Inspirasi Dari Almarhum Ayah Ahok Tak Lekang Oleh Waktu

Inspirasi Dari Almarhum Ayah Ahok Tak Lekang Oleh Waktu

11

Sumber gambar: the-leonardi.com

Semalam ngobrol dengan seorang bapak via WA. Saya jadi terharu. Si bapak punya anak perempuan satu-satunya berusia 11 tahun yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Dan saya diminta untuk bertemu dengannya.

Bagaimana pun apa yang dilakukan bapak ini membuat saya mengingat bapakku. Bapak ini mungkin lebih mudah mewujudkan cita-cita anaknya. Karena selain beliau orang berpendidikan, juga mapan dari segi ekonomi. Tentunya enteng sekali berlangganan majalah anak dengan berbagai merk dan membeli buku bagi seorang direktur. Meski begitu, ayah semacam ini tetap langka di dunia ini.

Kenapa? Karena beliau peduli untuk tahu apa cita-cita anaknya, bahkan tidak mengerdilkan cita-cita itu tapi berupaya untuk mewujudkannya.

Banyak ayah yang bahkan untuk tahu cita-cita anaknya pun mereka tidak peduli. Saya yakin banyak ayah di dunia ini yang akan bilang, “Jadi penulis itu tidak ada uangnya. Bukan pekerjaan.” Hikz.

Seandainya orangtua Ahok mau berpikir sepicik itu, mereka juga akan bilang, “Lebih kaya dan enak jadi pengusaha mah daripada jadi kepala daerah.” Apa yang menjadikan Ahok nekad masuk ke dunia politik yang menghujamnya ke sana kemari karena dorongan seorang ayah yang pada masa hidupnya yang sampai berhutang hanya untuk menolong orang sakit tanpa pandang agama dan suku. Seorang Ahok sudah mengabadikan nama ayahnya dengan sangat luar biasa.

Silahkan para perempuan yang masih lajang membuka mata dan hati untuk melihat mana laki-laki yang potensinya menjadi ayah yang baik dan akan menjadi ayah yang akan menciptakan generasi yang bersinar bagi anak-anak kalian kelak. Mudah untuk melihat dan menemukannya.

Untuk saya pribadi, saya temukan itu di do’i. Apapun yang saya lakukan do’i selalu ada untuk mendukung tanpa diminta. Dan bahkan ketika banyak orang yang mengerdilkan apa yang saya lakukan, dia malah membesarkannya. Jika cita-cita kekasihnya saja dipedulikan & didukungnya habis-habisan apalagi cita-cita seorang anak.

Jangan tanya apa cita-cita saya saat kecil. Saya hanya ingin menjadi guru. Jika Ahok dulu menganggap bahwa dengan menjadi pengusaha, beliau bisa bantu banyak orang, maka atas bantuan ayahnya beliau menyadari bahwa ia tak bisa menolong banyak orang hanya dengan modal menjadi pengusaha. Harus masuk ke politik.

Begitupun bagi saya. Ketika saya mengajar dulu, saya sadar dan kesal. Berusaha setengah mati dan penuh kesabaran agar anak-anak menjadi lebih baik, sudah mulai ada perubahan tapi kembali ke lingkungannya, ya rusak lagi. Mental bangsa ini yang harus diubah.

Jadi saya pikir ruang kelas terlalu kecil. Lagi pula anak-anak lebih mudah diajar daripada orangtua. Jadi kenapa saya tidak mencoba tantangan baru di ruang kelas yang lebih besar dengan murid dari berbagai kalangan dan usia? Caranya? Dengan menulis. Lagi pula metode ini jauh lebih efektif untuk orang dewasa. Kalau orang dewasa beres, anak-anak pun akan ikut beres. Karena anak adalah makhluk peniru. Biasanya orang yang membaca itu merupakan orang yang sudah siap untuk belajar. Ya, terbukti tulisan bukan hanya dibaca puluhan tapi ratusan sampai puluhan ribu orang.

Di sisi lain pula saya masuk di bidang keuangan, karena banyak anak yang cita-citanya tidak kesampaian karena orangtuanya salah mengatur keuangan. Sebagus bagaimana pun cita-cita anak-anak tapi kalau orangtuanya tidak sungguh-sungguh mewujudkannya, ya susah juga.

Saya bisa memahami setiap usaha bapakku di tengah keterbatasannya sebagai bapak yang hanya tamat SMP dan bekerja sebagai buruh kala itu. Langganan majalah Bobo saja harus berselisih paham dulu dengan mama. Begitupun beli buku karena alasan keuangan. Bapak tak pernah menanyakan apa cita-citaku, tapi beliau yang menyediakan jalannya. Kebiasaan membaca sejak kecil itulah menjadi salah satu modal saya menulis sekarang. Yang bahkan menurut founder portal opini cukup besar dan laris di tanah air bahwa saya bisa menulis dengan tutup mata. Bah! Hahaha. Lebay ah. 😀

Kasih sayang seorang ibu membuatmu tetap mampu bertahan berjalan di kerasnya kehidupan. Tapi kasih seorang ayah memastikanmu tahu ke tujuan mana kamu akan pergi dan bekal apa saja yang kamu butuhkan. Karena membutuhkan hati selapang Indonesia untuk menjadi bapak yang menyerahkan anak-anaknya mengabdi pada bangsa & negara dengan segala tantangannya.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua ayah yang berjiwa besar dan calon ayah di mana pun berada, terkhusus untuk Almarhum Bapak Indra Tjahaja Purnama.

Share.

About Author

> Pembelajar Kehidupan > Pakar Do'i > Kekacauan Yang Indah > FB: Meyliska Padondan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage