Bullying Mahasiswa Berkebutuhan Khusus, Kita Perlu Belajar pada Negara ‘Kafir’: Mengapa?

Bullying Mahasiswa Berkebutuhan Khusus, Kita Perlu Belajar pada Negara ‘Kafir’: Mengapa?

6

Ilustrasi (Foto: Nationalgeographic.co.id)

Bullying Mahasiswa Berkebutuhan Khusus, Kita Perlu Belajar pada Negara ‘Kafir’: Mengapa? – Orang berkebutuhan khusus bukanlah ciptaan atau produk Tuhan yang gagal. Setidaknya itu yang saya pernah baca di salah satu media nasional. Kala itu sejumlah orang berkebutuhan khusus melakukan aksi di Banda Aceh, ibukota  negeri Serambi Mekkah.

Berita ini sudah lama atau lebih kurang 4 tahun yang lalu. Judul itu tertanam kuat dalam benak saya. Ketika  saya mendengar, menonton atau membaca berita tentang kaum difabel, pikiran saya akan mengarah kepada perjuangan kaum difabel di Aceh.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan video bullying kepada mahasiswa berkebutuhan khusus di sebuah perguruan tinggi di Depok, Jawa Barat, benak saya langsung memutar kembali berita di Aceh tersebut (Baca: ). Peristiwa ini melibatkan mahasiswa yang nota bene generasi masa depan bangsa Indonesia. Lebih miris lagi, peristiwa atau kejadian ini terjadi di lingkungan akademik. Tempat berkumpul kaum cendekia atau akademisi dan calon intelektual. Lantas, pantaskah peristiwa layak terjadi di sana?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, penulis mengapresiasi langkah cepat polisi untuk menindaklanjuti kasus ini. Harapannya, polisi bekerja serius untuk mengusut tuntas dan menindak para pelaku dengan seadil-adilnya.

“Kalau nanti ada laporan kita selidiki, ada unsur pidananya atau tidak,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada Kompas.com, Minggu (16/7/2017).

Semoga pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya merespon jika ada laporan yang masuk. Kalaupun tidak ada laporan, polisi dapat mengusut kasus tersebut. Toh, jika polisi menunggu laporan, harapan saya ada masyarakat yang mau melaporkan kasus ini. Paling tidak, laporan itu berasal dari keluarga korban, aktivis atau LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan. Mereka dapat  proaktif melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib.

Langkah hukum harus ditempuh. Hal ini supaya memberikan efek jerah kepada para pelaku juga warning atau peringatan bagi yang lain bahwa kesewenang-wenangkan kepada kaum difabel merupakan tindakan melanggar hukum dan  tidak berkeperimanusiaan.

Orang berkebutuhan khusus bukan atas kehendak sendiri menjadi orang yang kondisi terbatas. Seandainya, kita mengajukan pertanyaan “Apakah Anda mau dilahirkan sebagai berkebutuhan khusus?” Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa yang namanya manusia siapapun dia akan menolak atau mengatakan tidak. Para pelaku bullying pun pasti akan menjawab hal yang sama. Tidak.  Lantas, mengapa kita tega bertindak sangat tidak manusiawi?

Kita tidak pula menyalahkan Tuhan bahwa kita, saya ataupun Anda terlahir dengan kondisi terbatas. Karena hakekatnya, Tuhan tidak pernah menciptakan manusia sebagai produk yang gagal. Biarkan Tuhan berkarya atas kehendak-Nya. Kewajiban kita manusia adalah menghargai sesama manusia sebagai citra-Nya. Pemahaman kita hanya mungkin terjadi jika kita memandang segala sesatu dengan  mata dan hati iman.

Soal kasus bullying di atas, saya melihat lemahnya akhlak kita. Sikap simpati dan empati kepada sesama – apalagi kepada kaum berkebutuhan khusus – sama sekali jauh dari praktek hidup kita. Kita kerap menjadi kaum difabel sebagai bahan ejekan dan guyonan. Kita mungkin berpikir bahwa itu canda saja. Tapi bila kita sadari betul sesungguhnya kita melukai hati dan perasaan orang lain. Bayangkan saja jika kasus itu menimpah Anda. Apakah reaksi Anda? Apakah Anda memilih diam dan pasrah?

Anda mungkin diam karena ketidakberdayaan. Akan tetapi hati kecil Anda pasti memberontak. Semoga kasus ini mendapat perhatian dunia perguruan tinggi di Indonesia. Harapannya, ada perubahan cara pandang dan perlakuan terhadap kaum difabel.

Kita harus akui penanganan kaum difabel di perguruan tinggi  belum serius.  Misalkan saja, apakah semua pergurun tinggi di Indonesia menerima calon mahasiswa berkebutuhan khusus? Apakah mereka menyediakan fasilitas yang ramah orang berkebutuhan khusus? Apakah mereka sudah mempersiapkan fasilitas yang mendukung mahasiswa yang berkebutuhan khusus? Masih banyak pertanyaan lainnya.

Melalui tulisan ini, saya ingin sharing pengalaman penulis sendiri sebagai seorang yang berkebutuhan khusus. Tulisan ini pula tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa saya Australian oriented ‘banget’. Tapi itulah fakta dan pengalaman penulis ketika penulis diperlakukan secara manusiawi di salah satu perguruan tinggi di negeri Kanguru.

Pemerintah Australia mewajibkan standar pelayanan mahasiswa berkebutuhan khusus di semua perguruan tinggi.  Mulai dari sarana dan prasarana seperti aksebilitas atau kendaraan untuk mobilitas mahasiswa berkebutuhan, juga layanan lain yang terkait dengan kebutuhan kaum difabel itu sendiri.

Setiap kampus memiliki Disability Suport atau bagian khusus yang melayani mahasiswa berkebutuhan khusus. Mereka melayani mahasiswa berkebutuhan khusus mulai dari sarana prasarana hingga konseling. Biasanya mereka memiliki database yang lengkap tentang mahasiswa dengan kebutuhan khusus. Ini tercatat sejak mahasiswa mendaftarkan diri di perguruan tinggi tersebut.

Berikut beberapa catatan yang menjadi pengalaman penulis selama menempuh pendidikan di Australia;

  1. Lembaga sponsorship atau beasiswa menyediakan financial support untuk mahasiswa berkebutuhan khusus. Nilainya sesuai dengan kebutuhan mahasiswa yang bersangkutan, misalnya AUD 500 per semester.
  2. Sebelum aktivitas kuliah atau pada masa orientasi kampus, mahasiswa berkebutuhan diwawancarai oleh unit Disability Support peri hal kebutuhan mahasiswa yang bersangkutan. Mahasiswa akan ditanya perihal apa saja kebutuhannya yang mendukung selama kegiatan belajar di kampus.
  3. Dukungan kampus dapat berupa scootter elektrik untuk membantu mobilitas mahasiswa berkebutuhan khusus di dalam kampus.
  4. Juga disiapkan kursi ergonomik yang nyaman bagi mahasiswa berkebutuhan khusus di ruang kelas.
  5. Bila ujian mid atau akhir semester, mahasiswa berkebutuhan khusus diberikan waktu ekstra untuk istirahat (break), minimal 10 menit. Hak ini tidak dimiliki oleh mahasiswa yang lain.
  6. Aksebilitas mahasiswa berkebutuhan khusus sangat diperhitungkan misalnya penentuan ruang kuliah yang didalamnya ada mahasiswa berkebutuhan khusus harus mudah diakses, misalnya ruang kuliah memiliki lift jika di gedung tingkat.
  7. Hal yang sangat penting atau patut kita pelajari dari mahasiswa asing, yakni mereka sangat care atau peduli dengan mahasiswa berkebutuhan khusus. Bentuk kepedulian seperti membukakan pintu gedung, jika pintu tersebut bukan pintu otomatis. Memungut barang­­­-barang milik mahasiswa yang jatuh, tapi mereka biasanya minta ijin dulu kepada mahasiswa yang bersangkutan. Alasannya, mereka tidak mau niat baik atau pertolongannya melukai perasaan mahasiswa berkebutuhan khusus karena umumnya masyarakat di dunia barat tingkat kemandirian sangat tinggi.

Semoga coretan di atas mendapat perhatian dari pemerintah dan perguruan tinggi di Indonesia. Bagaimana caranya mengatur, menangani dan memperpelakukan mahasiswa berkebutuhan khusus secara manusiawi Sehingga hal-hal seperti kasus bullying terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus tidak terulang lagi. Maka dari itu, kita tidak perlu malu belajar soal penanganan mahasiswa berkebutuhan khusus di negara-negara yang sering kita cap sebagai negara kafir. Kenyataan memang mereka lebih baik daripada kita. Itu jika kita tidak mau  dicap sebagai bangsa yang cacat hati.

Salam Seword, sewot gitu loh..

Baca juga:

Jika ingin membaca tulisan saya yang lain, klik atau temukan pada halaman Giorgio Babo Moggi

Share.

About Author

Menulis adalah cara mengekspresikan diri tanpa terbelenggu.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage