(Menjawab) Seword Kerap Difitnah Abal-abal dan Hoax, Kenapa Pimpinannya Diam?

(Menjawab) Seword Kerap Difitnah Abal-abal dan Hoax, Kenapa Pimpinannya Diam?

81

Sejak Seword dinyatakan terbuka untuk umum, dimana semua orang bisa bergabung dan ikut menulis (asal bisa nulis), saya membuat aturan larangan menulis atau membahas tentang Seword. Baik memuji, membela atau mengkritisi. Saya ingin Seword menjadi portal opini yang membahas isu-isu penting di negeri ini, bukan malah sibuk membahas Seword itu sendiri.

Dalam perjalanannya, beberapa penulis komplain, kenapa tidak boleh menulis soal Seword? bukankah itu promosi gratis? Kenapa juga penulis Seword tidak boleh memberikan pembelaan terhadap web yang dinaunginya? Dan seterusnya. dan jawaban yang selalu saya berikan adalah “biarlah bahasan tentang Seword, apapun itu, menjadi domain saya.”

Sebagai pimpinan Seword, jarang sekali saya menanggapi pertanyaan atau provokasi orang-orang luar. Sebab sekalinya saya tanggapi, mereka malah kecentilan dan memborbardir dengan serangkaian artikel tanggapan. Dan belakangan saya baru sadar, bahwa pesona tentang Seword memang sudah luar biasa. Media-media lain yang memberitakan Seword, sekalipun itu negatif, selalu berhasil mendatangkan traffic yang sangat tinggi. Inilah yang membuat saya melarang semua penulis untuk menanggapi ataupun membahas seputar Seword.

Namun ada satu kejadian dimana Seword diberitakan secara terstruktur, sistematis dan massif di sekelompok media plus buzzernya, bahwa Seword adalah media hoax. Selama kurang lebih 2 bulan penuh, bahkan mungkin masih berlanjut hingga sekarang.

Ada ratusan pesan masuk, baik melalui inbox FB, WA, BBM sampai email. Para pembaca meminta saya angkat suara untuk mengklarifikasi, minimal menjawab tuduhan-tuduhan tersebut. Tapi saya hanya menjawab “soal tuduhan-tuduhan seperti itu, saya serahkan kepada pembaca dan seluruh rakyat Indonesia.”

Terus terang saya menikmati promosi gratis tersebut, sekalipun dibingkai dengan cacian, fitnah dan tuduhan-tuduhan yang sangat tidak berdasar. Saya membiarkan salah satu tokoh politik –yang dulu konsultannya pernah menawari saya bayaran untuk menyudutkan Ahok– membayar puluhan buzzer, menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk menyerang Seword. Hitung-hitung saya sedang bagi-bagi rejeki melalui produksi konten negatif terhadap Seword. hehe

Beberapa penulis yang ijin untuk menjawab dan memabahas Seword, semuanya saya tolak. Saya tetap konsisten menjawab bahwa bahasan seputar Seword biarlah menjadi domain saya. Penulis saya harapkan mau membahas isu-isu yang jauh lebih penting daripada menanggapi haters. Dan kalaupun terpaksa ingin sekali membahas Seword, saya persilahkan untuk menuliskannya di platform lain seperti Facebook, Insta atau yang lainnya.

Tapi demi menjawab rasa penasaran teman-teman, sebenarnya mengapa penulis saya larang untuk menanggapi fitnah yang ditujukan pada Seword? jawabannya sangat sederhana, karena yang memfitnah itu biasanya akun yang tidak punya banyak follower, sekalipun berupa media, elektabilitasnya (katakanlah begitu) jauh di bawah Seword. Jadi untuk apa ditanggapi? Jadi kita diamkan saja, lumayan bisa sedekah trafik ke mereka. haha

Selain itu Seword ini memang awalnya saya buat untuk diri sendiri, namun melihat banyaknya minat para penulis untuk ikut bergabung, maka kemudian saya buka untuk umum. Saat ini sudah mencapai 700an penulis. Kami terus berproses ke arah yang lebih baik, memberikan ide dan terobosan baru dalam dunia literasi di Indonesia. Salah satu wujud keseriusan kami, saat ini Seword sudah berbadan hukum. PT SEWORD MEDIA UTAMA. Pelan-pelan kami akan terus maju dan terus memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Unik memang, Seword ini bukan milik konglomerat yang punya dana melimpah. Jadi harap maklum kalau kami berangkat dengan tangan kosong, baru kemudian memikirkan legalitasnya di kemudian hari. Tapi kalau dengan cara seperti ini kami dianggap abal-abal, tidak masalah. Sebab saya sendiri maklum, dah aku maah apaa atuh, hanya rakyat jelata yang berharap mampu memberikan perlawanan terhadap penguasaan opini publik oleh sebagian kelompok kecil orang.

Mendidik masyarakat untuk cerdas

Dalam hal menangkal hoax, tidak cukup dengan kepintaran atau gelar-gelar akademik formal. Seseorang harus punya pola pikir logis agar bisa menjadi penyaring dari sekian banyak berita hoax. Dan itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan kita dari seksinya berita hoax.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada lembaga, media ataupun organisasi yang selama ini menyatakan memerangi hoax, memverifikasi, mengontrol dan menilai sebuah media, saya merasa kehadiran mereka, pada beberapa kesempatan justru menjadi tameng untuk membenarkan sebuah hoax.

Mari kita buka mata, saat Rizieq diberitakan mendapat undangan khusus dari Raja Salman untuk umroh, siapa yang berani membantah? Justru adalah Seword yang sama sekali tidak terverifikasi dan kerap difitnah abal-abal. Malah media mainstream yang katanya terverifikasi, bertanggung jawab dan valid, ikut memberitakan berita aneh dan tidak masuk akal tersebut. coba dipikir, di mana logikanya Rizieq diundang khusus oleh Raja untuk umroh, padahal saat Raja ke Jakarta sama sekali tidak menemui Rizieq. Otak mana otak?

Ketika ada juga berita Rizieq diundang ke markas besar PBB di Jenewa untuk presentasi atas kasus yang menimpa dirinya (chat sex), bahkan ada pengacara internasional yang menawarkan diri untuk membantu dan membawa kasus tersebut ke mahkamah internasional, siapakah yang menyebar berita ini? justru adalah media mainstream yang terverifikasi.

Atau satu contoh ketika Fadli Zon menebar rumor Presiden Jokowi melindungi Ahok dalam kasus Sumber Waras, siapa yang berani membantah? Kami! Penulis-penulis amatir yang katanya tidak terverifikasi, abal-abal dan seterusnya. Sementara yang memberitakan rumor tersebut adalah media-media mainstream yang kantornya jelas, terverifikasi, valid dan seterusnya.

Jadi sebenarnya hoax sudah merambah ke media-media mainstream yang katanya bertanggung jawab, kredibel dan valid tersebut. Tapi karena mereka memiliki label terverifikasi, terdaftar atau apalah istilahnya, jadi tak ada yang berani atau enggan membantah bahwa mereka telah memuat konten hoax.

Tidak salah memang, mereka hanya memberitakan dan memuat persis seperti yang diucapkan oleh narasumber. Tapi mereka tidak bisa berpikir logis, sehingga tak ada saringan, dan info-info tak masuk akal juga ikut diberitakan.

Dengan Seword ini, saya ingin mengedukasi masyarakat bahwa media-media di Indonesia sudah memiliki kecenderungan dan arah politik yang jelas. Mereka memang tidak secara terbuka menyatakan “mendukung si Anu,” tapi semua kontennya mengarah ke Anu. Sudah nyaris tidak ada netralitas.

Dalam beberapa bulan ini saya menganalisis semua media yang ada di Indonesia, semuanya sudah terkotak-kotak dengan narasi sendiri-sendiri. Ada media yang enggan memberitakan apapun terkait Jokowi, ada media yang hanya menjelek-jelekkan Jokowi, dan seterusnya. Apakah mereka salah? Tidak. Sebagian besar yang mereka beritakan memang merupakan sebuah fakta. Tapi apakah mereka netral? Haha tentu saja tidak.

Pernah dalam sebuah analisis mingguan, saya melihat sebuah data bahwa ada media yang sengaja tidak membahas sebuah berita positif tentang Presiden dan pemerintah.

Jadi kalau kemudian Seword mendukung Jokowi, Ahok, Ganjar, Risma, Kang Emil, Dedi Mulyadi dan orang-orang baik lainnya, mendukung pemerintah, memberitakan prestasi-prestasi Presiden dan menterinya, seharusnya tidak perlu dipersoalkan. Sebab kalau mau membaca berita negatif Presiden dan pemerintah, tinggal pindah channel ke mediaoon atau media anu…..Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Analyst, Pemikir, Pakar Mantan dan Spesialis Titik-titik WA: +15068028643 BBM: 74B86AE4

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage