Anomali Simpati Rohingya di Dunia Maya, Berujung Keliru Karena Tidak Skeptis

Anomali Simpati Rohingya di Dunia Maya, Berujung Keliru Karena Tidak Skeptis

85

Gelombang protes masyarakat Indonesia semakin hari semakin meningkat terhadap tragedi kemanusiaan di Myanmar. Seperti yang kita ketahui, etnis Buddhis (fundamentalis) dan pasukan keamanan Myanmar kian hari kian getol melakukan persekusi terhadap muslim Rohingya.

Tak jelas berapa jumlah korban dari konflik ini, ada yang mengatakan puluhan, ada juga yang mengatakan ratusan. Ironis memang, negara yang dipimpin oleh seorang peraih nobel perdamaian (Aung San Suu Kyi meraih nobel perdamaian tahun 1991) seolah membiarkan konflik ini terjadi.

Sejumlah negara menyatakan aksi simpati terhadap tragedi ini. Salah satunya yang paling getol adalah Indonesia. Gelombang protes itu terjadi di dua dunia (bukan acara TV), baik di dunia maya maupun dunia nyata. Protes tersebut menunjukan bahwa warga Indonesia sangat peduli terhadap kasus ini.

Di dunia nyata, aksi protes dilakukan di depan kedubes Myanmar. Mereka mempertanyakan sikap pemerintahan Myanmar dalam tragedi ini. Bahkan, laskar FPI berencana untuk mengirimkan relawan untuk berjihad di Myanmar.

Front Pembela Islam di daerah membuka pendaftaran calon relawan yang akan dikirimkan untuk membantu etnis Rohingya yang sedang dilanda krisis. Salah satu persyaratannya adalah siap mati syahid. dilansir detik.com

Saya apresiasi apa yang dilakukan FPI jika hal itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusian. Terlebih kita tahu citra negatif seringkali muncul terhadap Ormas Bibib ini.

Di dunia maya, gelombang protes lebih masif lagi. Dunia maya merupakan sebuah media yang sangat mudah untuk menyuarakan pendapat. Sebab hal itu warga lebih memilih untuk melakukan protes di dunia maya ketimbang harus langsung turun ke jalan.

Saya sebenarnya lebih senang jika protes ini dilakukan di media sosial saja. Karena melakukan demonstrasi di dunia nyata seringkali menyisakan hal negatif. Seperti menyebabkan kemacetan, polusi (jika ada aksi bakar-bakaran), dan sampah berserakan.

Namun, positifnya aspirasi di dunia nyata terkadang (terkadang ya) bisa didengar langsung oleh pihak yang bersangkutan. Dan juga berkesempatan untuk dilipur oleh berbagai media, yang kemungkinan informasi di media tersebut bisa sampai kepada pihak yang didemo.

Meskipun melakukan protes di dunia maya ada positifnya, ada juga sisi negatifnya menurut saya. Apalagi kalau bukan HOAX. Contoh saja kasus sekarang, banyak sekali HOAX beredar di sosial media dalam kasus Rohingya ini. Terutama menyangkut gambar.

Manipulasi gambar yang merepresentasikan kejadian di Myanmar marak terjadi. Kebanyakan gambar HOAX tersebut adalah gambar yang terlihat ekstrim dan kejam. Gambar HOAX bukan hanya terjadi kepada masyarakat biasa, sekelas pejabat negara pun ternyata bisa tersasar.

Contoh di dalam negeri adalah Tifatul Sembiring, yang mengunggah foto HOAX tentang Rohingya di media sosial twitter. Saya juga sudah menulis tentang hal ini di tulisan sebelumnya :

Duh! Tifatul Kedapatan Unggah Foto HOAX Rohingya, Responsnya Bikin Miris !

Politisi PKS Tifatul Sembiring mengaku keliru mengunggah foto korban pembantaian etnis muslim Rohingya di Rakhine State, Myanmar di akun twitter pribadinya.

Kejadian tersebut sempat ramai ditanggapi oleh netizen. Salah satunya oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul ulama (PICNU) Amerika Serikat, Akhmad Sahal melalui akun twitternya.

Sahal langsung mengoreksi foto yang diunggah Tifatul. dilansir kompas.

Selain Tifatul, ternyata Wakli Perdana Mentri (PM) Turki teryata kedapatan mengunggah foto HOAX Rohingya

 

Diberitakan oleh BBC, pada 29 Agustus 2017, Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Simsek menuntut agar komunitas internasional peduli dan segera mengambil tindakan atas kasus Rohingya, yang menurutnya adalah pembersihan etnis. Melalui akun Twitternya ia menulis: “There is a massacre against #Rohingya Muslims. Stop turning a blind eye to ethnic cleansing in #Arakan #Myanmar. Int’l community must act now.”

Tak ada masalah dengan tulisannya. Tapi foto-foto yang ia sertakan ternyata bukan foto-foto korban krisis kemanusiaan Rohingya. Unggahan Simsek lalu disebarkan ulang lebih dari 1.600 kali dan disukai lebih dari 1.200 pengguna Twitter. DIlansir sumber.

Miris sekali memang, sekelas pejabat negara tidak bisa membedakan HOAX dan yang asli. Ini juga sekaligus mengingatkan kita bahwa skeptis terhadap suatu hal adalah penting.

Sebenarnya, mereka mempunyai niat yang baik, yakni peduli terhadap kasus Rohingya. Sayangnya, kepedulian itu keliru dan tidak dilandasi sikap kritis terlebih dahulu. Tapi ya sudah lah.

Saya sebagai manusia, merasa prihatin terhadap tragedi kemanusiaan ini. Semoga Myanmar bisa menyelesaikan kasus ini dengan baik. Semoga dunia bisa menjadi lebih baik dan perdamaian bisa diwujudkan.

 

Share.

About Author

Penulis adalah Writter

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage