Mempertanyakan Relevansi Hadist-hadist yang Sering dishare di Sosmed

Mempertanyakan Relevansi Hadist-hadist yang Sering dishare di Sosmed

3

Dengan teknologi informasi yang begitu cepat, urusan share meng-share juga sangat cepat, bahkan amat sangat mungkin banyak orang yang suka share tulisan tapi belum membaca kecuali hanya judulnya sudah langsung dibagikan.

Artinya yang mengshare sudah mengambil keputusan lebih dulu sebelum dipikirkannya, share dulu pikir belakangan, kalau sudah terlanjur share apalagi yang bisa diharapkan kecuali maaf?, bagaimana kalau maaf itu telat dibandingkan dengan efek yang disharenya?, yahh…tutup mata saja.

Bahkan ketika setelah membaca juga perlu dipikirkan sebelum dishare, apakah ini bermanfaat atau tidak?, apa benar ini tulisan telah menggunakan data yang valid?, ada banyak pertanyaan lain yang seharusnya dilontarkan, kalau ternyata hal itu belum membuka tabir berpikir, maka memang saat itu pilihan yang terbaik adalah diam dulu. Bukankah itu lebih baik?

Namun, jika ada postingan yang ternyata bisa berdampak buruk misalnya ideologi ISIS yang anti pancasila dan aksi-aksi intoleransi yang sudah memuakkan, serta data-datanya sudah sangat jelas dan sangat nyata, bukti dan data-data sudah dengan mudah didapatkan, maka diam di sini bukan pilihan tepat.

Maka hadist dari Imam Ali yang berbunyi seperti ini : “jangan mengira diamnya seseorang karena tidak peduli, mungkin saja ia sedang melawan dirinya sendiri.“, dan sering dishare oleh teman-teman, setahu saya pastilah ada situasi yang relevan dengan hadist ini, tidak sapu rata, mungkin saja ada orang yang lagi diam karena lagi mikirin utangnya yang harus segera dibayar, sementara sudah bekerja keras tapi hasilnya belum maksimal sehingga duit buat bayar utang belum juga siap. Sementara di tempat lain ada hadist Imam Ali yang berkenaan dengan utang, juga ada di dalam Al-Qur’an suarat Al-Baqarah ayat 283.

Keadaan roda ekonomi zaman dulu dengan sekarang tentu jauh berbeda, kalau dulu masih banyak lahan-lahan yang bisa dikelola untuk berkebun atau bertani misalnya, maka sekarang perhatian bisnis banyak menggunakan teknologi, kalau dulu bayar utang harus ketemu orangnya dan membawa fisik uangnya, maka sekarang dengan gadget tanpa perlu membawa fisik duitnya bisa langsung melunasi utang atau tagihan.

Kalau dulu jumlah pengutang tidak terlalu banyak dan perputarannya statis atau mudah dihitung, sekarang.. wow.. kalau saya bayangkan bagaikan loncatan angka-angka di angkasa yang begitu cepat. Maka berutang sudah menjadi hal biasa. Akan tetapi gejolak ekonomi iramanya bisa seperti politik, apalagi bagi mereka yang bermain saham tentu tak terbayang bagaimana kusuknya rambut jika prediksi meleset. Maklumlah “Tukang goreng” saham sering beraksi.

Meski demikian ada perbedaan, tetap saja bisa dinamai utang. Akan sangat disayangkan jika perbandingan jumlah pengutang lebih banyak dibandingkan dengan perjalanan usaha yang lancar atau sukses tidak seimbang, maka ini bisa dibilang kredit macet, belum lagi perubahan drastis dari suatu usaha yang lingkupnya besar tiba-tiba harus berhenti beroperasi maka makin menambah kusuknya rambut kepala, lihat saja kasus tutupnya sevel. Nah, bagaimana kalau ada karyawan yang saat bekerja sudah mencicil sepeda motor atau kredit rumah subsidi?, kalau tempat ia bekerja sudah tutup, lalu bagaimana ia bisa lancar membayar tagihan-tagihannya?. Dalam taraf kegalauan ini muncullah asumsi “Hutang itu adalah perangkap”.

Baiklah, kita kembali tentang relevansi hadis yang saya terima dari group Whatsaap, seperti :

Imam Ali as berkata,

Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya, sibuklah dengan diri kalian, perbaikilah aibmu, karena kamu kelak akan ditanya tentang dirimu, bukan tentang orang lain.

Apakah hadist ini berlaku buat para detektif?, para peneliti dan juga yang bekerja di lingkup intelejen negara?, dan bagaimana dengan para politisi yang misalnya sedang bertarung di pilkada lalu sibuk menilai rivalnya?, atau katakanlah dalam debat ada kecenderungan untuk “menelenjangi” lawannya agar bisa mendulang suara terbanyak?

Namun sepertinya, hadist-hadist seperti ini perlu penjelasan dari para pakar agama, yang berkompeten, bisa saja dengan hadist yang disodorkan ini adalah upaya untuk mengskak suatu lawan diskusi atau juga pembenaran diri, misalnya kalau ada tersangka di pengadilan, atau ketika proses pemeriksaan, calon tersangka bisa saja menggunakan hadist ini agar tidak diperiksa heheehe, tapi sayangnya.. hukum di Indonesia sudah ada pasal-pasal tersendiri yang sudah tersusun, bukan berarti tidak sejalan dengan nilai-nilai agama.

Kehidupan manusia yang dirasakan kompleks dan beragam ini, menyelesaikan suatu persoalan tidak sesederhana mengirimkan atau share hadist begitu saja. Malah terkadang hadist yang dishare hanya sebagai hiasan agar bisa mendapatkan like yang banyak ataupun bisa eksis sebagai ekspresi kepedulian, tentu saja orang-orang yang kelaparan di Palestina tidak akan banyak terbantu hanya share hadist di group-group atau social media.

Kendati pun demikian, saya yang belum punya kemampuan menyelesaikan banyak persoalan termasuk persoalan Palestina tentunya hanya bisa berdoa sementara ini. Karena doa saya percayai sebagai pembangkit alam bawah sadar untuk bisa sadar, sadar bagaimana sebenarnya sistem kehidupan ini dirancang dan bagaimana peran mereka yang telah membuat pincangnya sistem ekonomi yang seharusnya berjalan sesuai sunnatullah?

Dan mungkin pembaca ada pertanyaan yang terlintas di benaknya ketika menerima share-share dari group, pertanyaan minimalnya “Siapa orang ini yang suka share hadist-hadist?, apakah dia sendiri yang menyusun hadist ini ataukah ia juga hanya share dari share-share yang didapatkan?”, dan pertanyaan ekstrimnya mungkin bisa begini “Apakah orang yang share ini sudah mengamalkan kutipan hadist ini?, apakah orang ini adalah benar-benar orang baik di kehidpuan nyata? Atau hanya sekedar kebaikan share saja di group?”

Lagi-lagi itu hanya asumsi, dalam ilmu epistemologi itu masih bermain diranah pikiran, artinya masih bisa digali lagi informasi-informasi atau apa yang ditangkap oleh panca indera itu untuk kemudian merumuskan langkah apa yang seharusnya dilakukan dalam menanggapi setiap fenomena yang terjadi saat ini. setiap postingan yang lalu lalang di social media tidak bisa langsung dinilai sebagai kebaikan sejati, bisa saja itu digunakan sebagai alat untuk menghabiskan waktu khalayak agar terlena, menghabiskan waktunya di depan gadget, sementara waktu yang sangat singkat ini terus beranjak, maka pahala-pahala apa yang bisa dikumpulkan untuk bekal setelah meninggal dunia, jika sebagian besar waktu hanya dihabiskan di depan gagdet?, sementara kehidupan sosial yang nyata dalam lingkup aksiologi adalah ladang pahala yang bisa digarap?.

Jadi, ada yang mau mendapatkan pahala?, bayarin dong utang saya, atau modalin dong usaha online (kalau ini memang modus) wkwkwk…

Namun bagaimana pun, saya masih percaya dengan konsep kebaikan, namun semua itu ternyata tidak berhenti di tulisan hadist-hadist yang dishare, percuma saja koleksi hadist-hadist hasil share yang banyak kalau hanya untuk dikatakan sebagai orang baik atau bisa eksis, karena kebaikan sejati tidak mengumumkan dirinya dengan colekan hadist, tapi seberapa besar merancang cara berpikir agar terbebas dari asumsi-asumsi negatif (gagal paham), ataupun tidak terperangkap dari situasi dunia online.

Mmhh… jadi kepingin share juga hadist berikut ini,… saya ingin memikirkannya dulu, dan mungkin pembaca juga ikut memikirkannya, karena bentuknya seperti dialog, atau bercerita, dan biasanya seperti ini menarik, atau mudah-mudahan nanti ada pakarnya yang bisa menafsirkan dan menyampaikannya…

Imam Ali as berkata, “aku tidak pernah berbuat baik untuk orang lain, dan tidak ada orang yang pernah berbuat buruk kepadaku.

Para sahabat terheran dan bertanya, “wahai imam, bukankah engkau telah banyak berbuat baik kepada orang lain dan begitu banyak orang yang telah berbuat buruk kepadamu.”

Mendengar pertanyaan sahabatnya, Imam tersenyum kemudian berkata,

Tidakkah kalian membaca firman اَللّهُ swt

Allah SWT berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidilaqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra’: Ayat 7)

Tambahan, baru ingat ada juga yang share quote hadist berikut ini, layak dipikirkan terutama yang ada kata “Diam” nya..

 “Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”

 “Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

Share.

About Author

Salto (salam Toleran)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage