Buya Syafi’i Maarif, High Thinking Low Living, Teladan bagi Generasi Muda Indonesia

Buya Syafi’i Maarif, High Thinking Low Living, Teladan bagi Generasi Muda Indonesia

15

Pagi tadi, subuh-subuh benar, ada seorang tua yang berusia 82 tahun bergegas berangkat dari tempat penginapan di kawasan Kuningan, Jaksel menuju stasiun KRL Tebet. Seorang yang dikenal sebagai mantan ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-13 ini memberikan sebuah teladan bagi kita, khususnya para generasi muda yang terlalu manja. Ia adalah seorang ulama, ilmuwan, dan pendidik Indonesia.

Selain Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, ia juga pernah menjadi President World Conference on Religion for Peace. Pendiri Maarif Institute ini tidak hanya dikenal sebagai tokoh Islam, melainkan juga seorang tokoh nasionalis yang berkomitmen kebangsaan yang sangat tinggi. Sifat pluralisme yang dijunjung tinggi, kritis, dan bersahaja, membuat ia dijuluki sebagai Bapak Bangsa.

Ia tidak malu-malu mempertunjukkan kesalahan, meskipun yang dikritik itu seiman dengannya. Kadang untuk melakukan tindakan autokritik, butuh keberanian yang besar. Bukan hanya harus berhadapan dengan orang-orang yang seiman, ia harus berhadapan dengan segala kemungkinan akan dikucilkan dan diejek.

Latar belakang studi sejarah yang didapatkan dari Amerika Serikat, membuat dirinya tidak melupakan Indonesia, bahkan semakin mencintai negara ini. Selama di Amerika, ia bertemu dengan teman-temannya, yakni Nurcholis Majid dan Amien Rais.

Dua kawan ini memiliki jalan hidup yang berbeda, sangat berbeda. Setelah ia meninggalkan posisi sebagai Ketum PP Muhammadiyah, ia sekarang lebih terlihat aktif di dalam komunitas Maarif Institute, dan lebih memiliki beban dalam menangkal isu-isu radikalisme, dengan cara penguatan akan pengenalan akan Pancasila.

Di dalam kehidupannya, orang yang dilahirkan dengan nama Ahmad Syafii Maarif ini membuat kontroversi yang dianggap cukup heboh. Ia membela Ahok dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama, meskipun pada akhirnya vonis hakim mementahkan setiap pembelaan orang tua ini. Bahkan ia sempat memberikan statement yang cukup radikal di dalam membela Ahok.

“Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama sehingga harus diproses secara hukum, semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab, fatwa atau pandangan agama itu benar, sahih, jelas atau sama seperti apa yang disampaikan ahli agama, jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Perhatikan, apa terdapat penghinaan Al-Qur’an? Hanya otak sakit saja yang kesimpulan begitu, yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya, apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil, untuk kepentingan klarifikasi atas legalitas pendapat keagamaan atau fatwa tentang adanya dugaan kasus penistaan atau penistaan agama yang dilakukan oleh saudara petahana Basuki Purnama.” – Ahmad Syafii Maarif.

Akhirnya Ahok harus dipenjara, dan Buya Syafi’I Maarif harus menerima fakta ini. Lantas apakah ia memudar? Tidak! Hari ini, ia memberikan sebuah teladan yang begitu mengharukan. Orang penting ini malah naik kereta rel listrik dari Tebet ke Bogor. Apa yang ingin ia tunjukkan sebenarnya? Saya yakin di dalam sosoknya yang sederhana, tersimpan pesan-pesan yang ingin disampaikan secara tersirat.

Kesederhanaan, dan sikap independent terhadap orang lain, menjadi sebuah keteladanan yang perlu ditiru oleh generasi muda, khususnya generasi millenials. Setidaknya, apa yang ia tunjukkan hari ini, memberikan kita sebuah pandangan yang sangat baik.

Buya Syafi’i Maarif di Gerbong KRL menuju Bogor

Sikap dan tindakan “ekstrim” Buya ini rasanya sangat tepat dilakukan di tengah-tengah generasi muda yang manja ini. Rasanya tidak semua orang dapat memberikan inspirasi sehebat Buya. Saya tidak dapat membayangkan jika saya yang difoto naik KRL, tentu tidak bisa dibandingkan seorang di usia senja dan tokoh besar yang melakukannya. Terima kasih Buya sudah memberikan suri tauladan bagi kami, anak-anak muda di Indonesia. Tetap sehat dan jaga kesehatan. Semoga Buya senantiasa menjadi inspirasi bagi bangsa ini!

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut:

https://seword.com/author/hans-sebastian/

 

Share.

About Author

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan. Twitter dan Instagram @hysebastian Terbuka untuk diskusi via disqus maupun e-mail. hysebastian.seword@gmail.com. Kumpulan tulisan: https://seword.com/author/hans-sebastian/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage