Standar Minimal yang Wajib Dimiliki Setiap Ulama

Standar Minimal yang Wajib Dimiliki Setiap Ulama

6

Sebenarnya dari masa ke masa itu kehadiran ulama jahat selalu ada. Ulama ini sebenarnya tidak dapat dibatasi dalam konteks ahli atau pakar dalam ilmu agama. Secara umum kata “ulama” ini berarti orang yang berilmu dan ahli dalam ilmunya. Alfred Nobel, ini juga ulama dalam ilmu fisika. Nima Arkani-Hamed pun juga seorang ulama bidang fisika. Namun pergeseran waktu pada akhirnya mempersempit term “ulama” hanya sebatas ilmu agama. Dan itu tak menjadi masalah selama kita masih berpatokan bahwa ulama adalah ilmuwan.

Ada ungkapan atau mungkin hadits ya, begini isinya ;

al-ulama’ umana’ ar-rasul ma lam yuhallithu as-sulthaanu (para ulama itu kepercayaan para Rasul, selama mereka tidak bergumul lengket dan mesra dengan penguasa).

Ulama dalam makna kalimat diatas itu jelas mengacu untuk ilmuwan ilmu agama atau kyai. Dan makna hadits diatas juga menjadi jelas tentang kriteria seorang ulama yaitu melepaskan diri dari politik praktis dan menjaga jarak dengan penguasa. Karena hanya dengan kedua hal ini (politik dan penguasa) pada akhirnya para ulama bisa menjaga hati dari kebisingan duniawi yang melalaikan kewajiban utamanya sebagai pembimbing atau guru umat. Istilah kerennya sebagai bapak bangsa. Kyai atau ulama harus bisa berdiri di atas semua golongan tanpa membedakan ras, keyakinan, etnis dan lainnya. Kepercayaan rasul ini hal yang sangat besar. Seperti kita dipercaya oleh Rasulullah untuk melakukan pekerjaan. Jadi coba dibayangkan, sekarang beliau hadir di depan anda dan berkata :

hai Fulan, aku percayakan kepadamu untuk mendidik manusia!

Apakah kita akan menyalahi amanah itu atau akan berjuang keras menjalankan amanah? Dan kita tahu bahwa gelar kenabian dan kerasulan itu bukan dari manusia. Nabi dan rasul jelas orang-orang yang sudah lulus uji kompetensi. Tentu kita juga akan merasa bangga, bahagia atau bahkan sedih karena mengemban amanat yang demikian besar dari orang besar.

Di dalam hadits itu juga ada kata sulthan. Kata ini juga bisa memiliki arti sebagai pengetahuan atau sains. Entah itu sains non eksak maupun eksak. Dan pengetahuan ini juga dapat menjadikan seseorang sebagai sandera. Mungkin karena dia merasa lebih pintar atau cerdas atau merasa sudah mencapai gelar yang tinggi lalu terjebak dalam egoisme. Sedangkan yang namanya “orang kepercayaan rasul” ini wajib jauh dari egoisme. Berbahaya nantinya, banyak orang yang akan tersesat bila seorang ulama atau kyai berbicara atas nama ego. Pada akhirnya akan muncul sekelompok orang bego bila mengikuti ulama yang mendahulukan ego.

Lalu bagaimana kita bisa membedakan antara ulama non ego dan ulama bego? Hati kan ibarat cermin. Apa yang dibicarakan pun juga menjadi cerminan isi hatinya. Kalau bicaranya bernada kebencian atau berpotensi memecah belah ya jangan didekati. Karena dia sudah tersandera dalam penonjolan diri atau deifikasi ( pemujaan, penghormatan, atau pendewaan.). Sekalipun yang menjadi dasar pembicaraanya adalah sebuah ayat suci ataupun hadits nabawi.

Penutup

Syariat Islam tidak dapat diserukanatau diterima oleh orang lain bila dilakukan dengan cara-cara yang bathil. Tidak ada nabi atau rasul yang berdakwah dengan cara-cara yang kasar. Begitu pula orang-orang mengikuti mereka juga tidak mengutamakan cara-cara yang kasar. Semua dilakukan secara bertahap dan lemah lembut. Tak pula mereka memaksakan kehendak agar diterima oleh orang lain. Karena memang seperti itulah mereka dan kita semua diperintahkan. Di bagian lain, kyai atau ulama ini benar-benar berjuang untuk menerapkan tidak cinta dunia dan tidak takut mati. Karena mencintai dunia biasanya takut mati dan berimbas pada takut pada penegakkan hukum. Bagian ini yang sering kita abaikan. Ulama atau kyai sebenarnya mengajar berdasarkan hukum serta etika berstandar ketuhanan. Lalu jika para guru atau pembimbing kita ternyata tidak memberi contoh yang baik dalam taat hukum, lalu kemana lagi kita mencari contoh?

Ulama juga tidak boleh kebal hukum karena putri Nabi Muhammad pun tak kebal hukum. Mulai sekarang, berhentilah berkata Stop Kriminalisasi Ulama. Kalau ulama atau kyai mencuri ya wajib ikuti proses hukum.

Jadi bila kita pada kemarin, sekarang atau esok hari ternyata menyaksikan seorang ulama berada dalam politik praktis, saat itulah kita harus melihatnya sebagai politisi.

 

Salam Indonesia

Share.

About Author

praktisi bekam yang peduli tanah air Call/sms/wa 081357609831 Ikuti serial Bondan Lelana lebih lengkap di www.tansaheling.com

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage