Kita Tak Bisa Lagi Diam

Kita Tak Bisa Lagi Diam

80

Banyak yang bertanya atau malah mencibir kenapa saya dan banyak orang lain sibuk menulis ataupu mengunggah status di media sosial tentang kejadian belakangan ini. Mulai dari vonis Ahok, ajakan untuk tetap mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo, hingga pada akhirnya kami bersuara atas isu-isu yang membawa-bawa masalah SARA serta mengkritisi beberapa tokoh yang selama ini merasa dirinya paling benar, digdaya, dan suci.

Saat menuliskan tentang Ahok dan ketidakadilan yang menimpanya, sering cap “oh dasar Ahokers” disematkan. Padahal banyak orang yang saat ini membela Ahok justru adalah mereka yang selama ini berseberangan dengannya misalnya di kasus penggusuran warga DKI Jakarta.

Saya pribadi sebelumnya juga biasa saja dengan Ahok, entah mungkin bertahun-tahun pasca wafatnya Gus Dur saya tak lagi punya minat dan ketertarikan dengan satu tokoh politik pun. Saya mengagumi Joko Widodo sejak tahu kinerjanya membangun kota Solo. Kebetulan saat itu saya dan teman-teman cukup sering main ke sana di akhir pekan. Tapi saat itupun Jokowi masih hanya seorang Walikota yang mungkin kesuksesannya memimpin kota hanya dirasakan warga Solo atau yang kebetulan mampir. Saya yang tinggal di Propinsi lain mungkin tak merasakan dampaknya.

Sampai akhirnya Jokowi maju ke Jakarta sebagai Gubernur waktu itu saya justru sangsi. Jakarta dan Solo itu kan kota yang sangat beda. Memang pemerintahan DKI Jakarta era Jokowi belum menunjukkan perubahan yang signifikan karena pada saat itu saya yakin mereka juga masih harus memberesi dan mensetting ulang tata pemerintahan peninggalan gubernur-gubernur sebelumnya yang Anda tahu sendirilah seperti apa.

Jokowi naik menjadi Presiden dan Ahok menggantikannya sebagai Gubernur. Saya dulu pesimis karena tahu Ia dari Gerindra. Ternyata waktu saya mulai menginjakkan kaki di Jakarta untuk bekerja di saat itu pula saya lihat betapa berubahnya wajah kota ini di bawah kepemimpinan Ahok. Bersamaan dengan itu saya juga melihat betapa masifnya pembangunan di penjuru tanah air di bawah kepemimpinan Jokowi. Dua orang ini gila menurut saya. Iya gila, kok bisa melakukan ini semua yang dulu selama 10 tahun lebih dianggap mustahil terjadi. Lah kalau ini bisa lah yang dulu-dulu ngapain aja? Di sini kekaguman saya sama Jokowi bertambah dan saya juga mulai kagum dengan Ahok.

Saya mulai punya optimisme dengan masa depan Indonesia melihat apa yang mereka lakukan. Hingga kemudian segerombolan iblis menyerang. Iblis-iblis haus kekuasaan, uang, dan kepentingan. Pemerintahan yang baik memang tidak bisa menyenangkan semua pihak. Karena dalam meluruskan niat bekerja tentu akan berbenturan dengan mereka yang bekerja dengan cara tak baik. Di sinilah kemudian iblis-iblis itu masuk dan mulai mengacaukan keadaan dengan meniupkan beragam isu.

Jokowi kembali dicap anak PKI dan dibilang bukan anak kandung bapaknya sampai ada wacana disuruh untuk melakukan tes DNA. Are you kidding me? Mau Jokowi anak kandung bapaknya atau bukan itu urusannya dengan keluarganya, bukan urusan kita. Ini pemerintahan bukan sinetron jadi jangan dibuat drama. Buat apa harus ribut sampai disuruh tes DNA? Membuktikan anak PKI? Memangnya jiwa komunis bisa diidentifikasi dengan DNA? Entahlah pokoknya banyak tuduhan tak masuk akal muncul. Bahkan soal anak-anak Jokowi yang memilih berbisnis martabak daripada main proyek seperti anak penggede lain. Lah terserah mereka dong mau cari uang dengan cara apa.

Kemudian Ahok juga diserang. Karena tuduhan korupsi tak terbukti maka ketika dia mengatakan sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik kasus tersebut digoreng bukan main. Videonya di blow-up dengan teks yang tak sesuai kenyataan. Massa dikerahkan dengan kedok demo bela agama, bela Qur’an, dll. Saya ini lho sampai membatin, sebegitunyakah kalian tidak percaya dengan kuasa Tuhan sampai merasa perlu berdemo untuk membela-Nya? Lah Dia kan Maha Kuasa, kalau dia marah azabnya mudah kok turun tak perlu kroco-kroco seperti kita ini bergerak.

Dan yang lebih ngeri dalam demo itu ada banyak orang berteriak bunuh, gantung, bakar, ganyang kafir, ganyang cina, dsbnya? Hey, katanya manusia beradab kok teriak-teriaknya seperti bangsa jahiliyah? Dan ngerinya lagi itu ada kaum Ibu yang ikutan teriak seperti itu. Entah bagaimana suaminya mendidiknya di rumah dan entah bagaimana juga keseharian Ibu itu memperlakukan suami dan anak-anaknya melihat betapa beringasnya Ia di jalanan. Kalau Ibunya saja seperti ini bagaimana anaknya? Ini yang kemudian menimbulkan keprihatinan saya.

Ini lho yang membuat saya mulai ngeri dan sadar bahwa kita harus mulai berani bersuara dari sekarang. Selama ini kita diam, padahal kita punya pendapat. Kita kalah karena mereka lebih berani bersuara daripada kita. Karena hanya satu sisi yang muncul maka dengan mudah itu membuat banyak orang terpengaruh. Saya tak mau lagi seperti itu.

Seperti yang dikatakan Reza Oktovian, salah satu Youtuber, dalam videonya bahwa kami-kami ini sebentar lagi akan menjadi generasi yang melahirkan dan mendidik the next generation. Saya tidak mau anak saya tumbuh dengan melihat orang mengkafirkan satu sama lain, kalau mau bermain ditanya dulu agamanya apa, melihat ibu-ibu berteriak kesetanan membenarkan untuk membunuh orang lain, dkk. Mau jadi apa bangsa kita nantinya? Manusia seperti apa yang kita harapkan sebagai pemimpin Indonesia di masa depan?

Sekarang lihat saja, Anda mau cari rumah, kos, ataupun kontrakan ditanya “Muslim tidak?“. Lah memang kalau bukan Muslim tidak boleh membeli rumah atau ngekos di situ? Yang penting bayar dan menaati aturan kan? Ada sekolah-sekolah TK yang bahkan sudah mendoktrin ke muridnya tokoh A kafir, tokoh B penista, dll. Buat apa anak kita sejak dini harus dididik seperti itu?

Coba Anda lihat iklan di atas. Anda mungkin diam karena tulisannya khusus Muslim, coba Andai itu ditulis khusus umat Kristen atau umat Hindu apa reaksi Anda? Atau misalnya khusus keturunan Tionghoa. Apakah Anda akan tetap biasa saja atau jadi reaktif?

Sementara di satu sisi banyak munafik yang anti kafir namun bekerja di perusahaan yang pemilik atau bosnya non-Muslim. Tapi jika ditanya alasannya “memilih pemimpin (kepala daerah) bisa dipilih, bos tidak bisa memilih.” Lah tapi situ bisa kan sebetulnya memilih lanjut bekerja atau tidak, keluar dong dari kerjaannya kalau yakin seperti itu. Sama juga dengan yang ingin negara khilafah tapi masih hidup dari gaji PNS atau sebagai pegawai BUMN. Kalian itu munafik.

Saya ingin kita bisa kembali memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila dengan baik. Itu sudah ideologi negara yang paling tepat. Saya ingin anak saya dan anak-anak yang lain tumbuh dengan situasi Indonesia yang kondusif, toleran, dan tidak ada lagi sentimen negatif berdasar SARA. Saya tidak mau anak-anak bangsa hidup dengan iringan kekerasan baik verbal maupun non-verbal. Saya tidak mau anak-anak kami melihat lebih banyak lagi kemunafikan apalagi kalau mereka sampai ikutan jadi munafik untuk bertahan hidup.

Saya dan banyak lagi yang memilih mulai bersuara dan tak lagi diam belum tentu kami ini Ahoker atau Jokower. Ada persoalan yang jauh lebih serius daripada sekedar Ahok atau Jokowi yang sedang kami perjuangkan. Kami bersuara untuk Indonesia yang bersatu dan maju dalam keberadaban. Yang kami perjuangkan adalah tanah air kami dan nasib generasi ke depannya.

Mulailah bersuara tentang nasionalisme, toleransi, dan mengcounter setiap pemberitaan, isu, atau omongan yang dapat menyebabkan disintegrasi bangsa. Saat kubu lawan masif dan radikal maka kita pun harus berani seperti itu untuk menunjukkan kekuatan dan didengar, tentu dengan cara yang baik. Kita tak akan berteriak bunuh, penggal, usir, dsbnya. Kita akan mengajak bangsa ini untuk berpikir rasional dengan penuh cinta kasih. Tak perlu takut untuk bersuara. Kalau ada yang mengejek atau meneror Anda karena itu maka sesungguhnya Anda kini tahu siapa kawan dan lawan Anda. Hidup ini kita yang perjuangkan. Lakukan sekarang, jangan tunda. Untuk Indonesia satu yang adil, maju, dan beradab.

Baca tulisan lainnya di : ARTIKEL-ARTIKEL RAHMATIKA. “satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke)

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage