputusan dan langkah politiknya menunjukkan obsesinya terhadap kekuasaan yang akut. Dua hal kontroversial yang dilontarkannya saat kampanye sebenarnya sudah menunjukkan bagaimana karakternya: menyebut muslim sebagai musuhnya dan rencana membangun tembok pemisah di perbatasan Mexico.

Sikap dan tindakannya terhadap orang islam dan larangan warga dari tujuh negara muslim (Suriah, Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman), adalah deklarasinya terhadap penentangan terorisme, namun tak bisa lepas dari stereotype. Gagasan tembok Mexico juga menunjukkan ketakutan berlebihan sekaligus mengukuhkan rasa anti-Amerika.

Trump Diusul Dimakzulkan

Puncaknya keras kepala Trump saat memecat Kepala FBI James Comey terkait email Clinton. Pemecatan pimpinan FBI itu adalah tindakan yang sama sekali tak bisa dianggap wajar, karena sedang terlibat dalam pengusutan kasus penting. (bbc.com, 10/5/2017)

Pemecatan itu membuat legislator Partai Demokrat Al Green bereaksi, secara resmi mengusulkan pemakzulan Presiden Donald Trump. Sikap Al Green adalah akumulasi dari arogansi Trump yang sama sekali mengabaikan kaidah-kaidah yang selama ini justru dijaga oleh tradisi kenegaraan AS. (metrotvnews.com, 18/5/2017)

Padahal, saat ini FBI sedang terlibat dalam penyelidikan serius mengenai hubungan tim kampanye Trump dengan pihak Rusia.

Patut diduga, kalau pemecatan Comey adalah kode keras untuk menghambat penyelidikan. Bahkan, Trump sendiri pernah melemparkan tuduhan bahwa penyelidikan tersebut merupakan konspirasi yang dilakukan oleh Partai Demokrat.

Bahkan, pada sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survei Public Policy Polling menunjukkan hasil setidaknya 48 persen responden mendukung wacana pemakzulan Trump, sementara hanya sekitar 41 persen responden yang menolak. Survei itu dilakukan pada 12-14 Mei 2017 dengan mewawancarai 692 responden. (metrotvnews.com, 18/5/2017)

Trump Menyakiti Negara Muslim

Trump yang dikenal dengan tipikal arogan telah menunjukkan sikap angkuhnya sejak masa kampanye. Saat itu, ia dengan tegas menyatakan bahwa muslim adalah musuh Amerika, dan akan berusaha meindungi AS dari ancaman teroris yang disebutnya dari kalangan Islam.

Pernyataan kontroversial itu kontan menimbulkan reaksi tidak hanya dari kalangan partai pendukungnya, bahkan di pihak partai Demokrat menganggap itu adalah pernyataan rasial yang berpotensi memicu konflik.

Tatkala Ameriak Serikat (AS) melontarkan rudal Tomahawk ke Suriah 22 Maret lalu, dunia dibuat kaget dan seperti didesak untuk segera mengumumkan pernyataan. Tampaknya, selain ingin menekan Basaad, Presiden Suriah, AS juga ingin menguji kesetiaan sekutunya, sekaligus menunggu reaski negara-negara lain. Trump yang arogan ingin ketegasan sikap, mendukung kebijakannya atau berada di pihak musuhnya. Trump ingin membuka peta geopolitik dunia dengan cara gila.

Trump menodai hubungan AS – Indonesia

Pasca Trump menjabat presiden, hubungan AS dengan Indonesia tak bisa dikatakan baik-baik saja. Bahkan bisa dikatakan dingin, setelah menguatnya sengketa Freeport. Kurang baiknya hubungan dengan Amerika-Indonesia juga dibumbui dengan analisa-analisa Allan Nairn yang ikut mengeruhkan persoalan politik dalam negeri lewat rilis sejumlah tokoh yang dianggap sebagai dalang perencana makar.

Saat pelantikan Donald Trump, Jokowi salah satu kepala negara yang tak hadir (mungkin memang tak ditelepon dan tak dikirimi undangan). Dari Indonesia, yang hadir justru Harry Tanoe. Padahal untuk acara seremional sepenting itu, kehadiran kepala negara adalah penghargaan sekaligus pengakuan.

Dasar Trump, ia seperti hanya peduli dengan apa yang ada di kepalanya. Dunia di mata Trump mungkin hanya ada dua, kawan atau lawan. Pihak yang dianggap akan mendukung kebijakannya dikelompokkan sebagai kawan, sebaliknya pihak yang berseberangan adalah lawan, yang bahkan dengan itu sudah cukup jadi alasan untuk menempuh langkah aggressor.

Trump tahu, Indonesia adalah salah satu negara yang berekasi negatif, bersama Rusia, China dan Iran mengecam tindakan brutal AS menginjak kedaulatan Suriah. Reaksi Indonesia bisa dibaca sebagai akumulasi dari pola hubungan luar negeri yang selama ini dilakukan Jokowi. Sebagaimana amanah pendahulu, Indonesia tetap kukuh dengan sikap politik bebas-aktif, yang diterjemahkan sebagai jalur tengah yang bisa berkawan dengan negara manapun. Aktif menyerukan perdamaian dan mengutuk tindakan agresi.

Di tengah tarik-ulur sengketa Freeport, Jokowi menjalin hubungan intim dengan Rusia, negara yang menawarkan aneka bantuan untuk Indonesia, termasuk tawaran kerjasama militer dan Alutista. Indonesia bersama Iran juga menyusun proyek Migas. Pipi Trump pasti memerah saat mendengar kabar itu.

Dunia mungkin tetap kacau pasca pemakzulan Trump. Tapi, dunia bisa lebih waras, tanpa Trump.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage