Afi Nihaya Faradisa Masih Remaja Tapi Berani Cerdaskan Bangsa

Afi Nihaya Faradisa Masih Remaja Tapi Berani Cerdaskan Bangsa

12

Afi dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Pernah ingat dengan viralnya sebuah tulisan mengenai eksperimen tidak menggunakan gadget selama beberapa hari? Nah baru-baru ini sang penulis, Afi Nihaya Faradisa, mengunggah tulisan bagus berjudul Warisan di laman Facebooknya. Tulisan ini menuai banyak sekali pujian, namun banyak juga yang meradang membacanya sampai melaporkan akun Afi ke pengelola Facebook. Akibatnya selama 24 jam FB Afi hilang sementara. Saya sampai gagal paham kok bisa ya ada orang yang sensitif dengan tulisan bagus seperti ini :

WARISAN
Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Saya pernah menulis tulisan berjudul “Kita Tak Bisa Lagi Diam” di Seword. Tulisan itu sebetulnya adalah kegelisahan melihat kondisi negara saat ini. Saya menemukan fakta bahwa banyak yang sebetulnya toleran, cerdas, tahu bagaimana harus bersikap, namun mereka enggan bersuara. Mereka memilih untuk diam dan menoleransi intoleransi (ribet ya?). Mereka mengeluh namun tak berani mengungkapkan opini dan pandangannya.

Alasannya beragam, misalnya buat anak muda politik itu bukan sesuatu yang cool. Mending komen soal Awkarin atau Younglex daripada membahas situasi bangsa. Buat Ibu-Ibu mereka takut akan dinyinyiri oleh Ibu-Ibu lain yang berpandangan politik beda. Bapak-bapak juga banyak yang sungkan dengan saudara atau temannya. Padahal kubu yang lain gencar sekali meneriakkan ideologi dan pemahamannya.

Banyak yang baru menyesal setelah Ahok kemarin kalah. Mereka baru menyadari bahwa seharusnya mereka berani bersikap dan beropini serta melawan sesuatu yang dinilai salah. Bukan hanya diam, membatin, atau ngomel sendiri. Kita tahu sesuatu itu hoax atau tidak masuk akal namun enggan untuk mengklarifikasi dengan berbagai alasan. Ternyata diam itu tak selamanya emas. Diam menjadi emas ketika tak ada hal baik yang bisa dikatakan atau diperjuangkan. Diam bukan emas ketika seharusnya kita bicara tapi malah membisu.

Afi masih duduk di SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur. Tinggal di kota kecil bukan halangan bagi Afi untuk bersuara. Logikanya bahkan mungkin belum bisa disamai oleh banyak orang dengan usia lebih tua namun masih hobi berpikiran dangkal dan mengkotakkan diri.

Jika belajar bisa dari siapa saja dan mana saja maka kita harus mengakui bahwa gadis satu ini adalah tempat yang baik untuk kita belajar. Baik itu untuk keberaniannya bersuara, logikanya yang bagus, jernihnya cara ia berpikir, dan luasnya cara pandangnya. Kalau remaja ini saja tahu pentingnya toleransi, apa tidak malu orang-orang yang usianya jauh di atasnya malah gemar berteriak dan melakukan tindakan intoleransi?

Saya bisa optimis dengan masa depan Indonesia jika banyak anak-anak muda seperti Afi ini berani muncul ke permukaan. Afi tak hanya meng-influence remaja seusianya tapi bahkan orang-orang yang harusnya berada di posisi memberi contoh kepadanya. Kalau dulu Kartini menyuarakan pemikirannya lewat surat-surat yang dikirimkan ke sahabatnya di Belanda, maka Afi sebagai Kartini Generasi Z yang menyebarkan suaranya melalui tulisan-tulisannya di Facebook.Yang dilakukan Afi ini adalah peran serta nyata seorang generasi penerus untuk mencerdaskan dan mencerahkan bangsanya. Salut!

Semoga influencer lain yang bermain di Twitter, Youtube, Facebook. Instagram, dll banyak yang mau mengikuti jejak Afi. Setidaknya tak perlu satu postingan khusus, sebarkan saja ide-ide baik tentang toleransi, persatuan kesatuan bangsa, dan hal-hal lain yang sifatnya positif dan membangun lewat obrolan singkat. Atau sekedar slogan di awal atau akhir tayangan. Harapannya agar pesan baik itu makin sampai ke berbagai kalangan terutama generasi muda dan mereka akan membantu terus menyebarkan pesan itu.

Baca juga:

Baca tulisan lainnya di : ARTIKEL-ARTIKEL RAHMATIKA. “satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke)

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage