Badai Hoax 2018

Badai Hoax 2018

3

Begitu kasus sindikat Saracen terungkap dan meletus, cipratan letusannya nempel kemana-mana dan bergaung lama baik di media online dan offline. Di laman seword saja ada 222 opini, ulasan dan bahasan soal Saracen dari berbagai sudut, konteks dan pertimbangan. Cobalah minta bantuan mbah google, ketikkan kata kunci ‘berita seputar saracen’ di ruang baris pencariannya. Sampai posisi tulisan ini dimuat ada 1.240.000 hasil per 10 halaman temuan mbah google. Luar biasa laris isu ini.

Puncak Gunung Es

Padahal kasus Saracen hanyalah puncak dari gunung es dari gundukan kebohongan dan berita palsu lebih besar yang masih terbenam di bawah permukaan kebencian dan iri hati. Daya sebar dan daya tular berita bohong dan kabar palsu ini lebih cepat dan ganas di jaman teknologi eksponensial yang serba cepat dan serba digital dewasa ini. Pantaslah jika Presiden Jokowi sempat gusar akan dampak kasus Saracen ini, betapa mengerikan dalam artian daya bohong dan daya pelintirnya. Saya kira ada dua penyebab kegusaran Jokowi: satu, kebohongan yang diulang terus-menerus akan dianggap kebenaran. Kita sudah alami ini pada orde lalu dimana berita dan kebenaran didominasi satu corong belaka dengan berbagai agitasi dan propaganda semu. Kedua, kebohongan yang berbahan bakar kebencian dan isu sensitif adalah makanan empuk bagi kalangan rakyat jelata dengan daya cerna intelektual pas-pasan.

Secara pesimis katadata.com berbicara, per Agustus 2015 angkatan kerja Indonesia diatas 15 tahun berjumlah 122,4 juta masih didominasi tamatan SD dan SMP. Lulusan SD sekitar 26,6 persen atau 32,5 juta jiwa, adapun 22,1 juta lainnya SLTP. Kualitas penduduk kita malah lebih menyedihkan, berada di urutan 124 dari 187 negara. Takutnya lagi, sampah informasi yang didaur-ulang akan dikunyah mentah-mentah sambil mengajak tetangga untuk mengunyah juga sisa dari sisa sampah. Pilkada DKI kemarin adalah contoh showcase paling bagus. Namun, secara optimis kita tetap percaya bagian terbesar rakyat masih setia dengan kontrak sosial untuk hidup bernegara bersama, cari makan, berkembang-biak dengan damai dengan segala konsekuensinya. Kalau tidak, sudah sejak dulu model tragedi Rwanda terjadi disini.

Akar Kebencian

Sindikat Saracen sejatinya macam sindikat bisnis yang memperdagangkan kebohongan dan berita palsu dengan bahan baku kebencian. Eksis sejak November 2015, Saracen memproduksi kata, meme, narasi, hoax, berita palsu, dan fitnah. Sarana yang mereka pakai menyebar produk kebenciannya antara lain di Grup Facebook, Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan berbagai grup lain yang menarik minat warganet untuk bergabung. Total akun yang dikelola mencapai sekitar 800 ribu akun di media sosial, sambil terus terima pesanan untuk menyebarkan konten ujaran kebencian dan bernuansa SARA dengan tarif belasan hingga puluhan juta rupiah. Weleh 2x…

Motivasi mereka bisa jadi uang, dan kalau dibilang kecerdasan mereka di atas rata-rata dengan kemampuan pseudo ajaib, rasanya tidak. Mereka lebih mirip gerombolan sirkus kesiangan, oportunis yang takut merampok bank atau jualan narkoba kemudian masuk ke kejahatan siber, mencari keuntungan dengan mencuri uang secara online. Ada diantara pembaca yang pernah dapat email menang undian dari Pangeran Tajir atau Ksatria Berkuda somewehere? Nah, mereka miriplah macam komplotan scammer atau penjahat siber dari Nigeria itu. Prinsipnya lempar saja semua yang busuk dan palsu ke dunia online, sambil lihat siapa dan apa yang terjaring. Rekayasa sosial secara sangat murah dan kotor. Kemudian ketemu pulak dengan para pemesan yang energi kebenciannya meluap-luap. Macam botol ketemu tutup. Akar kebencian para pemesan/pembeli paket kebohongan tak lain dan tak bukan adalah iri hati. Senang lihat orang susah, susah lihat orang senang. Jika dimasukkan dalam kerangka bahasan imani, mereka para pelaku dosa nomor 3: iri hati (invidia) dari 7 dosa pokok. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tujuh_dosa_pokok).

Karena itu, kebencian dan kebohongan yang sudah dibisniskan begini adalah tanda bahaya menuju kontestasi Pilpres 2019. Akan ada badai hoax menjelang 2019. Apa saja dan bagaimana cara komplotan ini masuk dan memborbardir warganet.

Kapitalisasi SARA

Kabar bohong sudah sejak lama ikut menjadi pelaku sejarah peradaban manusia. Hoax atau kabar bohong, berita palsu, info abal-abal, kampanye hitam, plintiran dan sejenisnya bisa memicu konflik, menggulingkan pemerintahan dan memecah belah satu bangsa. Sejarah sudah mencatat ada 6 kabar hoax yang memicu perang (http://www.dw.com/id/6-kabar-hoax-yang-menyulut-perang/g-37072878). Negara Paman Sam masih pakarnya soal beginian.

Untuk kasus di Indonesia, titik masuk para pedagang kabar bohong dan kebencian ini adalah isu SARA. Lagi-lagi pilkada DKI adalah contoh sempurna untuk kapitalisasi isu sara. Mastermind nya bisa saja membantah bersumpah-sumpah itu bukan kapitalisasi sara. Seribu kali dia membantah seribu kali pula fakta berbicara sebaliknya. Seperti kata Jose Arcadio Buendia pada arwah Prudencio Aguilar dalam novel 100 Years of Solitude (Gabriel Garcia Marquez): “Makin sering kau muncul, akan makin sering pula aku bunuh!” Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Mereka bisa saja berdalih kabar hoax bagian dari kebebasan berpendapat dan kritik. Kadang-kadang sambil melanggar hukum dan privasi. Meminjam tulisan Cak Anton di seword.com: jika politik hanya digunakan untuk pemuas nafsu syahwat kekuasaan demi keuntungan pribadi dan golongan, maka berdampak pada perilaku politik yang menghalalkan segala cara. Misalnya politik SARA.

 

Playing Victim, Bantah, Ngeles

Rumus kedua yang akan mereka pakai adalah strategi playing victim, berpura-pura jadi korban sambil memasang tampang dan gesture iba minta dikasihani. Yang terbaru, lihatlah kelakuan seorang pengacara kondang yang balik melaporkan komplotan Saracen karena diduga mencatut namanya, dan kemudian dia minggat seenaknya dengan alasan ibadah suci. Akan ada banyak sekali kelakuan macam begini dalam waktu dekat. Sembari membantah sana-sini, kebohongan dijawab lagi dengan kebohongan karena berbohong itu harus konsisten agar kedok tak terbuka. Efek Filter Bubble dan algoritma facebook bisa jadi akan memperparah hal ini dimana saat berselancar di dunia maya warganet yang kapasitas intelegensinya pas-pasan akan dikurung dengan balon imajiner tentang data-data dari orang-orang, golongan yang sealiran dengan mereka. Pandangan baru dan berbeda tidak muncul karena tak lolos saringan algoritma facebook. Hasilnya? Masyarakat makin dilanda kebingungan dan geger sosial, yang pro makin pro, yang kontra makin kontra. Terjebak dalam ruang gema dunia maya. Mereka bingung bagaimana cara mengelola konflik karena semua hal berbeda adalah musuh. Berantem secara ideologis, saling jelek menjelekkan, debat yang keliru, wacana tak berkualitas akan ramai sekali, riuh rendah menyesaki dunia maya.

Jadi secara prinsip, pedagang kabar bohong tetap percaya rumus ajaib: kabar jelek adalah berita bagus. Kedua, lakukan kejahatan terhadap akal sehat; tiga, pemaksaan kehendak dengan menyuruh orang membenci kemudian jadilah sponsor kebencian secara sengaja dan sadar dan terakhir bentur-benturkan masyarakat dengan eksploitasi perbedaan dan isu sensitif. Garis besar semuanya mereka melakukan penghinaan terhadap nalar berpikir orang normal.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Seperti suara merdu announcer di pesawat saat cuaca buruk: “dear passengers, due to bad weather, please take your seat and fasten your seatbelt…” Penumpang yang terhormat, karena cuaca buruk, silakan kembali ke kursi Anda dan pasang sabuk pengaman secara saksama…”

Yang pertama, jangan lekas percaya dengan info, update, broadcast, berita atau ajakan apalagi yang tersebar secara online atau lewat aplikasi pesan android. Biasa diembel-embeli dengan tautan, perintah, iming-iming palsu. Lakukan cek, crosscheck berulang-ulang. Ambil acuan di media utama yang sudah punya reputasi bagus seperti detik, kompas, tempo, tribunnews, dll.

Kedua, lawan informasi hoax dengan mengambil acuan resmi menggunakan jurnal ilmiah atau sumber wikipedia. Wikipedia lebih bisa diandalkan pada era berita palsu dan hoax saat ini. Wikipedia sejauh ini bebas dari berita-berita hoax. Beberapa informasi di dalamnya lebih bisa diandalkan dibanding banyak sumber lain yang bertebaran di internet. Penulis dan editor di wikipedia merespons secara obyektif dan rasional. Beda dengan di facebook, orang merespon pakai emosi dan bukan didesain untuk sumber berita tanpa perlu pengecekan lebih dulu.

Ketiga, abaikan saja. Banyak urusan lain lebih penting daripada buang waktu mengurusi hoax. Seperti halnya Presiden Jokowi sudah mengimbau tidak terfokus pada hasutan dan ujaran kebencian seperti disebarkan Saracen. Momentum ekonomi lebih penting daripada Saracen. Hal ecek-ecek bukan level Presiden yang mengurusi. Ketua DPR juga pernah menyarankan habib yang minggat ke Arab Saudi karena tersangkut kasus chat mesum untuk tidak pulang karena cuma urusan ecek-ecek.

 

Ulasan panjang lebar ini jelas bukan hoax, kalau tidak kita minta saja pramugari announcer tadi untuk segera membuka emergency exit untuk para penumpang tidak patuh dan bikin berisik melulu.

 

http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-41074809

https://www.vice.com/id_id/article/vvjypy/wikipedia-lebih-bisa-diandalkan-pada-era-berita-palsu-dan-hoax-seperti-sekarang

http://teknologipikiran.com/filter-bubble-effect-bahaya-algoritma-facebook-yang-membuat-anda-semakin-fanatik-dan-rasis/

http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/09/14/lebih-dari-seperempat-angkatan-kerja-2015-hanya-tamat-sd

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage