Luar Biasa! Ahok Support Anies Lewati Masa Transisi

Luar Biasa! Ahok Support Anies Lewati Masa Transisi

18

“Selamat sore, saya coba telepon tapi tidak aktif.”

“Mau ucapkan selamat menjadi Gubernur DKI 2017-2022.”

“Saya siap membantu.”

“Semoga sukses dan salam buat keluarga dan salam buat Pak Sandi.”

Demikian isi chat WhatsApp Ahok yang dibacakan Anies dalam acara “Jakarta Rumah Kita” di Metro TV, Rabu (19/4/2017) malam.

Chat Ahok, lalu dibalas oleh Anies:

“Pak Basuki mohon maaf tadi depan acara sehingga posisinya off.”

“Terima kasih atas pengabdian dan uluran tangannya.”

“Saya coba akan telepon kembali,” Kata Anies membacakan pesannya kepada Ahok.

Selanjutnya, keduanya terlibat dalam pembicaraan via telepon dengan topik pembicaraan berupa tawaran Ahok untuk membantu persiapan Anies memimpin DKI nanti. Pembicaraan yang lalu dilanjutkan pada pertemuan di Balai Kota DKI Jakarta pada Kami (20/4/2107) pagi.

Keduanya membicarakan masa transisi sebelum Anies dilantik dan menjabat gubernur. Mereka juga berkomitmen untuk menghimpun kembali sel-sel yang tercerai guna menariknya ke dalam lingkaran persatuan bangsa, yang sempat terpolarisasi karena efek Pilkada.

Pada momen itu, Ahok menitipkan agar program yang sudah ada untuk dilanjutkan, termasuk program Kartu Jakarta Lansia (KJL). Kedua rival ini juga membahas tentang perseteruan antar pendukung yang harus segera dicairkan.

“Saya jamin pendukung saya enggak bakal ribut lah, saya jamin.”

“Kita percaya kok semua Tuhan yang atur.”

“Takdir kan Tuhan yang menentukan. Hidup itu ya begitu.” Kata Ahok.

Ahok menunjukkan sikap ksatria. Sementara di luar sana, masih banyak pendukungnya yang belum bisa memahami dan menerima kekalahan yang menimpa jagoannya. Sebagaimana pendukung Anies-Sandi masih banyak yang larut dalam euphoria dengan memamerkan pesta.

Semua (akan) kembali ke Tuhan

Sebuah postingan di facabook dari seorang staf Ahok menghadirkan cerita emosional. Cerita yang lalu diolah oleh Junaidi Sinaga, seorang penulis seword dengan judul “Cerita STaf Ahok, Sehari Sebelum Kalah di Pilkada DKI”. Isinya adalah curhatan yang menceritakan Ahok apa adanya, kesehariannya, hingga beberapa penggal kalimat dari Sang Gubernur Jakarta sehari sebelum pelaksanaan Pilkada:

“Saya tadi mikir, kalau kita kalah di Pilkada ini, Tuhan itu apa maksud dan rencananya? Saya pikir-pikir mungkin Tuhan mau kita membuktikan, kalah menang kita akan tetap berkontribusi dan bangun Jakarta untuk meninggalkan legacy di sisa waktu hingga Oktober ini. Ya kita kerja sajalah agar masyarakat merasakan hasil kerja kita dan bisa dibandingin kalau nanti dibawah kepemimpinan yang lain bagaimana”

Ahok yang dituduh penista itu kerap menyebut Tuhan di setiap kalimat yang bernada rencana, sesuatu yang belum terjadi. Bagi Ahok, segalanya terjadi karena Tuhan, juga jabatannya selaku gubernur tentu saja.

Sebelum waktu usai untuk dirinya, ia tetap akan memaksimalkan segala rencana yang telah disusunnya. Ia tak peduli dengan takdir yang telah menunjuknya untuk berhenti jadi gubernur. Takdir yang rahasia kini membuka tabirnya, bahwa masa jabatannya hanya seperiode (setengah) saja.

Ahok beruntung diberikan kebesaran jiwa, hingga ia tak mengutuk takdir. Ia tak perlu lagi membela dan mencari alasan demi mempertahankan jabatannya. Ia menyerahkannya kepada Tuhan, segalanya.

Ahok selesai dengan dirinya

Menerima takdir sebagai sebuah ketentuan Tuhan adalah bentuk paling sahih pengakuan anak manusia kepada Tuhannya. Dengan begitu, ia akan berlapang dada dan mengakhiri masa jabatannya tanpa beban tanpa tekanan lagi. Semua agenda yang belum rampung akan berusaha diselesaikannya, tanpa perlu lagi dihambat cuti kampanye dan rentetan sidang yang tak biasa.

Benar kata Bang Denny Siregar, Ahok telah selesai dengan dirinya. Ia telah berdiri di atas segala kepentingan yang sifatnya artificial. Setidaknya, jika dicermati bahwa satu-satunya anggota DPR di fraksinya pada periodenya yang menentang proyek E-KTP, dengan resiko harus dilempar ke fraksi lain. Setelahnya, kita tahu dari daftar penerima uang hasil proyek abal-abal berlabel kartu canggih itu, di dalamnya tak ditemukan nama Basuki Tjahaya Purnama.

Ahok telah selesai dengan dirinya. Kekalahannya, menyadarkannya bahwa seseorang telah dipercaya akan menjadi pengganti dirinya, ia lalu menawarkan diri untuk membantu, sharing, mengundang Anies ke Balai Kota demi melewati masa transisi kepemimpinan yang tak mudah.

Selamat Pak Ahok, anda telah menemukan hakikat diri sebagai seorang manusia. Anda adalah pelajaran berharga bagi Jakarta, untuk Indonesia tercinta. Terima kasih Pak Ahok.

Sumber: kompas.com

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage