Ramadhan, Kepulangan Rizieq, dan Hoax

Ramadhan, Kepulangan Rizieq, dan Hoax

10

Menunggu Rizeq pulang ke tanah air tak ubahnya menunggu saat berbuka puasa. Bagi kita yang hanya sekitar 13 jam menahan lapar dan haus tentu tidak seberapa berat, tapi bagaimana mereka yang berada pada belahan dunia lain yang berpuasa sampai 20 jam atau lebih? Sangat berat tentu saja. Di situ memang ujian keimanan menjadi tantangan tidak mudah bagi setiap muslim-muslimah yang beriman. Dan semua itu kuncinya hanya satu: bersabar.

Pada waktunya nanti pasti adzan maghrib dikumandangkan, dan pada saat itulah acara berbuka puasa dapat dilakukan. Seperti disebutkan dalam berbagai tausyiah, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, pertama, saat berbuka, dan kedua, kelak ketika bertemu dengan Rob-nya dan mendapatkan pahala.

Bersabar juga perlu ditekankan ketika menunggu kapan Rizieq pulang. Beredar kabar pentolan FPI akan pulang Ahad ini. Namun kabar itu ternyata palsu, alias hoax. Setidaknya demikianlah yang disampaikan dua orang pengacara Rizieq Shihab sekaligus (Kapitra Ampera dan Sugito Atmo Prawiro). Keduanya berdalih belum ada informasi dari Rizieq soal kepulangannya, sehingga mereka memastikan kabar itu bohong.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono memastikan persiapan polisi untuk menyambut kedatangan Rizieq merupakan “hoax” atau tidak benar, sebab surat tersebut tidak menggunakan cap.

***

Heboh kabar kepulangan Rizieq berawal dari beredarnya sebuah salinan surat yang dikeluarkan Polresta Bandara Soekarno-Hatta beredar di kalangan wartawan. Surat tertanggal 9 Juni 2017 itu berisi permintaan kepada jajaran di Polres Kota Bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan kesiapan pengamanan antisipasi kepulangan Rizieq Shihab dari Arab Saudi.

Rupanya soal kapan pulang ini menjadi berita cukup hangat di media. Sementara para pengacara ketika didesak awak media menyatakan berbagai argumentasi untuk mengatakan sesuatu yang seolah-olah pasti, tapi tetap dengan ketidak pastian. Ungkapan mereka dari mulai ‘dalam waktu dekat, setelah Lebaran, hingga setelah Jokowi tidak jadi presiden’. Bukan hanya wawancara di lapangan yang bersifat spontan, bahkan wawancara di studio pun (dengan materi bahasan yang jelas dan telah dipersiapkan lebih dahulu) jawaban mereka pun tidak jauh-jauh dari ‘tidak jelas – tidak tahu – dan entah’. Padahal terasa sekali si pewawancara sudah sedemikian antusias dalam melontarkan pertanyaan, dengan agak menekan serta memojokkan pada jawaban ‘ya atau tidak’.

Tapi itulah bagian dari dinamika dan pentas politik – hukum – agama – media dan intrik-strategi-jurus pamungkas para tokoh penting di belakang aneka peristiwa akhir-akhir ini di tanah air. Setelah sidang pengadilan Ahok yang panjang, di dahului sebelumnya sidang pengadikan Jesica Wongso, agaknya media sangat berharap Rizieq bakal menjadi lakon di pengadilan berikutnya. Mudah dibayangkan betapa menarik kasus itu. Bila sebelumnya sekadar pengadilan atas tuduhan pembunuhan yang tampak gamblang tapi menjadi rumit begitu rupa, lalu pengadilan soal ucapan yang ditengarai menista agama yang semarak dengan para supporter masing-masing pihak, kini soal yang mestinya rapat ditutupi yaitu pornografi harus digelar.

Media masih menyimpan harapan lain, karena Rizieq juga diadukan atas beberapa persoalan lain, termasuk yang terakhir laporan sekelompok masyarakat Bali tentang penistaan agama di sana. Dengan kata lain, media tidak akan kehabisan bahan untuk menarik minat pembaca-penonton-pendengar yang akan terus berlomba-lomba menyampaikan laporan terhangat-teraktual-terlengkap-terheboh dan ter-ter yang lain. Intinya, media (mainstream media khususnya) tidak akan kehilangan khalayak lalu gulung-tikar karena kalah bersaing dengan media sosial – media online.

***

Kembali ke soal kapan Rizieq pulang, nah ini yang tetap menjadi misteri. Lalu soal pulang atau tidak pulang, apa untung-ruginya bagi media?

Bila Rizieq segera pulang maka bahan berita menjadi jelas dan mudah dikonfirmasi maupun kroscek. Yang jadi bahan berita bukan saja dari para pengacara, tapi langsung pada tokoh utamanya. Tentu termasuk berita di kepolisian atau di pengadilan, dan masih ditambah lagi dengan pemberitaan mengenai langkah-langkah apa yang dilakukan FPI maupun konon pengerahan massa-nya. Kalau jumlah massa yang terkumpul sampai tujuh juta lagi, atau lebih, maka media akan kembali panen raya: berita, laporan, ulasan, wawancara studio, hingga siaran langsung kehebohan baru itu.

Mungkin kali ini media akan lebih detil melaporkan tentang pengerahan massa itu, dari mulai persiapan pendataan peserta, pembuatan spanduk, yel-yel, bahan orasi, hingga penyiapan pakaian yang dikenakan. Pasti juga dilaporkan mengenai persiapan bus-bus, konsumsi maupun akomodasi, logistik dan uang saku, serta terutama siapa saja penyandang dananya.

Sebaliknya, soal pulang atau tidak pulang apa untung-ruginya bagi Rizieq? Sebetulnya ketika Rizieq menyatakan hendak melakukan umroh, pasti ada saja awak media yang menduga=duga bahwa yang bersangkutan akan menghindar dari persoalannya di tanah air. Dan dugaan itu tidak meleset. Setidaknya sampai sekian lama, beberapa minggu atau bulan, Rizieq hanya diceritakan sedang berada di Arab Saudi atau di Malaysia. Alasannya umroh, kemudian menyelesaikan studi program doktoralnya, namun yang terakhir karena alasan adanya kriminalisasi ulama.

Keuntungan tidak pulang bagi Rizieq Shihab jelas besar. Di luar sana Rizieq dapat sejenak beristirahat dari aktivitas yang padat, ketat dan melelahkan. Mungkin di sana baru dapat merenung kembali langkah-langkah apa yang sudah dan belum dilakukan dalam program FPI. Namun bukan tidak mungkin ia memanfaatkan untuk melakukan re-negoisasi dengan sejumlah partner yang selama ini menjadi penyokong dana, pendukung secara politik dan hukum, para pengerah massa, maupun para simpatisan yang sebagian besar tidak bersedia dimunculkan ke publik jati dirinya.

Kalau selama ini muncul bantahan bahwa segenap kegiatan massa pada Pilakada DKI Jakarta lalu semata untuk mengalahkan Ahok dan memenangkan Anies, maka sekaranglah saatnya untuk membuktikan bahwa hal itu tidak benar. Karena itu harus ada agenda lain yang tak kalah krusial yang harus diangkat. Dan untuk itu para pendukung-penyokong dan simpatisan perlu dirangkul kembali. Dipompa semangat dan nalar heroiknya agar tidak kendor sampai tujuan akhir tercapai. Entah itu tujuan FPI atau kelopok parpol tertentu, khususnya terkait dengan hajatan besar 2019 mendatang.

Lalu ruginya? Tanpa disadari lambat-laun peran FPI (yang sudah dirintis begitu lama) akan semakin terpuruk. Imam besarnya tidak ada di tempat, maka aktivitas organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pelan tapi pasti FPI akan tinggal nama. Bahkan bila tanpa dikendalikan pimpinan dan salah-salah bergerak, nasibnya akan sama seperti HTI, dibubarkan.

Hal lain yang merugikan bila Rizieq tidak pulang, yaitu terus bergulirnya anggapan sebagian kecil (atau besar) warga masyarakat bahwa ulama besar itu memang benar terlibat chat porno yang sangat memalukan, yang diungkap pihak lain (belum tertangkap) dan dijadikan konsumsi umum.

***

Dari kepentingan media, meski Rizieq tidak akan pernah pulang kembali ke tanah air, beritanya akan terus mengalir deras dan bertubi-tubi sampai jenuh. Atau sampai ada berita lain yang dinilai lebih layak jual. Ya, tentu saja media membutuhkan berita apa saja yang bernilai jual agar tidak ditinggalkan pengiklan dan khalayaknya.

Dan memang, sekali lagi, kabar kepulangan Rizieq Shihab pada Ahad ini dibantah oleh dua orang pengacara Rizieq, serta Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya. Kabar itu hoax. Jadi jangan dulu berharap Rizieq pulang, tunggu sampai kedua pangacara itu memberitahu ke media, seperti janji mereka.

Terkait dengan berbagai pemberitaan besar di tanah air, dalam hal kerja profesional awak media sendiri kiranya mereka perlu benar-benar mengevaluasi kinerjanya. Karena semata memburu iklan dan khalayak maka hal yang sangat mendasar dimungkinkan terlepas, yaitu tanggung-jawab media untuk tidak justru menjadi provokator sehingga mengabaikan keutuhan NKRI dan menjadikannya ibarat ‘telur di ujung tanduk’. Bila beberapa waktu lalu ada media yang melakukan hal demikian (dan kemudian menyadarinya dengan baik) kinilah saatnya untuk berbenah. Jangan sampai nanti justru gebuk yang didapat. Kenapa? Ingat, lepas dari ketentuan dalam praktek jurnalistik yang harus dipatuhi (sisi ideal dan moral) maupun adanya pertimbangan sisi bisnis, sebagian media dimiliki oleh tokoh partai politik yang pasti punya agenda sendiri (dan boleh jadi tersembunyi).

Tunggu, dan sabar! Seperti menunggu saat berbuka puasa, harus sabar sambil memperbanyak amal-ibadah yang wajib maupun sunah. Mengingatkan kembali, ibadah shaum menjadi satu-satunya ibadah yang memerlukan komitmen kuat untuk melaksanakannya. Landasannya yaitu keimanan, sasarannya yaitu ketakwaan individual.

Nah, jika adzan maghrib sudah digemakan (soal kepastian hingga menit dan detiknya pun jangan sampai dipecundangi hoax), itulah saatnya waktu berbuka tiba. . . . .!

#ArtiRamadhan

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/news/read/108487/pengacara-pastikan-informasi-kepulangan-rizieq-besok-hoax/2017-06-10#sthash.Xic4Z7eN.dpuf

http://www.suara.com/news/2017/06/11/000410/beredar-surat-pengamanan-jelang-kepulangan-rizieq-asli

Gambar : http://www.harianamanah.id/berita-tiba-di-madinah-habib-rizieq-umrah-karena-inisiatif-sendiri-bukan-undangan-raja-salman.html

Share.

About Author

Pensiunan. Menulis untuk merawat ingatan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage