Pentingnya Mendukung Orang Baik, Agar Tidak Mendiamkan Kezaliman.

Pentingnya Mendukung Orang Baik, Agar Tidak Mendiamkan Kezaliman.

6

Kodrat dan fitrat manusia, sebaik apapun berkiprah dan berinteraksi, baik dengan sesama manusia maupun dalam kehidupan spiritual, kadarnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tetaplah memiliki sisi lemah dan keterbatasan.

Semakin sering seseorang menunjukkan perilaku di tengah pergaulannya, tentu akan semakin tampak sifat bawaan, yang bisa saja dia menunjukkan keterbatasan dan kelemahan. Mampukah kita berani menilai setiap gerak-gerik seseorang, hingga ke ranah tersembunyi di lubuk hatinya ? Hal yang mampu kita lihat dan nilai, seringkali hanya terbatas kepada apa yang tampak kasat mata. Tidak kepada niat yang melatar belakangi perbuatan serta perilakunya.

Sering pula kita memberikan penilaian, atas subjektifitas kita tentang satu masalah. Jika seseorang itu melakukan tindakan, yang tidak sesuai dengan cara pandang kita, kita menjadi mudah menjatuhkan penilaian buruk. Dan repotnya, sekali kita mencapnya sebagai tidak baik, di waktu-waktu setelahnya, akan sulit menempatkan dirinya di hadapan kita secara benar dan objektif.

Predikat negatif selalu bertahan jauh lebih lama bagi seseorang, meskipun berkali-kali setelahnya, dia melakukan hal-hal baik dengan kadar positif yang menjulang tinggi sekalipun. Maka kesadaran demikian perlu menjadi renungan kita bersama, bahwa orang sebaik apapun, niscaya memiliki sisi lemah. Dan dalam batas-batas tertentu, kita layak memberi ruang baginya, agar dia kembali menunjukkan jati diri yang bernilai positif.

Marilah kita menilik surut ke peristiwa yang telah berlalu. Sosok mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, ketika masih menjabat Gubernur, sebelum keputusan pengadilan yang memaksanya duduk sebagai terpidana kasus tuduhan penistaan agama. Basuki yang sering kita sapa Ahok, demikian detilnya mengelola pemerintahan DKI Jakarta, jangankan penduduk dan warga DKI, orang di luar wilayahnya pun turut merasakan gaung sepak terjangnya.

Sudah beberapa bulan Ahok menjalani vonis hakim, tetapi rasanya warga DKI dan para pendukungnya, masih saja belum merasa ikhlas melepasnya. Ungkapan-ungkapan pengagum Ahok di media sosial menunjukkan, sungguh dalam rasa kehilangan mereka. Mereka masih ingin lebih lama menyaksikan bagaimana Ahok, membawa wilayah DKI Jakarta benar-benar menjadi tempat impian mereka.

Jelas sekali terlihat beda orang baik dengan yang lainnya, meskipun keduanya sama-sama menjalani hukuman, dan sama-sama berada di balik terali besi. Orang baik sebagaimana sejarah telah mencatat  kebaikannya, selalu menerima dukungan dari orang-orang baik lainnya, atau minimal dari mereka yang menyukai kebaikan. Hal yang tidak mudah diterima oleh orang yang tidak memiliki jejak baik.

Hal yang mengindikasikan dukungan kepada orang baik, meluncur dari pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Jarot Saiful Hidayat, “Politisi kalau mau kaya jangan jadi politisi, jadi pengusaha. Contoh mohon maaf, Pak Ahok itu politisi dan saya bangga Pak Ahok dipenjara bukan karena korupsi, saya bukanya bela, tapi lihat hasilnya,” tutur Djarot. “Saya ketemu Pak Ahok nggak apa-apa, ini sudah garis Tuhan harus ikhlas tapi saya senang karena Anda mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran itu maka kebenaran itu tidak bisa dibungkam dan sekali waktu kebenaran itu akan menunjukan hasilnya entah berapa tahun,” jelasnya (detik.com).

Terlepas dari polemik tentang substansi vonis majelis hakim, yang menyatakan Ahok terbukti secara sah dan meyakinkan, telah melakukan tindak pidana penistaan agama, melaui pernyataannya di pulau Pramuka. Dengan melihat catatan riwayat penyelidikan kasusnya di Polri, dimana disebutkan diantara penyidik terjadi pertentangan pendapat, antara pro dan kontra apakah kasus ini layak dinaikkan ke tingkat penyidikan.

Dan dalam proses gelar perkara, tidak kalah tajamnya pertentangan, antara pihak yang menyatakan terdapat indikasi pelanggaran pasal tentang penodaan agama pada KUHP, dengan pendapat sebaliknya. Bahkan hingga tahap menjatuhkan dakwaan serta vonis majlis hakim, perbedaan penafsiran tentang jenis pelanggaran, tetap terjadi. Jaksa memberi dakwaan sesuai pasal 156 KUHP tentang penistaan suatu golongan, sementara hakim memiliki pendapat berbeda, yakni pasal 156 huruf a KUHP tentang penodaan agama.

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi gejala ini ? Persilangan pendapat diantara aparat hukum, yang menafsirkan objek hukum dengan mengenakan pasal dan sub pasal berbeda, yang memiliki konsekwensi tingkat tuntutan berbeda pula. Kalau nalar yang wajar kita gunakan, yaitu nalar yang menempatkan seseorang tidak memiliki itikad buruk, seharusnya resiko yang paling rendah secara hukum yang  diambil. Yang dimaksud dengan resiko dalam hal ini, termasuk di dalamnya ekses moral dari aparat hukum sendiri, jika di kemudian hari sejarah dapat membuktikan hal sebaliknya.

Meskipun keputusan yang sudah terlanjur dijatuhkan, dan  sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Mengingat rasa kemanusiaan kita, meyakini Ahok adalah orang baik yang bahkan bukan orang baik biasa, teruslah menyuarakan dukungan , jangan sampai setiap orang baik mengalami trauma seperti pernah diutarakan Ahok, bahwa dia telah merasa kapok menggeluti dunia politik.

Politik yang dimaksud Ahok, tentu harus kita maknai sebagai politik pengelolaan kesejahteraan masyarakat. Politik yang selama ini digunakan demi kemaslahatan warga yang dipimpinnya, bukan untuk menjamin kemakmuran perorangan atau golongan tertentu. Dan hal inilah yang menjadikan dukungan itu penting kita sampaikan.

Kita harus merasa risih, bukan hanya karena tragedi yang telah ditimpakan kepada Ahok, dan bukan saatnya pula menyalahkan para pelapor. Jika para abdi hukum telah bekerja sesuai rasa keadilan, termasuk menimbang kadar kebaikan sang terdakwa, niscaya kasus ini tidak akan sejauh seperti sekarang. Jangan sampai vonis itu membelenggu mereka pada saat kelak mereka dimintakan pertanggung jawaban.

Satu-satunya cara kita menyuarakan dukungan, adalah dengan menggalang kesadaran nasional, bahwa ada bahaya yang sedang mengancam, jika orang-orang baik diperlakukan sama seperti orang-orang jahat. Mari kita mulai melakukan petisi, tentang pentingnya mendukung orang baik, dengan cara menggalang tuntutan pengurangan hukuman, bagi orang baik yang terlanjur mendapat cap penista agama.

Artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi

Share.

About Author

Tempat artikel lainnya : https://seword.com/author/ruskandi/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage