Kalimat Kiasan Sebagai Peluru Tajam, Cara Sesama Elit Partai Bertempur.

Kalimat Kiasan Sebagai Peluru Tajam, Cara Sesama Elit Partai Bertempur.

1

Penyampaian ungkapan melalui rangkaian kalimat kiasan, sering kita jumpai pada kalangan penyair, penulis novel, pencipta lagu dan sebangsanya. Rupanya gaya serupa itu juga kerap dilakukan oleh para politisi, dengan maksud yang sedikit berbeda tentunya.

Jika para artis mengucapkan kalimat berirama dengan kandungan arti yang sedikit tersembunyi, bertujuan memberikan sentuhan keindahan kepada pembaca atau pendengar, maka politisi biasanya memberikan kalimat kiasan dengan maksud menyerang secara verbal, sekaligus memasang jebakan, sehingga dia dapat berkelit menghindar ketika diminta klarifikasi.

Hal seperti itulah kira-kira letupan kalimat yang mengandung nuansa kiasan, yang terbaca dari cuitan politikus Gerindra yang juga Ketua Dewan Pembina ACTA, Habiburokhman, mengunggah foto selfie di akun Twitter miliknya. Dalam keterangan foto di Twitter-nya, Habiburokhman menuliskan ‘Orang ini juga gak ada tampang diktator, tampang foto model iya’.

Kita pasti mafhum dengan maksud kalimat di atas, tidak harus menjadi jenius untuk memahami arah kalimat yang seandainya bukan dilatar belakangi konteks tertentu, maknanya tentu akan hilang. Benarlah apa yang menjadi dugaan semula, dia akan berkelit ketika diklarifikasi maksud ucapannya. “Nggak (untuk menyindir Jokowi). Kita kan harus kampanyekan internet sehat. Saya kan di situ nggak mencaci, menghujat, dan tidak memfitnah,” ujar Habiburokhman saat ditemui di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu, 9/8/2017 (detik.com).

Haqul yakin cuitan petinggi partai Gerindra itu bermaksud menyindir Jokowi, walaupun dia menepisnya. Jika ditelaah, sebenarnya tidak benar-benar linear kaitan kedua kalimat kiasan tadi, mengingat yang menjadi pemicu awal adalah kritikan SBY tentang keputusan prosentase ambang batas presiden dalam UU Pemilu.

Setia kawan sebagai sesama kubu, mungkin itulah yang menginspirasi Habiburokhman mengungkapkan kalimat kiasannya.

Kesan naif dan memaksakan, muncul juga dari Fadli Zon, yang menanggapi pernyataan Jokowi tentang wajahnya yang tidak layak disebut diktator. “Menilai diktator itu bukan dari wajahnya, tapi kebijakan dan tindakannya,” tulis Fadli Zon lewat akun Twitter, Rabu (9/8/2017). “Tumpas ormas, tangkap seenaknya, tuduh makar dll, apa demokratis?” sambung Waketum Gerindra ini. Hanya yang lupa diungkapkannya, kalimat : “Di era Orde Baru, tindakan menculik aktifis mahasiswa, dan beberapa korban tidak terdeteksi keberadaannya hingga saat ini. Apakah itu demokratis ?”. Mungkin pada saat mengatakan serangan itu, dia tidak sadar bahwa bos-nya sendiri turut terkena sindiran.

Masalahnya, ungkapan yang mengandung makna ganda rupanya bisa berarti pula memakan korban ganda, ironisnya salah satu korban sindiran adalah sang komandan. Di lain pihak, bukankah tudingan diktator tersebut konteksnya sangat spesifik, yakni berhubungan dengan penetapan ambang batas presiden ? Mungkin karena dalam waktu bersamaan, sedang hangat diberitakan masalah pembubaran ormas, maka diseretlah ke arah sana.

Sementara makna dibalik ungkapan Jokowi, seharusnya lebih diselami sebagai jawaban atas tudingan sebelumnya. Bahwa tidak perlu khawatir kalau pemerintah bertindak melampaui domainnya. Dengan mengungkapkan kalimat, yang meragukan kalau wajah seperti dirinya dituding sebagai diktator, Jokowi ingin meyakinkan bahwa wajah pemerintahannya pun yang merupakan representasi dari komponen-komponen pengawal demokrasi, tidak patut dicurigai sebagai bergaya diktator.

Tidak hanya antara dua kubu berseberangan, kawan dalam satu partai pun, terkuak di media saling serang secara terbuka. Antara Fadli Zon dengan Arief Payuono gelagatnya seperti sedang berebut pengaruh, entah atas apa atau siapa. “Saya kira masih banyak waktu untuk memperjuangkan Pak Prabowo. Kalau ada orang yang ingin memenangkan orang lain ya sudah kami tidak mempermasalahkan itu. Ya mungkin saya nggak tahu pernyataan itu agak aneh saja. Itu kan adalah pernyataan yang mencla-mencle,” ujar Fadli saat dihubungi, Selasa (8/8).

Sementara Waketum Gerindra Arief Poyuono tak terima disebut mencla-mencle oleh Fadli Zon. Arief melontarkan kritik pedas kepada rekan sejawatnya di Gerindra itu. “Rapopo (tidak apa-apa) mencla-mencle daripada jadi kacung neolib,” ujar Arief dalam rilisnya, Kamis (10/8/2017). Arief mengonfirmasi sindiran tersebut dialamatkan ke Fadli. “Iya,” ucapnya (detik.com).

Intinya, pertempuran kalimat yang bermakna ganda, kalau disimak dengan seksama tidak kalah menarik dibanding perang menggunakan senjata. Bahkan dengan rangkaian kalimat bergaya sarkasme seperti itu, bisa jadi berpotensi konflik fisik di tataran bawah. Maka kita perlu sedikit waspada, agar tidak lebih jauh terlibat dengan lontaran-lontaran yang kontra produktif. Lebih-lebih jika ujaran itu bisa mempengaruhi suasana persatuan dan kesatuan bangsa. Biar hanya tataran elit saja yang sibuk mencari posisi untuk dirinya sendiri.

Artikel lainnya :https://seword.com/author/ruskandi

Share.

About Author

Tempat artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage