HT dan Para Buzzer Pembelanya

HT dan Para Buzzer Pembelanya

12

(dokumentasi pribadi, dicapture dari Twitter @remotivi)

Kemarin, saya sempat berkunjung ke profil akun Twitternya lembaga yang bergerak pada pemantauan media dan penyiaran, @remotivi. Kebetulan mereka baru mengunggah video soal catatan mereka terkait dengan persoalan ketenagakerjaan yang dialami oleh karyawan media dibawah grupnya MNC alias HT. 

Seperti biasa, buzzer-buzzer HT bermunculan untuk menyanggah semua tuduhan, setidaknya menganggap Remotivi punyaudang dibalik batu“.

jadi penasaran sama Remotivi ini, jangan jangan alat kekuasaan untuk menekan Hary Tanoe , sama seperti KPI

ngawur, enggak ada yg namanya PHK besar besaran yg dilakukan oleh Koran Sindo.”

Itu baru sekelumit. Sebenarnya kalimat para buzzer ini berpanjang-panjang seperti kultwit. Namun, toh rasanya ngapain dikutip semua disini. Seperti biasa, saya tentu menyanggah kalimat-kalimat tersebut. Sampai tulisan ini dibuat, belum ada balasan terkait dengan sanggahan tersebut.

Berhadapan dengan buzzer HT mungkin bukan pertama kali buat saya. Dulu, saat kasus perselisihan antara HT dengan Tutut Soeharto dalam kasus CTPI menguat, buzzer HT pun menggeliat dengan tajam, ketika saya membahas soal kasus tersebut dan tentu saya bertendensi menekan kepada pihak HT – diluar soal perjanjian investasinya, dimana saya mempertanyakan kenapa perintah dari Mahkamah Agung tidak diindahkan dan malah mengajukan gugatan ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia, yang hasilnya malah menyanggah putusan MA yang memenangkan Tutut Soeharto. Padahal, seperti yang kita tahu dalam struktur ketatanegaraan, MA adalah lembaga hukum tertinggi yang berwenang terhadap kasus ini, karena awalnya memang diajukan kasasi ke MA.

Oh ya, mengenai kasus ini belum ada yang update disini? Oke, info terakhir studio MNCTV yang pernah jadi kantor pusat sebelum aktivitas operasionalnya mulai dipusatkan di Kebon Jeruk, telah diambil alih oleh pihak Tutut Soeharto. Apakah ini artinya ada sesuatu yang baru? Let’s see.

Kembali soal buzzer. Rupanya, tokoh semacam HT pun perlu buzzer juga. Hm, modal menuju pemilu? Bisa jadi. Tapi, tentu dengan sandungan beberapa kasus-kasusnya seperti persoalan ketenagakerjaan yang baru-baru ini muncul ke permukaan, kasus CTPI hingga kasus SMS ancaman dan Mobile-8, bukan hal yang mudah bagi HT untuk mulus menuju perpolitikan negeri ini.

Sampai hari ini, kita tentu masih mudah menemukan berita-berita dalam bentuk framing dan penggiringan opini bahwa HT didzhalimi oleh pihak yang berkuasa. Bahkan, sampai-sampai diajukan dalam penyampaian aspirasi alumni 212 yang dipimpin Ust. Sambo. Tentu, lama-lama kita akan makin sadar bahwa MNC sudah terlalu penuh dengan kepentingan sang pemilik. Entah kepentingan bisnis, entah kepentingan politis.

Beberapa waktu yang lalu, sempat heboh sebuah tulisan yang diaku oleh Derek Manangka, seorang wartawan senior di portal berita online rmol.co, dimana ia menuliskan tentang keprihatinannya terhadap kasus ketenagakerjaan Koran Sindo (dan media-media milik HT lainnya, termasuk iNews TV). Keprihatinan, disertai semacam perbandingan antara HT dengan Surya Paloh dalam menghadapi kasus yang sama. Keduanya memang diketahui pernah dekat saat sama-sama berada di Partai Nasdem. Sanjung puja pun ia lontarkan, bahwa Surya Paloh lebih baik dalam soal begini dan berpengalaman dibandingkan HT.

Padahal, kedua-duanya sudah terlalu sering dikritisi karena termasuk kerajinan mengintervensi stasiun TV dan media lainnya yang mereka punya. Apa yang didukung Surya, pasti dilawan HT. Ini secara nampak jelas ada di televisi dan media lainnya yang mereka punya.

Kemudian, ada sanggahan dari M. Sururi Alfaruq, statusnya sebagai direktur utama Koran Sindo. Tentu, dari tulisannya kita bisa berkesimpulan bahwa dia tak lebih dari semacam juru bicara (bahkan, mungkin keduanya saya anggap sama-sama berstatus juru bicara). Secara umum, tulisannya menuding bahwa Derek tak memahami HT sepenuhnya dan kemudian menjelaskan sedikit soal masalah yang dialami Koran Sindo, dimana yang saya tangkap adalah adanya perubahan strategi yang dilakukan dimana Koran Sindo yang tadinya ada versi daerah, kini dihilangkan hampir seluruhnya kecuali di Palembang, Batam dan Makassar (ada investor pihak ketiga yang memegang kendali).

Koran Sindo pun jadi mirip Kompas, menurutnya. Perubahan strategi ini menghasilkan 3 pilihan yang ditentukan oleh perusahaan : sebagian dipindah ke lini bisnis MNC lain, sebagian dipertahankan di daerah untuk konten (semacam biro, saya pikir), sebagian naik level ke Koran Sindo versi nasional. Yang tak termasuk ketiganya, tengah dimusyawarahkan. Namun yang inilah yang tengah dipermasalahkan. Eks karyawan Koran Sindo merasa bahwa mereka tidak diperlakukan sesuai aturan, mulai dari uang pesangon hingga soal pengiriman surat yang menggunakan kurir ke rumah masing-masing. Perdebatan terus berlanjut dimana Derek pun menyampaikan sanggahannya kembali. Tentu tak akan dijelaskan detail disini.

Menariknya, apa yang disampaikan dirut Koran Sindo tersebut mirip persis dengan para buzzer HT diatas, sambil mengkaitkan dengan penutupan media cetak dari grup media lain, seperti Kompas Gramedia. Padahal, dalam hal ini kasusnya berbeda jauh, karena sejauh yang saya pahami, kasus dimana beberapa media cetak grup Kompas Gramedia akhirnya tak terbit, seperti majalah Hai (beberapa bulan sebelumnya sudah mulai terbit perbulan, bukan per minggu), tabloid Sinyal (jadi majalah sekarang, dengan pengelola yang tak dikendalikan langsung oleh Kompas) dan majalah Kawanku (kini menjadi cewekbanget.id), hanyalah soal pindah platform, dimana sebagian dari mereka dipindahkan ke grid.id, semacam portal berita infotainment dan lifestyle yang terintegrasi dengan Grid Story Factory, semacam rumah kreatif untuk mendorong gaya beriklan “baru” dengan pendekatan konten yang dianggap lebih personal, dan ada yang bertahan di medianya masing-masing untuk mengembangkan konten digital. Kasus yang rata-rata juga dialami oleh grup media lain seperti Femina dan MRA.

So, saya bisa menarik kesimpulan bahwa HT sudah mempersiapkan buzzer. Mungkin dalam waktu dekat, saya akan “disapa” oleh para buzzer HT.

Share.

About Author

Mendengarkan, mencatat dan menuliskannya buat kamu. Penulis di IniKritikGue, pekerja dan pengamat. Kontak saya : rinaldoaldo92@gmail.com.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage