Hikmah Adanya Hoax

Hikmah Adanya Hoax

160

Meski telah disidang dan mulai merasakan kepala pening, sepertinya masih banyak Jonru-jonru lain yang berkeliaran, begitu asyik jari jemarinya menari menggoreng segala macam isu yang lewat, meski Rocky Gerung bilang IQ harus tinggi untuk bisa meredam hoax, tapi nyatanya IQ yang doyang nyinyir dan goreng isu-isu itu menjadi negatif, IQ nya agak tinggi, kalau tidak tinggi pastilah tidak bisa menggunakan perangkat digital untuk meracik kalimat demi kalimat sehingga menjadi hoax atau minimal baca sekilas dan langsung membagikannya. IQ bukan ukuran apakah seseorang bisa bebas dari hoax atau mampu meredam Hoax, tapi jiwa yang bijak dengan segala kecerdasan yang dimiliki adalah penentu dari meredam Hoax.

Siapa yang tidak kenal Tifatul Sembiring?, yang doanya menyinggung fisik pak Presiden dan petinggi PKS ini beberapa waktu yang lalu?, pastilah beliau bukanlah orang yang IQ-nya rendah, kalau rendah ia tidak mungkin diminta membacakan doa di gedung MPR, atau tidak mungkin menjadi petinggi PKS. Namun kalau anda melihat beberapa ocehannya di Twitter atau social media, pastilah anda akan mengelus dada. Gambar yang sudah lama beredar itu tapi digoreng lagi seolah-olah itu kejadian sekarang tentang Rohingya, dan sebelumnya mungkin anda bisa mencari celotehannya yang lain lagi.

Sudah banyak pakar yang bisa membedah asal gambar-gambar yang terus digoreng itu. Salah satunya mbak Dina Sulaiman, salah seorang penulis yang konsen dengan isu-isu timur tengah, seperti masalah Suriah yang telah digoreng untuk menghancurkan negara itu serta membuat banyak orang yang menjadi zombie yang haus darah, Dina Sulaiman mampu menyusuri bagaimana permainan media penyebar hoax dan ujaran kebencian merajalela dan menimbulkan efek negatif di negeri ini bagi kaum yang tak ingin disebut sumbu pendek atau pentol korek.

Berangkali tim cyber kepolisian sudah mendata akun-akun dan para tokoh-tokoh yang berpotensi menyebarkan hoax dan ujaran kebencian yang bisa merusak tatanan sosial masyarakat, hanya menunggu bukti-bukti lengkap serta akar-akarnya yang mendanai kericuhan ini, ini masalah moment saja.

IQ yang tinggi sebenarnya bisa menimbulkan kesombongan, contoh dari pernyataan Rocky Gerung ini, bisa ditarik kesimpulan yang terindikasi bahwa ia berucap seperti itu karena merasa IQ-nya sudah tinggi, sementara yang mengkomsumsi hoax menurutnya IQ-nya rendah. Apakah ini fakta atau merasa paling pintar karena ada yang menyebutnya professor ahli Filsafat?, dan ia merasa bukan konsumen hoax dan bukan penyebar hoax, tapi katanya ia mengkritik. Adakah kesamaan dengan Jontur ehh…Jonru Ginting?, mungkin bedanya dari posisi duduknya waktu di ILC, tapi dikelompokkan dalam satu kubu, yaitu Kubu tukang Nyinyir.

Maka kalau begitu meredam  hoax bukan dari IQ-nya. Saya punya tetangga yang bukan seorang professor, bukan pula aktivis social media kayak Jonru atau orang dengan kemampuan sindikat Saracen apalagi petinggi partai kayak Tifatul Sembiring, IQ-nya tidak tinggi biasa saja. Tapi setiap hari ia selalu tersenyum melakukan senam taichi dan juga menata kebun, ia sangat bersahabat dengan alam sekitarnya, namun begitu disuguhkan berita saat ini, baik hoax ataupun bukan ia kerap bersedih. Setelah saya cermati dan berdialog dengan hati-hati, ternyata ia memiliki emphati yang tinggi. Kepada kucing pun ia seperti selalu berdialog sebagai bentuk komunikasi memahami kehidupan ini. Apakah hal-hal seperti ini butuh IQ yang tinggi?.

Penyebar Hoax yang berakibat banyaknya korban tak pernah berpikir jauh ke depan, ia hanya mementingkan ego, partai, dan pesanan, serta kepentigan sesaat. Bagi penyebar hoax dan ujaran kebencian apalagi dibekali dengan IQ tinggi yang pintar dalam memelintir tema-tema agama, daya rusaknya sangat besar. Apalagi ia terjun menjadi tokoh-tokoh publik, misalnya menjadi tokoh agama atau menjadi wakil rakyat. Mungkin kita sudah berpengalaman menyaksikan hal-hal seperti ini, di negara ini banyak hal yang unik, salah satunya adalah adanya orang yang IQ-nya tinggi tapi suka nyinyir daripada ikut berkontribusi membangun Indonesia yang indah ini. Atau jangan-jangan mereka tidak rela kalau Indonesia ini hebat di bawah pemerintahan Jokowi?, pembaca bisa jawab sendiri.

Sebelum berbicara hikmah dari adanya hoax ini, perlu saya definisikan arti kata “Waras” menurut versi saya, yaitu orang dengan kesadaran maksimal dan tidak membuat kerusakan di muka bumi, karena daya pikir serta mentalnya berkolaborasi membentuk tatanan aksi lingkungan yang lebih baik, ramah dan penuh manfaat. Dan kata “tidak waras” atau sakit jiwa akut meskipun terlihat normal dari luarnya adalah kebalikan dari waras.

Maka, adanya hoax dan ujaran kebencian akan membuktikan siapa saja yang waras dan siapa yang tidak waras karena ikut-ikutan termakan oleh provokasi para penyebar hoax dan ujaran kebencian ini. Atau malah yang tidak waras itu semakin akut ketidakwarasannya karena menjadi produsen Hoax dan ujaran kebencian serta aksi nyinyir, karena sulit membedakan mana kritikan mana kebencian, kritik dan benci sudah dijus menjadi peluru penyebar virus kebencian.

Seperti orang yang suka memcampuradukkan agama dan politik untuk kepentingan ego dan kelompoknya, dan sangat senang jika banyak pengikut atau umatnya  yang  suplai darahnya tersumbat ke otak akibat disuntik otaknya dengan vaksin-vaksin kebencian dengan kapsul moral yang mulus. Kerjaannya melihara kebencian  atau hoax dalam benaknya, meski IQ-nya tinggi tak mampu meredam kebencian itu.

Maka, dibarisan mana kita berada?, waras atau tidak waras?

Salam Waras.

Share.

About Author

Salto (salam Toleran)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage