Edisi Kartini: Saya Pun Pernah Melawan Paradigma “Perempuan Tidak Usah Kuliah. Karena Toh Ujung-Ujungnya Di Dapur Juga” & Budaya Kerja Yang Terlalu Kaku

Edisi Kartini: Saya Pun Pernah Melawan Paradigma “Perempuan Tidak Usah Kuliah. Karena Toh Ujung-Ujungnya Di Dapur Juga” & Budaya Kerja Yang Terlalu Kaku

0

Waktu itu seorang teman dari daerah datang dan rencana mau nginap di kos. Karena melihat kosan saya yang bisa dikata di atas rata-rata (mirip apartemen, ada kamar mandi yang cukup luas & dapur juga tapi versi kosannya) lalu melihat saya yang hanya di rumah, mungkin dia menjadi bingung, darimana saya ambil uang untuk membayar kosan yang sedikit mahal?

Lalu saya jelaskan bahwa selain komisi dengan menjadi financial planner, ya saya juga dibayar dari hobi menulis. Tapi biasanya membayar kosan itu dari hobi menulis. Dia langsung berkata, “Wuah enak ya kau. Tidak sama saya. Banting tulang betul dan berpanas-panas baru bisa dapat uang.””Itulah gunanya kita sekolah. Agar otak dipakai. Jadi tidak harus selalu kerja pakai otot.” Jawab saya.

Dari sejak kuliah saya memang punya cita-cita tidak mau terikat jam kerja jika bekerja nanti. Dan saya benar-benar mewujudkannya. Makanya sampai saat ini ijazah saya belum ada copy-annya dan belum pernah disebar di satu perusahaan mana pun. Saya pernah membaca bahwa jika kita mampu membayangkannya saja, itu berarti kita juga mampu mewujudkannya.

Tapi untuk itu juga tidak mudah. Saat masih kuliah dan mengutarakan hal itu ke mama, mama menentang saya habis-habisan. Bagi mama bekerja itu pergi ke kantor. Tapi saya tetap pada pendirian saya. Saat saya lulus, keluarga menentang pilihan hidup saya. Subsidi pun dicabut sementara saya masih butuh biaya. Tapi saya jalan saja meski terseok-seok dan harus menjual barang-barang elektronik saya untuk bertahan hidup. Tapi saya menjadi lega, bahwa apa yang dulu saya khawatirkan tidak terlalu begitu menakutkan ketika saya sudah melewati masa sulitnya.

Ah, masih banyak list impian yang harus diwujudkan dan diperjuangkan. Eeeaaaa. Jadi lupakanlah masalah pilkada sejenak. Kalau memang mau bantu pemerintah yang baik, segeralah selesai dengan diri sendiri. Jangan menambah bebannya dengan kesusahan kita. Jika kita bisa mengurangi bebannya itu sudah sangat lebih dari cukup. Jika kita bisa membantunya untuk mengedukasi masyarakat, maka kita adalah bagian dari pemerintah yang melayani masyarakat yang tidak perlu minta gaji pada pemerintah. Kita sudah lebih dari seorang PNS!

Ingatlah, perempuan itu harus sekolah dan tidak boleh berhenti belajar. Jangan pernah percaya bahwa toh ujung-ujungnya perempuan di dapur juga, untuk apa sekolah? Meski misalnya di dapur saja, tapi setidaknya yang berdiri di dapur adalah perempuan berkualitas. Yang minimal tidak mudah dihasut oleh isu SARA dalam menentukan pilihan hidupnya. Dan hidupnya tidak dikendalikan oleh laki-laki karena menikah dengan tujuan agar bisa menggantungkan hidupnya kepada seorang laki-laki.

Iya, saya pernah diminta menikah cepat ketika mama sedang sakit karena saat itu saya sakit-sakitan tapi saya berkeras bahwa saya tidak mau menikah hanya karena ada yang akan mengurus saya. Saya mau menikah  hanya karena saya memang ingin menikah.

Saya pun dulu termasuk perempuan yang nyaris tidak kuliah karena dilarang dengan alasan ekonomi & alasan toh perempuan akan terjun di dapur juga. Tetangga sudah berusaha mempengaruhi saya bahwa saya tidak usah kuliah karena tidak punya uang. Saya tidak mau dengar. Yang saya percaya, cita-cita itu bisa diwujudkan dalam keadaan apapun itu. Siapa suruh kirim saya ke sekolah sehingga saya jadi tahu fakta itu.

Tapi jika saya sudah bertekad, tidak ada lagi yang bisa menghalangi. Termasuk keluarga, tetangga dan kondisi hidup. Di rumah saya dikenal sebagai perempuan yang keras kepala. Makanya sejak kecil saya yang paling banyak mendapat pukulan. Bagi saya jika merasa diri seorang keras kepala, maka keras kepalalah dalam hal baik. Setidaknya dalam memegang teguh idealisme dan memperjuangkan cita-cita.

Karena seorang perempuan harus tahu menghargai perjuangan sesama kaumnya dalam memperoleh kesetaraan dalam belajar. Ya, perjalanan seorang Kartini sama sekali tidak mudah dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Menurut sejarahnya, Kartini terseok-seok dalam hal itu.

Percayalah masih banyak perempuan yang belum memilki kemerdekaan hidup saat ini. Dan mereka pasrah begitu saja dengan alasan menaruh rasa hormat dan tidak ingin hidup menderita. Tapi bagi saya, rasa hormat itu haruslah dua arah, bukan hanya satu arah saja. Dan rasa hormat itu bukan kepada sosok tapi kepada nilai-nilainya. Tidak mungkinkan kalau orangtua minta kita mencuri terus kita patuh dengan alasan surga di bawah kaki ibu? Atau suami minta kita memfitnah terus kita patuh karena suami adalah imam dalam keluarga?

Maka tidak heran seorang teman saya yang sudah memiliki 2 orang anak pernah bercerai dengan suaminya hanya karena menuruti perintah orangtua meski mereka saling mencintai dengan alasan, “Tidak ada mantan orangtua, Mey. Tapi mantan suami ada.”

Saya katakan, “Justru karena tidak ada mantan orangtua maka apapun pilihanmu, orangtuamu tidak akan pernah membuangmu. Pelan-pelan mereka akan mengerti mengenai pilihanmu dengan catatan kau memang bahagia dengan pilihanmu.” Akhirnya dia berjuang untuk bersatu kembali dengan suaminya. Dan menikah kembali..

Berubah itu dimulai dari diri sendiri. Perempuan masih harus berjuang di zaman emansipasi wanita ini. Karena Hari kartini bukanlah tentang memakai kebaya dan bersolek tapi tentang memperjuangkan idealisme dan pilihan hidup.

Selamat Hari Kartini.

Sumber gambar: indoberita.com

Share.

About Author

> Pembelajar Kehidupan > Pakar Do'i > Kekacauan Yang Indah > FB: Meyliska Padondan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage