Awal Tahun Ajaran Baru, Cegah Siswa Jadi Radikal dan Tukang Bully

Awal Tahun Ajaran Baru, Cegah Siswa Jadi Radikal dan Tukang Bully

0

Baru kemarin saya menuliskan tentang mahasiswa salah satu kampus swasta yang membully temannya yang berkebutuhan khusus (dan parahnya banyak mahasiswa lain di sekitarnya hanya melihat, ada yang tertawa, bahkan merekam tanpa berbuat sesuatu untuk membela korban), beredar lagi video senada. Namun kali ini dilihat dari videonya pelakunya masih bocah usia SMP.

Video itu mengingatkan atas kehebohan yang sempat ditimbulkan sebuah geng bernama Nero yang sempat viral beberapa tahun lalu di saat kualitas kamera HP masih VGA. Meski konon jaman sudah makin maju, ternyata kelakuan tak beradab ini masih ada. Pelakunya masih anak-anak, beberapa di antaranya perempuan, dan teman-teman lainnya hanya melihat.

Hari ini serentak di banyak wilayah di Indonesia adalah hari pertama masuk sekolah. Selain tentunya diisi masa orientasi untuk siswa baru, biasanya juga ada kelas singkat antara siswa dan wali kelas yang baru. Saya rasa pendidikan karakter perlu lebih dibentuk lagi.

Sekarang bayangkan saat masih ingusan mereka tak segan menggencet temannya, saat kuliah membully mereka yang berkebutuhan khusus, kelak besarnya mau jadi apa? Tukang persekusi?

Perasaan superior di usia muda itu biasanya menjadi hal semu yang menyesatkan. Karena tanpa sadar sang anak tumbuh merasa agung dengan dirinya, tapi sebetulnya tak ada pencapaian hidup yang berarti dalam dirinya. Dan mau sampai kapan sih orang bisa survive dengan membully orang lain?

Jelas ada yang salah dengan didikan terhadap sekumpulan anak ini. Entah dari lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan, media sosial, televisi, atau bahkan kombinasi semuanya. Bisa jadi juga dia mencontoh orang-orang yang dia lihat entah keluarga, teman, atau medsos. Penyelesaiannya juga tak bisa hanya dari satu pihak. Ini sesuatu yang butuh penanganan komprehensif. Saya yakin kok kejadian seperti ini banyak tak cuma yang kebetulan videonya viral. Alasan ‘cuma main-main’ juga tak bisa diterima, memangnya nggak ada mainan lain yang bisa dilakukan?

Kedua soal radikalisme. Dalam posisi sebagai Ketua Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) Khadijah Surabaya Khofifah Indar Parawansa yang juga Menteri Sosial mengungkapkan saat ini sembilan persen pelajar yang ada di Indonesia sudah anti-Pancasila.

“Sembilan persen pelajar sudah anti-Pancasila. Ini PR kita. Saya ketemu yang dideportasi dari Turki, yang anak-anak dan ibu-ibu dikirim Densus ke Kemnsos. PR kita adalah tidak mudah kafirkan. Kita bersyukur ada NU yang ajarkan tawassuth, tawazun, iktidal, dan mabadi khoiro ummah. Itu PR agar orang tidak mudah berguru kepada ‘gadget’ yang tidak jelas sanad atau perawi. Karena kalau soal agama bisa berbahaya,”

Sumber: http://www.beritasatu.com/nasional/441703-khofifah-sembilan-persen-pelajar-di-indonesia-antipancasila.html

Saya pernah menemukan meme ini di medsos meski kini website yang disebutkan sudah diblokir oleh Kemenkominfo.Postingan yang atas nampaknya bersumber dari website muslim.bandung.id yang sudah terblokir. Meme dibawahnya adalah bentuk keprihatinan atas postingan tersebut.

Guru memegang peranan yang sangat penting karena mereka akan banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak di sekolah. Setiap apa yang mereka katakan akan sampai ke telinga muridnya. Kalau mau membasmi radikalisme di sekolah tentu salah satunya dimulai dari seleksi ketat terhadap guru yang ada. Kalau gurunya tidak Pancasilais jangan diterima mengajar apalagi sampai dapat tunjangan profesi segala. Buat apa? Mau uang negara tapi tak mau menghormati ideologi bangsanya?

Inilah di momen orientasi dan awal tahun ajaran baru, para pendidik dan pemegang kebijakan sekolah harus bisa memanfaatkan situasi dengan baik termasuk bagaimana mencegah anak didiknya menjadi murid yang gemar membully apalagi sampai terjangkit radikalisme. Dua-duanya sama-sama berbahaya. Siswa harus diingatkan lagi pentingnya menghormati sesama manusia dan cinta tanah air sebagai manifestasi kehidupan sebagai umat beragama maupun makhluk sosial.

Dan satu lagi yang ini untuk orangtua atau wali murid. Saya menemukan sebuah postingan yang lucu, semoga saja itu cuma jokes dan bukan kenyataan ya :

Biarkan anak Anda menikmati masa sekolahnya dan menemukan kenyamanan serta caranya sendiri untuk beradaptasi dan bertahan. Tak perlu memaksakan ambisi atau penyesalan atas apa yang dulu  mungkin tak bisa kalian capai di bangku sekolah kepada mereka. Biarkan mereka berkompetisi dan bertumbuh dengan wajar tanpa banyak dibebani oleh ambisi orangtua.

Baca Juga:

 “satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke).

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage