Gaj Ahmada: Turn Back Hoax Saja Tidak Cukup

Gaj Ahmada: Turn Back Hoax Saja Tidak Cukup

106

Belakangan ini dunia media kita dipenuhi dengan aneka macam hoax. Karena itulah kemudian terbentuk gerakan “Turn Back Hoax.” Gerakan ini terbentuk di beberapa kota dan sudah berkali-kali melakukan kegiatan kopdar atau kampanye melawan hoax. Saya pribadi sempat ikut di salah satu wilayah cabang Turn Back Hoax, meski sampai saat ini belum sempat bertatap muka, karena rutinitas yang cukup padat dan menyita waktu.

Hoax tidak lagi bermain di arena platform sosial media seperti twitter dan facebook. Informasi hoax sudah biasa tayang di media-media mainstream, karena narasumbernya adalah narasumber hoax.

Contoh saja, ada berita bahwa Rizieq diundang umroh oleh Raja Salman. Ini apa-apaan? Wong Raja Salman ke Indonesia saja tidak bertemu atau mencari Rizieq, kok malah mau mengundang umroh?

Ada juga berita bahwa Rizieq mendapat visa unlimited. Ini juga berita yang tidak ada dasarnya. Sebab tidak ada yang namanya visa unlimited. Sebab di seluruh dunia, yang namanya visa harus diperpanjang. Baik bulanan, tiga bulanan atau tahunan. Tergantung jenis, tergantung aturan di sebuah negara, dan tergantung kepentingan pengunjung.

Semua ini adalah contoh informasi hoax, yang diberitakan atas dasar menyampaikan informasi secara utuh. Itu semua bukan opini atau prediksi, tapi berita.

Pertanyaannya kemudian, pernahkah kita dengan lantang membantah informasi-informasi tersebut? pernahkah kita dengan percaya diri menyatakan bahwa itu hoax atau tidak benar? dalam pengamatan saya, tidak banyak yang berani bersikap secara tegas. Karena alasan tidak ingin menyinggung teman fans fanatik Rizieq. Atau karena alasan lainnya. Padahal berita-berita tersebut sangat jelas menyesatkan.

Lalu sekarang muncul lagi cerita klaim bahwa Gajah Mada nama aslinya adalah Gaj Ahmada. Jadi selama ini kita membaca sejarah yang salah dan perlu diluruskan. Ini sama seperti teori bahwa bumi itu datar. Hoax!

Sebagian kita mungkin hanya akan tertawa membaca teori hoax soal bumi itu datar. Tapi kemudian kita harus terdiam ketika melihat beberapa orang sangat meyakini kebenaran teori tersebut. Dan ini sepertinya akan terus berulang. Kita yang sekarang tertawa dan tidak mau meluruskan tentang cerita Gaj Ahmada itu, beberapa tahun ke depan mungkin juga akan terdiam ketika ada orang menanyakan hal tersebut dengan sangat serius.

Turn Back Hoax saja tidak cukup

Sebagai penulis sekaligus pimpinan Seword, saya mohon maaf kalau pemahaman saya salah tentang Turn Back Hoax. Tapi ini dari pengamatan saya.

Turn Back Hoax menurut saya sama seperti Turn Back Crime. Secara ideologi sampai jenis kostumnya sangat mirip sekali. Dan kalau harus saya gambarkan, berdasarkan yang saya lihat di lapangan, kelompok Turn Back Hoax mirip seperti kerja Polisi. Bedanya, mereka memerangi hoax sementara Polisi memerangi kriminalitas.

Saya sempat baca tulisan di beberapa grup anti hoax, alurnya adalah mengidentifikasi kemudian ditetapkan sebagai hoax. Sama seperti Polisi saat menangkap pelaku tindak kejahatan, setelah diidentifikasi dan ditunjukkan bukti serta saksi, barulah ditetapkan sebagai tersangka. Pada prakteknya memang lebih rumit kerja Polisi, tapi tentang cara dan alurnya sudah sama.

Bagaimanapun saya mengapresiasi komunitas Turn Back Hoax yang terus melawan hoax. Mulai dari memberikan informasi pernyataan hoax, sampai sosialiasi bagaimana mengidentifikasi dan menghindari hoax itu sendiri.

Tetapi, ketika membaca cerita klaim Gaj Ahmada, saya berpikir bahwa Turn Back Hoax saja sudah tidak cukup. Sebab produsen hoax akan terus berproduksi, sementara kita hanya bisa menyebut bahwa itu hoax, dan selesai. Lalu apa selanjutnya? Menunggu hoax baru untuk dibantah atau diluruskan.

Masyarakat itu butuh cerita, butuh tulisan, butuh sebuah karya menarik untuk dibaca. Ketika kita hanya fokus pada membantah dan meluruskan, tetapi tidak bisa menghasilkan sebuah karya, maka jangan salahkan masyarakat awam kalau mereka justru tertarik dengan cerita-cerita hoax. Sebab apa? sebab mereka tidak punya banyak pilihan bacaan.

Alurnya jadi begini, konten hoax diproduksi, dibaca dan dipercayai, kemudian dibantah oleh Turn Back Hoax. Kalaupun sosialisasi Turn Back Hoax sukses 100% dalam rangka mengedukasi masyarakat untuk tidak percaya terhadap tulisan hoax, apakah kemudian hoax akan berhenti? Tidak. Mereka akan terus tumbuh satu persatu, menjadi pilihan paling menarik dari minimnya karya tulis tentang negeri ini.

Saya menulis ini bukan karena merasa Seword telah memberikan sesuatu yang lebih efektif, karena kami menghasilkan bacaan alternatif. Tidak. Bagaimanapun Seword juga masih banyak kekurangan dan terus saya perbaiki. Tapi begini, dalam hal kampanye, sosialisasi, kopdar, diskusi dan sebagainya, komunitas Turn Back Hoax sangat luar biasa. Alangkah sempurnanya kalau ke depan, Turn Back Hoax juga mulai memproduksi konten non-hoax. Sebab cara untuk melawan hoax tidak hanya dengan mengklarifikasi dan melabelinya hoax. Jika tidak, cerita-cerita liar seperti Gaj Ahmada dan lainnya itu akan ada lagi dan lagi.

Terakhir, saya meyakini bahwa tujuan dan ikhtiar kita tentang bangsa ini adalah sama. Dan saya pikir sudah saatnya kita menyamakan langkah, inilah kenapa saya tuliskan ini secara terbuka. Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Analyst, Pemikir, Pakar Mantan dan Spesialis Titik-titik WA: +15068028643 BBM: 74B86AE4

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage