Dear TV ONE, Aku Tak Lagi Memboikotmu, Love You, Mmuuaachh!

Dear TV ONE, Aku Tak Lagi Memboikotmu, Love You, Mmuuaachh!

59

Aku seolah kehilangan kata-kata. Bukan, bukan karena emosi ataupun galau. Bagaimana tidak speechless…? Satu stasiun televisi lokal yang selama ini kujauhi, tiba-tiba memberiku sebuah kejutan. Bahkan kejutannya serasa tak tanggung-tanggung. TV One selama ini mengklaim dirinya sebagai televisi berita. Namun sekarang, predikat itu seakan menguap bak tersiram air keras! TV One berubah menjadi televisi sinetron. Horeee…?!!

Aku adalah penikmat siaran televisi lokal. Segala acara yang terpampang dari channel-channel produksi dalam negeri, nyaris tak pernah terlewat dari pengamatanku. Pengamatan seorang penonton biasa. Maklum, aku punya banyak waktu luang. Khususnya di malam hari, hahaa 🙂

Tetapi yang namanya manusia, tak pernah absen dari rasa bosan. Dan jika kebosanan tiba-tiba melandaku lantaran acara di televisi yang tidak menarik perhatian, maka jurus pamungkas adalah: mencomot remote control. Kemudian mengganti-ganti channel televisi, hingga menemukan tayangan yang membuat mata terus melek.

Logo TV One. Source: anggapanugali.ilearning.me

Baru sekitar dua hari yang lalu. Kala bosan dengan acara yang itu-itu saja, aku mengutak-atik channel untuk sekadar mencari tontonan yang menarik. Hingga sampailah pada channel TV One. TV One…? Hhmm.

Perlu aku ceritakan sejenak. Beberapa waktu terakhir, aku seakan menjaga jarak dengan televisi yang satu ini. Karena alasannya simpel. Aku tak ingin ‘terpapar’ dengan segala beritanya. Dengan segala sudut pandang yang disajikan oleh tim redaksinya.

Hal ini dimulai sejak gelaran pemilihan presiden pada 2014 lalu. Di hari-H pemilu, TV One menyajikan paket berita terkait pilpres yang sedang berlangsung. Semua sudah paham, kalau waktu itu, TV One merupakan media televisi yang paling condong kepada pasangan Prabowo dan Hatta Radjasa. Bahkan, TV One dengan jumawa, menampilkan hitung cepat atau quick count pilpres, dimana hasilnya bertolak belakang dengan hasil quick count yang ditayangkan  mayoritas televisi lainnya.

Sungguh aneh…?! Pikirku saat itu. Sebagai penonton awam yang masih waras, aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang ditayangkan oleh TV One tersebut. Benarkah televisi ini melakukan upaya pembohongan publik…? Bisa jadi. Namun TV One seolah langsung terkena karmanya. Usahanya untuk memanipulasi hasil quick count, dibalas dengan ‘kemarahan’ dari segenap rakyat Indonesia. Hestek #tvOneMemangBeda tak pelak menghiasi media sosial. Bahkan sampai menjadi trending topic dunia. Hestek yang berusaha menyindir ‘kebodohan’ yang ditampilkan oleh televisi tersebut.

Bagiku, tidak hanya karena kontroversi ketika pilpres 2014 itu. Secara umum, sudut pandang yang berusaha ditunjukkan oleh TV One sebagai ‘media oposisi’, juga tak menarik minatku untuk menonton berita-beritanya. Apalagi acara Indonesia Lawyer Club (ILC).

Bagiku, ILC tak lebih bincang-bincang kosong yang tak guna. Tak sekalipun mencerahkan, apalagi memberikan suatu solusi, bagi isu-isu yang sedang hangat dibicarakan.  

Oh ya. Satu lagi alasan. Sebagai orang Jawa Timur, aku tak bisa menerima perlakuan yang diberikan oleh TV One. Ya, televisi ini tidak pernah mau membahas bencana lumpur lapindo di Porong, Sidoarjo, dengan porsi yang fair. Cuma karena Lapindo Brantas mempunyai afiliasi dengan sang pemilik, bukan berarti TV One harus melupakan fungsinya sebagai media massa, kan…?

Begitulah, alasan-alasan yang membuatku ‘anti’ dengan TV One. Mungkin kalau pihak TV One membaca tulisanku ini, tidak akan merasa rugi sedikitpun. Aku tak peduli.

Barangkali mereka tidak pernah merasakan, betapa ruwetnya jalan raya Porong, karena musibah lumpur yang diakibatkan oleh Lapindo Brantas. Betapa terhambatnya laju transportasi utama di Jawa Timur, diawal-awal melubernya lumpur di Porong itu.

Tak ada yang menyangsikan bahwa TV One hanyalah media yang digunakan sebagai alat bagi pemiliknya. Menjadi instrumen utama, untuk mencapai segala tujuan dari pemiliknya yang terhormat. What the hell.

 

Kabar Gembira Datang dari TV One

Meskipun TV One bukanlah channel yang menyenangkan, aksi ‘boikot’-ku tidak berlebihan seperti seorang Mustofa Nahra PKS yang membuang Sari Roti, padahal masih bisa dimakan. Hello hey bye-bye…, aku tidak seburuk dia, hahaa! Aku tak serta-merta menghilangkan TV One dari daftar channel televisi yang ada. Cuma, ketika melewati TV One, aku nyaris tak pernah menggubris saluran ini 🙂

Iklan drama seri Turki yang mulai ditayangkan TV One. Source: twitter.com/tvOneNews

Tetapi…, ada secercah cahaya menyejukkan, yang tiba-tiba ditunjukkan oleh TV One. Ya, sekitar dua hari yang lalu, tatkala aku sedang mencari-cari acara yang bagus di televisi, aku melewati channel TV One. Kukira aku bakal menemukan sosok Balques Manisang atau Brigita Manohara. Dua anchor TV One yang suka nongol membawakan berita di malam hari. Namun yang ada, aku malah menemukan sebuah tayangan berbeda yang disiarkan oleh televisi ini.

Tayangan itu adalah sinetron…?!! Appaaa….??!!! TV One nayangin sinetrooonnn…??!!

Ya, kabar bahwa TV One telah menjadi televisi sinetron, bukanlah isapan jempol belaka. Dan aku benar-benar membuktikannya kemarin! Sinetron yang ditayangkan TV One tersebut, bukanlah sinetron produksi lokal. Melainkan sinetron impor dari Turki.

Source: twitter.com/tvOneNews

TV One tak jauh berbeda seperti saudaranya, ANTV. Kalau ANTV jor-joran dengan sinetron yang diimpor dari India, sekarang giliran TV One melakukan hal serupa. Bedanya TV One menayangkan sinetron dari negerinya Erdogan, idolanya kaum bumi datar.

Yah, aku tidak munafik. Patut kuakui, kalau drama seri dari Turki, terasa berbeda dimataku. Ada semacam sensasi yang unik, kala menonton sinetron dari Turki. Bagaimana para aktor dan aktrisnya, yang terlihat seperti campuran antara ras Arab dan Eropa. Bikin seger mata gitu, lhoo…?! Apalagi dengan latar dan suasana kota Istanbul yang memang menakjubkan itu.

Orang Indonesia yang selama ini terbuai dengan drama seri dari Korea maupun India, rasanya mempunyai ‘mainan’ baru. Sinetron Turki ini, lumayanlah…, untuk ditonton dikala malam sambil menunggu kantuk. Dan TV One menghadirkan sensasi tersebut!

Source: twitter.com/tvOneNews

Demam sinetron Turki sempat melanda Indonesia di 2015, kala SCTV supersukses ketika menayangkan sinetron Elif. Hal ini kemudian diikuti oleh stasiun televisi lainnya. Namun demam drama Turki ini meredup. Dan hilang cukup cepat.

Tetapi lihatlah TV One. Begitu aku menemukan sebuah sinetron Turki yang ditayangkan televisi ini, aku sontak membuka-buka official Twitter dari TV One. Memang benar. Di bulan April 2017 ini, TV One mulai menghadirkan sejumlah serial dari negeri seribu menara: Turki.

Tak tanggung-tanggung, TV One menayangkan lima sinetron Turki, dalam satu hari…!

Cara yang dilakukan TV One ini wajar saja. Sebagai sebuah perusahaan, tentu TV One ingin memperoleh profit. Nah, ketika program-program beritanya tak lagi memberi untung, maka ia banting setir ke pasar sinetron. Dan TV One berusaha mengembalikan kejayaan dari drama Turki yang sempat mewabah di tanah air.

Source: twitter.com/tvOneNews

Kesimpulannya, baiklah. Aku tak lagi memboikotmu, TV One…?! Walaupun aku tak pernah menonton program-program beritamu, namun aku (insya Allah) akan menonton drama-drama Turki yang kamu tayangkan. Terima kasih, yaaa. Mmuuaachh 🙂

Share.

About Author

Menulis berdasar minat dan kepentingan. Non partisan (entah besok-besok). Penulis 2 kumpulan cerpen indie: Peluru (Ellunar, 2015) dan Lukisan Berinisial SA (Leutika Prio, 2015). Semoga segera menembus penerbit mayor. Amin.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage