Pakde Indro Warkop Tentang Kritik Yang Elegan

Pakde Indro Warkop Tentang Kritik Yang Elegan

15

Seperti biasa, penampilan komika Ridwan Remin pada show ke 12 SUCI season 7 sangat menarik dan menggelitik. Untuk pembaca yang belum kenal, Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) adalah ajang kompetisi lawakan tunggal atau stand up comedy yang diikuti oleh pelawak tunggal berbakat melalui hasil seleksi dari seluruh wilayah di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kompas TV. Acara kompetisi ini merupakan kompetisi stand up comedy pertama di Indonesia, serta memiliki tagline “Let’s Make Laugh!”. Demikian definisi yang dituliskan di wikipedia.

Sejak dimulainya show season pertama SUCI tahun 2011, setiap tahun acara ini menyajikan hiburan yang berbeda karena menampilkan bakat-bakat terpendam dari orang-orang dengan berbagai latar belakang, dari berbagai daerah asal, dari berbagai profesi yang membawa berbagai pandangan berbeda dan menarik. Semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu ketertarikan pada dunia komedi dan keinginan untuk menghibur dengan membuat penontonnya tertawa. Bahkan lebih dari tertawa, komika dengan kemampuan lebih bahkan bisa memberi inspirasi dan bahkan pencerahan. Pada dasarnya komika yang piawai adalah pengamat dan public speaker yang baik.

Yang menarik pada show ke 12 SUCI season 7 kali ini adalah komentar salah seorang juri yaitu Pakde Indro Warkop. Biasanya ciri khas Pakde Indro adalah memberi nilai “Kompor Gas” bagi komika dengan penampilan yang sangat baik. Tapi hari itu Pakde Indro memberi komentar lebih pada Ridwan Remin yang penampilannya memang sudah terkenal sangat baik.

Pakde Indro memberi saran,

“Sekarang semua orang yang mempunyai prinsip mengkritisi, benar-benar mengkritisi tapi tanpa solusi. Secara akademis, kritik itu harus ada solusinya. Aku berharap kamu bisa mulai belajar itu karena dengan seperti itu kamu elegan dalam mengkritisi sesuatu.”

“Jadi kritik yang baik adalah kritik yang memberikan solusi. Belajar satire, belajar nyindir, bukan ngatain. Karena dengan demikian kamu elegan banget dan akademis banget. Kompor gas !”

Komentar ini menurut saya sangat menarik dan sangat mengena. Bukan hanya untuk Ridwan Remin, tapi untuk semua orang.

Kita bisa melihat dan merasakan bahwa sejak peralihan dari masa Orde Baru ke era Reformasi, kebebasan berbicara dan berpendapat menjadi terbuka lebar. Seperti anak kecil yang baru belajar berjalan, awalnya perlahan dan jaraknya pendek, tapi lama kelamaan semakin dewasa maka si anak akan berjalan semakin cepat dan semakin jauh, lalu berlari dan melompat.

Demikian pula masyarakat kita yang semakin kritis dan bahkan belakangan ini kita bisa rasakan sendiri bagaimana kebebasan berbicara itu menjadi kebablasan. Semua orang merasa bebas berbicara dan menulis sesukanya di media sosial, bahkan tanpa peduli akibatnya dan bagaimana perasaan orang lain yang mendengar atau membacanya. Media sosial dianggap sebagai dunia tanpa etika, tanpa sopan santun, tanpa rasa saling menghormati, tanpa tenggang rasa.

Memang tidak sepenuhnya begitu karena masih banyak orang-orang waras yang masih ingat untuk menjaga perkataan dan tulisannya, akan tetapi sebagaimana berita buruk menyebar lebih cepat daripada berita baik, maka tulisan yang buruk pun cenderung lebih lantang dibandingkan yang baik. Maka hoax dan hujatan pun beredar dimana-mana seperti polusi yang menyesakkan.

Kembali kepada saran Pakde Indro tentang kritik yang elegan, suatu kritik bisa menjadi kritik yang membangun atau merusak, tergantung dari latar belakang dan tujuannya. Kritik yang dilatarbelakangi sentimen negatif atau kebencian biasanya tidak memberi saran atau solusi yang bermanfaat, sehingga terkesan hanya nyinyir saja. Sementara kritik yang dilatarbelakangi kepedulian dan keinginan untuk perbaikan atau pencapaian kondisi yang lebih baik biasanya lebih berpotensi untuk disertai saran atau solusi yang membangun.

Jadi kembali kepada diri kita masing-masing.
Apakah kita mau menjadi orang yang nyinyir ?
Atau mau menjadi orang yang berguna yang bisa memberi kontribusi untuk kebaikan ?

A quote from a book of Victorian poems called “Miscellaneous Poems” by Mary Ann Pietzker, published in 1872 by Griffith and Farran of London (at the “corner of St. Paul’s Churchyard”).

A book called “Miscellaneous Poems” by Mary Ann Pietzker, 1872.

Is It True ? Is It Necessary ? Is It Kind ?

Oh! Stay, dear child, one moment stay,
Before a word you speak,
That can do harm in any way
To the poor, or to the weak;

And never say of any one
What you’d not have said of you,
Ere you ask yourself the question,
“Is the accusation true?”
And if ’tis true, for I suppose
You would not tell a lie;
Before the failings you expose
Of friend or enemy:
Yet even then be careful, very;

Pause and your words well weigh,
And ask it it be necessary,
What you’re about to say.
And should it necessary be,
At least you deem it so,
Yet speak not unadvisedly
Of friend or even foe,
Till in your secret soul you seek
For some excuse to find;

And ere the thoughtless word you speak,
Ask yourself, “Is it kind?”

When you have ask’d these questions three—
True,—Necessary,—Kind,—
Ask’d them in all sincerity,
I think that you will find,
It is not hardship to obey
The command of our Blessed Lord,—
No ill of any man to say;
No, not a single word.

Have fun, be nice.

Silahkan kunjungi artikel saya yang lain disini.

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage