Ahok: Teguran Bagi Minoritas

Ahok: Teguran Bagi Minoritas

16

Melihat keputusan Hakim untuk kasus Ahok dinyatakan bersalah dan dipenjara 2 tahun membuat semua kalangan minoritas di NKRI ini terenyuh dan tidak sedikit yang menjadi apatis dan lesu. Bahkan muncul opini bagi warga NKRI yang di luar negeri untuk tidak kembali ke Indonesia (https://seword.com/politik/ahok-dipenjara-pulang-indonesia/).

Saya sendiri sering mendengar beragam keluhan dari rekan-rekan yang minortitas seperti Ahok (baca: Cina dan Kristen), yang sering ditekan, diperlakukan tidak adil, dan sebagainya. Memang banyak hal tersebut merupakan sebuah fakta. Dan apalagi puncaknya ketika seorang Ahok yang notabene seorang pejabat publik dengan segudang prestasi: bersih, humanis, mengasihi orang-orang miskin dan lemah, pekerja keras demi kemajuan kotanya, akhirnya harus masuk tahanan, semakin membuat masyarakat yang minoritas menjadi seolah-olah tidak memiliki pengharapan untuk hidup dan menikmati kehidupan di negeri ini.

 

Sebuah Teguran

Namun saya ingin melihat dari perspektif lain di balik semua kenyataan yang ada tentang penderitaan kaum minoritas. Ahok dengan segala sepak terjangnya dalam perpolitikan Indonesia mulai dari bawah hingga menjadi orang nomor satu di Jakarta dan akhirnya menjadi orang terkenal di seluruh dunia, sesungguhnya memberikan teguran bagi kita yang minoritas.

Sebagai seorang etnis Cina, tentu Ahok telah mengalami berbagai macam terpaan dan serangan yang mendiskreditkan dirinya untuk akhirnya tidak usah mengurusi dan campur tangan terhadap masalah negeri ini. Kita semua sudah sering mendengar cerita dari Ahok sendiri bahwa dahulu adalah pengusaha (seperti kebanyakan etnis Cina lainnya) namun ditekan oleh pemerintah yang berkuasa hingga mengalami kesulitan dalam usaha. Namun apakah Ahok menyerah?

Tidak! Dia justru melangkah untuk lebih tinggi yaitu menjadi pejabat namun dengan motivasi yang berbeda sama seperti sebelumnya ketika menjadi penguasa dia banyak menolong orang lain. Ia menjadi pejabat agar dengan mudah untuk menolong sebanyak mungkin orang lain.

Adakah Ahok menggurutu, menyesal, sedih karena dia minoritas sebagai etnis Cina?

Sama sekali tidak! Dalam sebuah tayangan adik Ahok (yang sekaligus adalah pengacaranya) Fify Lety Indra pernah menceritakan bagaimana amanat ayah mereka  ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, di mana mereka bisa dengan mudah untuk pindah keluar negeri dan hidup nyaman, namun perintah dari ayahnya mereka harus tetap di Indonesia karena negeri ini adalah tempat kelahiran mereka, tempat di mana mereka hidup dan menikmati kehidupan, untuk berbakti dan mengabdi. (https://www.youtube.com/watch?v=Eupe4KtnDPA).

Ahok tidak mengeluh, bahkan tidak melarikan diri, ketika rekan sesama etnisnya diperlakukan tidak manusiawi pada kerusuhan Mei 1998 tersebut. Ia tetap berada di Indonesia, dan terus berjuang untuk memajukan bangsa ini. Ahok menunjukkan betapa dirinya adalah seorang pejuang dan pekerja keras. Ahok memberikan teladan kepada banyak etnis Cina lainnya untuk bekerja dengan tulus dan jujur walau banyak menerima balasan yang tidak setimpal.

Lalu apakah Ahok menyesal karena dia seorang Kristen?

Sekali lagi tidak! Lihatlah betapa taatnya dia sebagai seorang Kristen (baca: pengikut Kristus), tanpa harus mengkompromikan imannya, dengan rajin dia menolong orang-orang lain yang beda iman dengannya karena bagi dia mereka adalah saudaranya. Betapa banyak dia menolong saudara-saudaranya yang muslim, ketika menjadi pejabat mendirikan mesjid, mengumrohkan banyak orang, menolong orang sakit dan miskin, tanpa melihat perbadaan iman.

Ahok tidak menyerah ketika karena keminoritasan agamanya dijadikan alat untuk menjatuhkan dia dalam pertarungan politik. Lihatlah dia terus berjuang untuk menjadi calon gubernur mulai dari independen hingga akhirnya diusung partai politik. Walau akhirnya dia harus kalah, dia menerima dengan lapang dada. Walau akhirnya dianiya karena dia seorang Kristen yang dituduh menistakan agama Islam, dia menerimanya dengan tabah.

Betapa Ahok menunjukkan dia adalah seorang Kristen yang benar-benar memancarkan sifat dan karakter Kristus. Dia menghormati hukum negara ini, dia rela masuk penjara walau sadar dia tidak salah, dia tidak mengumpat dan marah karena keputusan hakim, dia tidak minta diperlakukan khusus ketika berada di dalam tahanan. Mengapa? Karena dia benar-benar percaya dengan Firman Allah yang ada dalam Kitab Suci (https://seword.com/spiritual/ahok-memulai-kehidupannya-di-penjara-dengan-alkitab/).

 

Minoritas Yang Menjadi Mayoritas

Bagaimana denan kita? Apakah kita tidak merasa tertegun dan tertegur dengan apa yang sudah Ahok kerjakan sebagai minoritas bagi bangsa ini? Wahai rekan dari etnis Cina, tidakkah semua perjuangan Ahok memotivasi kalian untuk ikut berjuang bagi bangsa yang morat-marit ini? Tidakkah semangat petarung dan kerja keras Ahok menular kepada kita semua demi NKRI?

Wahai engkau rekan-rekan Kristiani (termasuk saya sendiri), tidakkah Ahok memberikan teladan luar biasa, di mana imannya, ketaatannya kepada Kristus memberikan dia semangat, kekuatan, hati yang luas untuk melayani bangsa ini? Ketekunannya membaca dan mempelajari Kitab Suci telah memberikan dia hikmat dan bijaksana untuk membangun Jakarta dan masyarakatnya. Lalu mengapa kita sering mengeluh sebagai minoritas?

Sudah saatnya kita yang minoritas jangan lagi menjadi rendah diri, diam, apatis, dan akhirnya tak berpengharapan terhadap bangsa ini. Siapapun kita yang minoritas entah etnis Cina atau agama Kristen atau suku dan agama lainnya,  seperti Ahok, mari ambil bagian untuk membangun bangsa ini. Saya yakin kita punya kapasitas dan kapabilitas masing-masing yang dapat saling mengisi.

Seperti Ahok yang terjun dalam dunia politik karena dia yakin dia memiliki talenta di sana untuk diabdikan kepada negaranya, demikianlah kita yang memiliki talenta dalam bidang apapun kerjakan untuk bangsa ini tanpa harus merasa minoritas. Semangat dan jiwa seorang Ahok harus menular bagi semua apalagi yang minoritas. Saya sendiri, sesuai bidang saya di seni musik akan berjuang untuk menciptkan harmoni indah bagi negeri ini, mencerdaskan (bukan sekedar menghibur) masyarakat dengan musik yang indah, karena semangat dan perjuangan Ahok patut diteruskan.

Ketika yang minoritas dapat memberikan sumbangsih penting bagi negara ini, memberi pengaruh postif bagi kehidupan yang lebih baik, bukankah dia telah menjadi mayoritas? Seperti Ahok yang minoritas karena suku dan agama, sekarang telah menjadi mayoritas karena pengaruhnya yang positif, di mana seluruh bangsa dan bahkan dunia angkat topi kepadanya.

Berhentilah mengeluh karena minoritas…

Share.

About Author

Choral Conductor, Music Teacher

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage