Menulis, Usia Senja, dan Ramadhan

Menulis, Usia Senja, dan Ramadhan

0

Hands writing on old typewriter over wooden table background

Ramadhan diisi dengan menulis tentu bukan hal yang buruk. Bahkan sangat baik. Terlebih bila menulis untuk kepentingan nasehat-menasehati pada yang haq (bukan batil).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui surat al-’Ashr menginformasikan bahwa semua manusia mengalami kerugian dalam kehidupannya kecuali mereka yang melakukan empat hal: pertama, Beriman; dua. Mengerjakan amal shaleh; tiga. Saling menasehati supaya menaati kebenaran; empat, Saling menasehati supaya memelihara kesabaran.

Menasehati dan dinasehati sebenarnyalah fitrah manusia, sebagai panggilan jiwa dan kebutuhan manusia. Sebab manusia tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu jangan terlalu gemar menasehati namun tidak mau dinasehati. Atau sebaliknya, jangan terlalu pelit menasehati namun mengharapkan orang terus manasehatinya.

Kegiatan menulis mestinya menjadi cara yang baik untuk nasehat-menasehati secara seimbang. Terbuka untuk dinasehati dengan banyak membaca tulisan orang lain, banyak menyimak isi media, banyak mengamati hal-hal sekeliling dan termasuk keadaan alam. Dari sana kemudian ganti menasehati dalam bentuk tulisan: memotivasi, menginspirasi, memberi optimism dan harapan baik terlebih dalam konteks agama. Menulis bukan justru untuk saling cela, saling buka aib, saling melontar prasangka buruk.

***

Tapi menulis itu sulit, sangat sulit, bahkan dapat dikatakan merupakan siksaan yang nyata. Apalagi ketika usia sudah merangkak jauh menuju senja. Ketika semuanya sangat berbeda dibandingkan dengan ketika masih muda. Buktinya hanya sedikit orang yang berniat menulis (atau terus menulis) meski sekadar laporan ringan, pendapat/komentar, opini, atau fiksi pendek. Yang terbanyak orang menulis status di medsos, komentar/tanggapan ala kadarnya, atau saling sapaan.

Bahkan lebih banyak lagi yang kesukaannya semata memajang foto dan gambar di medsos. Tanpa komentar: dalam rangka apa, kenapa, untuk apa, kapan, dan berbagai pertanyaan lain. Pasti orang-orang dekat tahu belaka hal apa yang hendak diuntjukkannya. Namun orang lain lain bingung dan akan mencari-cari hal apa dan bagian mana yang lebih dicermati. Hal itu tentu membuat orang lain penasaran. Apakah  yang mau dipamerkan alisnya, bulu mata, dagu, atau make-up dengan riasan produk tertentu (bagi wanita)? Atau mau pamer kumis, kerut-kerut di wajah, atau gaya dan senyuman yang tidak lagi menarik itu?

Semua itu tidak salah dan baik-baik saja sebenarnya. Namun akan lebih baik bila memberi tulisan pengantar dengan lebih detil hal-hal apa yang berubah, berbeda, dan ingin diketahui orang lain. Yang memprihatinkan, lebih banyak lagi orang-orang yang men-share tulisan opini orang/media lain yang bersifat menghujat-menghina-menyalahkan-menghakimi tanpa kroscek. Padahal kemungkinan hal itu merupakan kesia-siaan, atau bahkan sebuah cela yang tak terhapuskan sisi buruknya seumur hidup karena mengajari orang untuk terus bermusuhan dan memelihara penyakit hati.

***

Begitulah, menulis memang tidak gampang. Sulit, dan sangat repot serupa siksaan. Maka jangan coba-coba menerabas semua aturan yang sudah dibuat. Menulis itu perlu berpikir keras, sampai jidat berkerut, sampai dua alis menyatu, sampai kepala botak, sampai wajah kisut, dan seterusnya. Selain itu juga buang-buang waktu, tenaga dan energy. Menulis bahkan menghalangi hobi lain yang sangat menyenangkan: mancing, jalan-jalan di mall, momong cucu, reuni dan bertemu teman-teman lama, memelihara burung, main gaple, main catur, nonton siaran televisi, dan ngerumpi dengan tetangga.

Ketika seseorang berusaha untuk tidak menuliskan isi kepalanya, orang lain boleh curiga: jangan-jangan ia sedang dipantang untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Sebab ilmu dan pengalaman itu diperoleh dengan tidak gratis, tidak dengan mudah, bahkan tidak datang begitu saja.

Maka tetaplah pada pendapat bahwa menulis itu sulit. Tidak mengherankan banyak mantan jurnalis, pensiunan guru dan dosen, pensiunan pegawai, dan para senior dalam berbagai organisasi maupun kewirausahaan yang lebih suka berdiam diri saja. Mereka tidak merasa penting untuk menulis apa saja yang telah dicapai-diperoleh dan dikumpulkan baik berupa pengalaman-pengetahuan maupun gagasan sesuai bidang yang digelutinya.

Masih mendingan mereka menjadi pembaca pasif, masih mengikuti perkembangan dan tertarik pada bidang yang pernah digelutinya. Namun banyak orang yang melepaskan masa lalunya. Menyia-nyiakan pengalaman menarik-menegangkan-menjengkelkan-mistis atau sekadar lucu dan aneh, yang belum tentu dialami orang lain.

Padahal bisa jadi sewaktu masih bekerja, atau masih aktif, dalam kegiatan sebelumnya (sebelum menjadi mantan atau pension) kegiatan tulis-menulis pernah dilakoninya. Namun agaknya romantika kala itu tidak lagi berbekas untuk diteruskan pada usia senja.

Lingkungan kerja saya sebelum pensiun adalah orang-orang yang berprofesi sebagai awak media elektronik televisi. Ada juru kamera, pengarah acara, sutradara, penulis script dan skenario, pengarah teknik, editor gambar, penyiar berita, bahkan juga reporter/jurnalis. Sepanjang masa kedinasan tentulah banyak pengalaman menarik dan unik, namun ketika sudah pensiun merasa sulit atau tidak berminat untuk menuliskannya.

***

Memang ada beberapa kendala mengapa pekerja media elektronik (radio dan televisi) memiliki handicap lumayan besar untuk menulis seperti jurnalis media cetak. Pada media televisi dan radio bentuk tulisan yang dibacakan relatif terbatas (tidak keseluruhan) sebab ada materi lain berbentuk audia-visual (dialog/wawancara, statement, dsb.) Mereka menulis setelah gambar-suara diperoleh. Dengan begitu spontanitas di lapangan (pertimbangan situasi dan kondisi), seringkali mengalahkan perencanaan yang sudah dibuat.

Menulis pada usia senja makin banyak kendalanya karena kondisi fisik yang tidak prima lagi. Konsentrasi tidak bisa fokus, ingatan meluntur, tenaga dan stamina melemah, ketajaman mata berkurang, dan seterusnya.

Seberapapun penting arti menulis (bagi kesehatan fisik dan jiwa, serta bagi pembacanya), kegiatan itu tetap dihindari. Padahal dengan menulis seseorang dapat memaksakan diri untuk merawat ingatan, melestarikan minat membaca, mengikuti perkembangan media dengan baik, terus mengasah kecerdasan dan kepekaan pikiran.

Pendeknya, menulis membuat aktivitas otak dan fisik menjadi lebih sehat,. Bersamaan dengan itu aktivitas beramal-ibadah insya Allah menjadi lebih efektif-efisien. Penulis pun ‘umurnya’ dapat menjadi sangat panjang, yaitu umur tulisan yang pernah dibuat meski si penulis sudah meninggal dunia. Karl May dengan Winnetou-nya, Kho Ping Hoo dengan ratusan judul cerita silatnya (berlatar lokasi dan budaya China maupun Jawa), RA Kartini dengan buku Habis Gelap Terbitlah Terang, untuk menyebut beberapa contoh yang menjadikan umur mereka panjang.

***

Nah, bila akhinya Anda sepakat dengan saya bahwa usia senja itu bukan hambatan untuk mulai/terus menulis  maka ingatlah pepatah lama: ‘lebih baik terlambat daripada tidak’. Media sosial menjadi sarana terbaik untuk menulis.

Mudah-mudahan tulisan pendek ini menjadi renungan dikala harus bersabar menjalani shaum dengan segenap haus dan lapar, dengan rasa ngantuk dan lelah, dan dengan segala harapan baik. Harapan untuk beremua dengan ‘Lailatul Qadar’ pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan kembali kepada fitrah pada akhir Ramadhan nanti. Terima kasih bila sudi menyimak, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab.

#ArtiRamadhan

***

Gambar : https://screencraft.org/2016/07/25/five-inspiring-ways-famous-screenwriters-got-their-big-break/?utm_content=bufferc5bda&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer

Share.

About Author

Pensiunan. Menulis untuk merawat ingatan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage