Konglomerasi Radio dan Lagu “Enek”

Konglomerasi Radio dan Lagu “Enek”

1

​“Dengan bergabungnya seluruh radio tersebut, kini Mahaka Radio berhasil menguasai market share sebesar 49% di Jakarta. Setelah melakukan beberapa aksi korporat pada awal tahun 2017, Mahaka Radio menargetkan perluasan market share dari 49% tahun ini menjadi 65% tahun depan,” 

Ini adalah pernyataan dari Direktur Utama Mahaka Radio Integra, Adrian Syarkawie seperti dikutip dari media massa swa.co.id. Mahaka Radio sendiri saat ini memegang 6 stasiun radio FM secara langsung dan 3 stasiun radio FM secara tak langsung (penyertaan saham di Masima Radionet, yang punya Prambors-Delta-Female). 

Namun, bukan Mahakalah yang punya stasiun radio dengan jaringan terbesar. Kalau boleh dibilang, yang cakupannya adu besar-besaran itu ada 2 : MNC dengan RDI-Sindo Trijaya yang terbanyak dan Kompas Gramedia dengan Sonora-Motion-Smart FM Network.

Eh, jarang-jarang kita membahas soal konglomerasi radio.

Jika dibandingkan dengan konglomerasi televisi yang terlihat lebih ribet, membangun konglomerasi radio nampaknya lebih mudah dalam berbagai segi. Ada dua konsep yang secara umum berlaku dalam beberapa kasus stasiun radio di negeri ini. Pertama, mengambil alih seluruh operasional dan kepemilikan. Pengambilalihannya pun cukup ditandai dengan “menonaktifkan” siaran dalam waktu beberapa waktu, dimana hanya lagu terus yang diputar dan tanpa penyiar sama sekali. Setelah itu, kita baru tahu bahwa yang punya stasiun radio ini berbeda orang, ketika muncul kembali dengan nama dan konsep program-program yang baru.

Kedua, hanya operasionalnya saja yang diambilalih. Pemilik lama masih tetap memiliki stasiun radio, namun operasionalnya dipegang pihak ketiga, sehingga sang pemilik bisa “tidur”. Meski demikian, pengambilalihan yang kedua ini rawan memunculkan masalah antara pemilik lama dengan pihak ketiga ini, karena kadang sang pemilik masih ingin mengurus stasiun radionya. Maka, kebanyakan yang dipilih adalah konsep pertama.

Kebanyakan konglomerasi radio hari ini dibentuk dengan konsep pertama. Sang investor dianggap sebagai “malaikat” untuk stasiun radio yang kondisi operasional dan jumlah pendengarnya “berdarah-darah”, sehingga pemilik lama memilih untuk lepas tangan soal perusahaan stasiun radio yang ia punya dan menjual ke investor yang rata-rata sudah punya nama dan jaringan besar. Sebut beberapa diantaranya seperti MNC, Mahaka, Masima, MRA dan Kompas Gramedia. Ada juga investor-investor yang tergolong “kecil” seperti Indika dan MPG Media. Belum dihitung dengan grup investor seperti CPP Radionet yang jaringannya tidak lagi bermain di kota-kota besar seperti investor-investor sebelumnya.

Konsep kedua, sempat dilakukan salah satunya oleh grup Masima di masa lalu. Di Jakarta, grup Masima pernah memegang operasional beberapa radio seperti SPFM (kini Oz Radio Jakarta), Trijaya (kini Sindo Trijaya) dan M97 (kini RDI). Namun, jika memang dirasa gagal, tentu saja konsep pertama kembali yang dipakai. Maka, memang semudah itu untuk menjual dan membeli stasiun radio. Prinsipnya memang menjual beli saham perusahaan stasiun radio, namun – sama halnya dengan televisi, itu juga berarti frekuensi si stasiun radio ini secara tak langsung “terambil alih” juga.

Idealnya, kalau menurut aturan yang ada, jika ada pengambilalihan, maka frekuensi harusnya kembali dulu kepada pemerintah. Selesai pengambilalihan, stasiun radio ini akan ikut tender dan seleksi yang berlaku, baru bisa kembali dapat izin siaran. Tidak selalu berarti frekuensi yang didapat akan sama, karena dengan tender ini, ada kemungkinan pihak lain sudah akan bergerak cepat buat mendapat izin frekuensi. Teknis yang kurang lebih sama buat televisi yang notabene frekuensinya milik publik. Namun, proses semacam ini dianggap terlalu ribet dan kebanyakan “ini itu”. Selain itu juga rata-rata jatah frekuensi FM analog di kota-kota besar juga sudah terisi semua, sehingga memang kalau mengikuti hal ini, akan saling berebut satu sama lain.

Persaingan ketat industri radio harap dimaklumi. Pangsa pasar mereka memang harus mulai tergerus dengan persaingan dengan internet. Penetrasi radio menurut data Nielsen terus mengalami penurunan dimana data terakhir berada di posisi 37%, saat internet terus menanjak naik penetrasinya dengan posisi terakhir 40%. Kehadiran layanan-layanan podcast semacam Spotify dan Joox, bisa jadi penyebabnya. Apalagi, sejak tren Gen FM di Jakarta, dimana lagu-lagu yang tengah hits dan (((hipps))) bisa dikatakan akan diputar berulang kali hampir tiap jam, serta kemunculan public figure dalam program prime time pagi, yang ditiru plek oleh beberapa radio, baik “sodara baru” Gen FM seperti Kis FM dan Mustang, “sodara jauh” Gen FM alias grup Masima Radionet ataupun kompetitornya, dari Motion Radio hingga Hard Rock FM, membuat lagu-lagu di radio jadi nampak lebih membosankan.

Upaya membangun konglomerasi radio, seperti yang tengah diperbesar oleh Mahaka Radio diatas, sebenarnya mungkin merupakan upaya mereka untuk mengatasi persaingan yang ketat. Meskipun kata orang, industri radio masih lebih demokratis daripada televisi yang dikuasai para konglomerat-konglomerat yang itu-itu saja. Namun perlahan tapi pasti, industri radio bisa saja mengikutinya. Hal yang bisa saja berbahaya buat eksistensi radio-radio non komersial seperti radio komunitas ataupun radio komersial yang “antimainstream” seperti Green Radio Jakarta (stasiun radio yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup) yang sudah tutup, yang bisa saja akan gugur satu persatu.

PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia) sebagai yang menaungi stasiun radio-radio komersil tak tinggal diam. Mereka berupaya membuat iklan layanan masyarakat yang menyelip di radio dan juga di sosial media stasiun radio. Pesannya sederhana, meskipun terlihat metropolis : dengar radio di mobil lebih baik dari fokus internetan, apalagi sambil menyetir yang berbahaya bagi keselamatan. Radio digambarkan mengadakan semua hal yang dibutuhkan pendengarnya, dari hiburan, lagu-lagu hingga informasi (yang katanya) terverifikasi kebenarannya. Tak perlu ribet atur playlist, sudah teratur dengan mendengarkan radio.

Ah, tapi selama Surat Cinta untuk Starla, Dari Mata dan Asal Kau Bahagia masih terus diulang-ulang di radio, wajar memang kalau pendengar mau cari alternatif baru. Bukannya lagu enak, malah lagu “enek”. Hahaha.

Share.

About Author

Mendengarkan, mencatat dan menuliskannya buat kamu. Penulis di IniKritikGue, pekerja dan pengamat. Kontak saya : rinaldoaldo92@gmail.com.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage