Cuti Media Sosial Bukan Solusi Atasi Gaduh Negeri

Cuti Media Sosial Bukan Solusi Atasi Gaduh Negeri

2

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, mengatakan sebaiknya masyarakat Indonesia puasa ber-mediasosial selama paling tidak seminggu lamanya. Menurut Wiranto, liburan tersebut dibutuhkan untuk meredam kegaduhan di ruang diskusi maya. Ia berpandangan, kegaduhan-kegaduhan di dunia nyata yang selanjutnya menjadi tugas untuk ditangani pemerintah, tak jarang timbul akibat kegaduhan-kegaduhan kecil di dunia maya. Wiranto mengatakan, wacana liburan media sosial terpikirkan olehnya. Karena pemerintah sepakat perubahan-perubahan sosial di masyarakat dewasa ini sangat dipengaruhi perkembangan teknologi informasi. Media sosial yang muncul berkat perkembangan itu menjadi sarana penyebaran informasi yang sangat cepat. informasi yang tersebar itu tak jarang negatif serta sulit dikendalikan. Informasi seperti itulah yang memiliki potensi menimbulkan kegaduhan di dunia nyata.

Baca : Zainal Petir Calon Komisioner Komnas HAM Ternyata Dulu Yang Tolak Bu Sinta Nuriyah di Semarang

“Saya pikirkan kalau ada liburan nasional, kita liburkan juga media sosial selama satu minggu. Akan aman negeri ini. Nanti kita coba dulu,”

“Setiap hari orang asyik buka YouTube, Instagram, WhatsApp, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,”

Sementara, Menteri Komunikasi dan Informatika RI Rudiantara yang juga hadir di acara menyatakan liburan media sosial sekadar pemikiran pribadi Wiranto. Menkominfo menegaskan, pemerintah tidak akan serta merta membungkam kebebasan berekspresi dengan melarang rakyat mengakses media sosial. Kalaupun pemerintah serius mengkaji tentu akan meminta pendapat dari masyarakat terlebih dahulu.

“Pemikirannya, supaya sekali-kali kita jangan terlalu hingar bingar lah (di media sosial). Karena kan bisa dilihat bahwa di media sosial itu banyak juga yang isinya menghujat, menyalahkan, adu domba,”

Perkembangan teknologi dan media informasi-komunikasi memang menyajikan dua sisi manfaat maupun kerugian. Di era ini kita tak semudah masa lalu saat informasi tidak bisa cepat sampai dan tersebar. Isu-isu penting sering hanya berputar di satu kelompok saja. Media massa pun dengan segala keterbatasan tak bisa menyajikan semua berita ke pembacanya. Berbeda dengan jaman sekarang di mana masyarakat sendiri bisa berperan menyebarkan berita.

Ketika kita tidak tahu banyak memang keuntungannya adalah tidak terasa adanya kegaduhan di negeri ini. Namun akhirnya kita dibodohi dan hanya mengetahui suatu peristiwa dari satu sudut. Banyak hal yang seharusnya tersampaikan malah berhenti di golongan tertentu saja. Apalagi dulu jaman masih ada Departemen Penerangan, salah memuat berita ancamannya bisa sampai dibredel.

Baca : Tak Apa Rizieq Tak Kembali, Yang Jelas Kita Perjuangkan Jokowi Sampai 2024

Apakah seiring kemajuan teknologi kemudian kita menjadi lebih cerdas? Ada yang bisa cerdas, ada juga yang makin bertambah bodoh. Mereka yang masih mau menggali informasi, tidak mudah termakan hoax, mencari sumber berita yang sahih, dan mampu memfilter sendiri informasi yang masuk tentu akan bertambah cerdas. Mereka menerima berbagai input, melatih logika, dan membuat kesimpulan berdasarkan fakta. Yang bahaya adalah yang tidak bisa memilah, tidak mau mencari sumber lain untuk perbandingan, tidak bisa membedakan mana media yang kredibel atau tidak, asal share, dan hanya sekedar membaca judul tanpa mau melihat isi tapi langsung menyimpulkan sesuatu.

Mau membuat masyarakat cuti seminggu untuk bermedia sosial dengan alasan menghentikan hoax itu jelas tidak mungkin. Sama konyolnya dengan Anies Baswedan yang juga sempat menyuruh berhenti bermain media sosial agar terjadi rekonsiliasi pasca Pilgub DKI Jakarta. Selain sumber informasi dan jaringan pertemanan, media sosial juga merupakan sumber pekerjaan bagi mereka yang bergerak di industri kreatif. Kalau masyarakat disuruh berpuasa selama seminggu lantas influencer, vlogger, selebgram,dll itu mau cari uang darimana? Mereka juga belum tentu dalam unggahannya membahas tentang politik.

Yang bisa dilakukan adalah menggerakkan masyarakat untuk mau berpikir cerdas. Membuka sistem pengaduan online yang realtime untuk meng-counter hoax dan fitnah yang ada di media sosial. Serta mengajak masyarakat untuk saling mengoreksi dan berani bersuara. Justru karena media sosial dicap sebagai sumber kegaduhan yang membuat banyak orang tidak berani speak up atau beropini menyikapi kondisi Indonesia saat ini. Akibatnya media sosial hanya dikuasai segelintir orang, arus informasi yang itu-itu saja, dan inilah yang justru membuat terkesan gaduh.

Hal seperti ini memang konsekuensi demokrasi dan perkembangan jaman. Tinggal bagaimana masyarakat mau bersikap atau malah memilih diam saja. Pemerintah dan aparat punya kewajiban memantau dan menindak jika ada yang kelewat batas.

Baca tulisan lainnya di : ARTIKEL-ARTIKEL RAHMATIKA. “satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke)

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage