Antara Idealisme Dan Realita

Antara Idealisme Dan Realita

3

pksnongsa.org

Seperti yang dikatakan oleh Rhoma Irama dalam lagunya yang menjadi legenda, Masa muda adalah masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau kalah pun tak perduli. Ternyata lagu itu pun tidak hanya relevan pada saat itu juga, tapi sampai sekarang pun lagu itu nampaknya masih relevan untuk menggambarkan kondisi para pemuda.

Pemuda, dan idealisme. Adalah dua hal yang nyatanya tidak dapat dipisahkan. Ketika kecil, kita sudah diajari untuk bermimpi oleh orang-orang disekitar kita, baik secara sadar atau pun tidak disadari. Mimpi-mimpi itu pada nyatanya tetap ada dan dipegang sekalipun sempat bergonta-ganti. Seseorang mungkin dulu pernah bermimpi menjadi polisi karena teman-temannya juga ingin menjadi polisi. Lalu dalam waktu singkat berubah menjadi pilot, presiden, dan sebagainya karena berbagai hal. Tapi yang jelas, mimpi-mimpi itu tetap melekat dan dipegang oleh anak-anak itu hingga remaja.

Ketika remaja tiba, ada semacam dorongan dan kesadaran bahwa mereka seharusnya mewujudkan mimpi tersebut. Ketika mimpi untuk menjadi polisinya pada waktu kanak-kanak dirasa perlu untuk diwujudkan, seseorang mungkin saja memilih untuk ikut ekstrakurikuler Paskibraka ketika menginjak bangku SMP. Dengan harapan, kegiatan tersebut dapat menjadi bekal terwujudnya mimpi tersebut.

Semakin lama, dorongan untuk mewujudkan mimpi tersebut semakin besar, dan menjadi sebuah idealisme. Perlu digaris bawahi sebenarnya, bahwa mimipi yang dibawa ketika masa kanak-kanak dulu tidaklah hanya dalam bentuk pekerjaan, atau profesi. Tapi juga mimpi mengenai konstruksi sosial budaya, rupa dunia, yang dirasa seharusnya seperti itu.

Boden Powell, bapak Pramuka dari luar negeri dulu pernah bermimpi untuk membuat setiap orang dapat tersenyum tidak perduli apakah mereka kaya atau miskin. Dan pada perjalannya, mimpi tersebut menjadi sebuah idealisme yang kemudian dituangkan ke dala sebuah gerakan kepanduan, atau yang lebih dikenal sebagai Kepramukaan.

Maka dapatlah kita simpulkan, bahwa sebenarnya, disadari atau tidak, semua orang memiliki idealismenya sendiri-sendiri, terutama bagi kaum pemuda yang memiliki hasrat tinggi dan keunikannya dalam melihat dunia dari sisi lain. Namun sayangnya, idealisme itu sendiri pada dasarnya adala sebuah khayalan. Konstruksi pikirannya sendiri dan bersifat maya. Atau oleh sebagian orang yang pesimis, dianggap sebagai Halusinasi!

Dan sebagaimana halusinasi-halusinasi lainnya. Seringkali idealisme sangat berbanding terbalik dengan realita. Kedua hal tersebut, Idealisme dan Realita seringkali berbentrokan dan sering membuat pemilik idealisme menjadi kebingungan, bahkan stress. Ketika sebuah keinginan dirasa sulit sekali terwujud karena terbatasnya fasilitas yang ada di sekitar kita.

Nabi Muhammad dulu, memiliki idealisme untuk menyiarkan agama Islam dan membuat dunia lepas dari budaya kebodohan. Namun idealisme tersebut nyatanya tidak didukung dengan realitas yang ada. Ternyata banyak sekali masyarakat yang menolak bahkan membenci isi dari idealisme Nabi Muhammad. Pada kenyatannya, beliau sendiri memiliki keterbatasan komunikasi untuk menyampaikan gagasannya kepada masyarakat.

Bukan hanya perihal komunikasi. Beliau juga mengalami keterbatasan dalam hal mental, sehingga seringkali merasa sedih ketika menerima banyak cacian, hujatan, ancaman, dan fitnahan. Bahkan beliau juga memiliki keterbatasan fisik sehingga sempat sakit. Belum lagi perihal perokonomian beliau. Buru-buru menyiarkan idealisme. Memberantas kebodohan, lawong beliau saja saat itu kesulitan mendapatkan makanan. Tidur dan berpakaian seadannya, dan hidup menderita jauh dari kata mapan.

Betapa tak tertanggungnya keironisan realita terhadap idealisme Nabi Muhammad pada saat itu. Seakan-akan idealismenya pada saat itu tidak akan pernah terwujud. Tapi kenyataannya apa sekarang? Idealisme  yang dulu dianggap guyonan oleh masyarakat kini menjadi sebuah realita yang tak terbantahkan. Sehingga menempatkan Nabi Muhammad menjadi tokoh berpengaruh nomor satu versi Michael Heart.

Idealisme adalah mimpi, mimpi adalah prinsip, dan prinsip adalah janji. Seringkali kita meninggalkan semua itu karena tidak tahan dengan realita yang ada. Seseorang yang memiliki idealisme akan persahabatan yang tidak terbatas pada lahiriah seringkali mengurungkan idealismenya karena teman-teman yang menertawakannya. Menganggapnya sebagai seseorang yang egois, pengkhayal, dan kritikus tak bermoral.

Apakah begitu? Haruskah kita mengubur dalam-dalam idealisme kita ini dan membiarkan dunia mengatur kita? Cobalah tengok kisah Nabi Muhammad di atas. Idealisme yang hebat tentu membutuhkan perjuangan yang hebat pula. Pada kenyataannya, dunia dapat terbentuk karena idealisme orang-orang yang hebat. Yang kukuh pada prinsipnya tanpa memperdulikan pandangan dan cacian orang lain.

Maka alangkah menyedihkannya ketika kita justru harus mengubur idealisme dalam-dalam dan membiarkan kita hidup di dunia yang dibentuk oleh idealisme orang lain. Kita punya hak untuk hidup di dunia kita sendiri, yang kita bentuk sesuai idealisme kita. Idealisme adalah hak, dan kesejatian akan hidup. Idealisme adalah identitas, siapa diri kita sebenarnya. Lalu jika sudah demikian, sampai kapan kita harus menyembunyikan jati diri kita, dan membiarkan orang lain menentukan siapa kita seharusnya. Jika sudah demikian, buat apa kita menjadi manusia. Yang demikian tentu hanya diperuntukkan mesin, dan kita bukan. Jika kita punya mimpi, idealisme, gagasan dan pandangan lalu tidak mewujudkan, lalu untuk apa sebenarnya kita hidup?

Jangan takut untuk memegang prinsipmu kawan, sekalipun engkau dicaci dan dimaki. Idealisme yang kamu bawa, bukan tentang benar atau salah. Tapi apakah itu membawa jati dirimu atau bukan. Matahari akan tetap membakar diri sekalipun ribuan manusia mencaci, karena itu sudah tugasnya. Lalu kenapa engkau tidak bertahan pada tugasmu?

Share.

About Author

Politikus Kecil Pecandu Kopi

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage