Wahai Bani Sumpek, Ernest yang Kamu Boikot Malah Semakin Cetar!

Wahai Bani Sumpek, Ernest yang Kamu Boikot Malah Semakin Cetar!

36

Ya, semakin cetar. Itulah pandanganku terkait sosok Ernest Prakasa. Belum lama ini, Ernest sempat diboikot oleh bani sumbu pendek alias sumpek, lantaran salah satu ­twit-nya yang menyenggol-nyenggol seorang Zakir Naik. Ernest pun kemudian melontarkan permintaan maaf, karena merasa cuitannya tersebut kurang berdasar. Namun yang namanya bani sumpek, semangat untuk memboikot tak pernah padam. Ujaran boikotpun tak semata ditujukan kepada Ernest. Melainkan juga produk jamu yang diiklankannya. Hadeehh.

Cek Toko Sebelah, film terbaik IBOMA 2017. Source: liputan6.com

Kenapa Ernest Prakasa semakin cetar…? Begini. Tadi malam aku menyempatkan menonton acara Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2017, yang diselenggarakan oleh SCTV. Di gelaran penghargaan untuk insan-insan perfilman tersebut, film kedua Ernest yang bertajuk Cek Toko Sebelah, menjadi film box office terbaik. Tidak cuma merebut predikat film terbaik. Ernest juga menggondol perhargaan sebagai penulis skenario terbaik.

Waaooww…, bagaimana tidak cetar, heehh…?!   

Ya, perhelatan IBOMA 2017 semalam, seolah menjadi pesta bagi film Cek Toko Sebelah. Bagaimana tidak…? Selain sebagai film dan skenario terbaik, Cek Toko Sebelah juga mencuri empat piala lainnya. Mereka adalah aktris pendukung terbaik, yaitu Asri Welas. Lalu poster film terbaik. Aktor pendatang baru terbaik, yakni Gisella Anastasia (sinden Opera Van Java). Dan aktor pendukung terbaik, atas nama Chew Kin Wah. Uniknya, Chew Kin Wah ini ternyata seorang aktor Malaysia.

Mengagumkan. Itulah yang kurasakan ketika film Cek Toko Sebelah berhasil menjadi yang terbaik di ajang IBOMA kemarin. Perlu diketahui, ajang IBOMA mempunyai standar yang berbeda, bila dibandingkan dengan festival penghargaan film lainnya. Syarat mutlak sebuah film bisa menjadi kandidat di IBOMA, film tersebut haruslah box office. Film yang berhasil meraup jumlah penonton yang signifikan.

Kemenangan Cek Toko Sebelah di gelaran IBOMA 2017 barusan, semakin membuatku terkesan. Kala melihat Ernest Prakasa yang terbata-bata, dan menahan tangis, ketika hendak menyampaikan winning speech. Satu kalimat yang membuatku merinding adalah:

Indonesia itu beragam. Bukan seragam…

Sungguh, kalimat ini benar-benar bernyawa bagiku. Barangkali ini menjadi suara hati dari seorang Ernest Prakasa. Dimana ia merupakan bagian dari masyarakat keturunan tionghoa. Sebuah entitas yang belakangan menjadi begitu sensitif. Terutama terkait isu dikotomi pribumi dan ‘keturunan’, yang berhembus semakin mengkhawatirkan. Sebuah isu yang ditelan mentah-mentah oleh segenap bani sumpek. Ya Allah gusti…

Kemenangan Ernest Prakasa dan film Cek Toko Sebelah ini, seakan membungkam mulut-mulut bani sumpek yang sempat memboikotnya. Bagaimana alur cerita Cek Toko Sebelah, sanggup memikat para dewan juri IBOMA, dan mengganjarnya sebagai film terbaik. Pasti ada sesuatu yang menonjol dari film ini, hingga membuatnya unggul dari nominasi lainnya.

Dari pidato kemenangan yang diutarakan oleh Ernest, tujuan komika ini terjun ke dunia layar lebar sebenarnya simpel. Dia ingin mengangkat cerita mengenai etnis-etnis yang ada di negeri ini. Ya, nusantara yang bernama Indonesia ini, adalah multietnis. Indonesia bukan hanya Jawa, Sunda, atau Batak. Tetapi ada ratusan etnis lainnya yang turut berhak mengenakan atribut sebagai ‘orang Indonesia’. Tidak terkecuali etnis peranakan yang merupakan minoritas.

Poster film Cek Toko Sebelah. Source: tabloidbintang.com

Tetapi nyatanya, juri IBOMA berpandangan lain. Cek Toko Sebelah tiba-tiba muncul sebagai kejutan! Tidak hanya meraih sejumlah penghargaan untuk individu. Cek Toko Sebelah malah menjungkalkan prediksi banyak orang. Film yang bercerita seputar kehidupan warga keturunan tionghoa ini, sukses memikat para juri, dan mencuri predikat paling prestisius: film box office terbaik. Mengalahkan AADC 2, Rudi Habibie, dan Warkop DKI Reborn.

Munculnya Cek Toko Sebelah sebagai film terbaik di IBOMA, menjadi kado yang sempurna untuk momen Hari Film Nasional yang jatuh hari ini, 30 Maret 2017. Ya, peringatan hari film nasional tahun ini, mengangkat tema merayakan keberagaman Indonesia. Tema yang sangat relevan dengan situasi kebangsaan saat ini.

Selamat ya Koh Ernest…!

 

Kecetaran Ernest Prakasa yang Membalikkan Boikot dari Bani Sumpek

Sejujurnya, aku pribadi awalnya tidak begitu memperhatikan seorang komika yang bernama Ernest Prakasa ini. Komika atau stand up comedian yang familiar bagiku, adalah Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Cak Lontong. Walaupun Metro TV dan Kompas TV menghadirkan acara stand up comedy, tetapi aku belum begitu tertarik untuk menikmatinya.

Barulah pada 2015, tatkala Indosiar menyelenggarakan Stand Up Comedy Academy (SUCA), aku baru tertarik untuk menonton acara stand up comedy di layar televisi. Di gelaran SUCA 2015 itulah, aku baru mengetahui sosok Ernest Prakasa ini. Dia didaulat menjadi salah satu juri pada kompetisi yang menjadi spin dari Dangdut Academy tersebut.

Kupikir Ernest cuma seorang komika. Tetapi aku salah. Seusai gelaran SUCA, Ernest mengikuti jejak Raditya Dika, untuk menjajal dunia perfilman. Di akhir 2015, muncul film pertama besutan Ernest: Ngenest. Dan ternyata, film ini berdasarkan buku karyanya sendiri. Ernest tidak hanya berperan sebagai aktor. Dia juga merangkap sutradara, dan penulis skenarionya. Toplah…!

Ernest memenangi penulis skenario terbaik IBOMA 2017. Source: bintang.com

Kemenangan yang diraih Ernest melalui Cek Toko Sebelah, seolah menjadi back to back. Ya, pada perhelatan IBOMA 2016, Ernest juga meraih penghargaan penulis skenario terbaik, lewat film pertamanya, Ngenest. Dan itu diulangi lagi, pada IBOMA 2017 barusan. Sungguh mengesankan…!

Tidak hanya ajang IBOMA yang memberikan tempat terbaik untuk Ernest Prakasa. Tercatat, pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2016 lalu, Ernest juga mendapatkan nominasi sebagai penulis skenario adaptasi terbaik, lewat Ngenest. Tetapi, piala Citra itu belum menjadi rezeki Ernest. Dia kalah dari Salman Aristo dan Riri Riza, yang memenangkan Citra melalui skenario film Athirah. Sebuah film yang bercerita tentang kehidupan ibunda dari wakil presiden Jusuf Kalla.

Namun kekalahan Ernest di FFI 2016 lalu, seperti terbayar lunas lewat ajang IBOMA kemarin. Ernest kembali meraih predikat penulis skenario terbaik. Dua tahun berturut-turut. Dan sekarang, tampaknya Ernest sedang menantikan kejutan yang bakal dihadirkan Cek Toko Sebelah, dalam ajang FFI 2017, di akhir tahun nanti.

Indonesia memang memerlukan film-film layar lebar seperti Cek Toko Sebelah. Sebuah film yang mampu memberikan kesan. Sebuah film yang harapannya dapat membuka mata, bahwa Indonesia ini adalah masyarakat yang majemuk. Sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Film adalah satu produk budaya. Salah satu media yang mujarab, untuk mendokumentasikan sebuah situasi kemasyarakatan.

Ernest Prakasa memanglah manusia biasa. Dia juga bisa khilaf. Selain isu terkait Zakir Naik, Ernest juga pernah dihujat pada 2014 lalu. Kala mengunggah foto yang sedang menginjak gambar petinggi PKS, Anis Matta. Tetapi kalau aku pribadi, aku cukup memahami. Kenapa Ernest bisa melakukan hal-hal seperti itu. Keep going Koh…!

Wahai bani sumpek…? Seorang Ernest Prakasa yang kalian hantam dan kalian boikot saja, telah memberikan ‘sesuatu’ untuk negeri ini. Apakah kalian semua tidak malu…? Apa yang bisa kalian lalukan, selain menyebarluaskan kebencian di media sosial, heehh…?! Apa yang bisa kalian lakukan, selain mencoba meng-hack akun pribadi orang lain, yang berbeda pandangan dengan kalian…?! Pengalaman yang baru saja kurasakan.

Share.

About Author

A history - TV shows - politics - general issues - media's freak. Non partisan. Udah, gitu aja.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage