Cerdas Sejak Dini Membangun Generasi Berbudi

Cerdas Sejak Dini Membangun Generasi Berbudi

0

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kiasan ini sudah jarang terdengar. Cita-cita yang dimaksud untuk generasi milenial saat ini lebih dikenal dengan kesuksesan dalam meraih penghasilan (material) sebanyak mungkin. Di Indonesia, bekerja sebagai pegawai baik swasta maupun negeri, dinilai lebih efektif dalam mengumpulkan penghasilan.

Tak heran, begitu banyak lulusan sarjana rela mengantri dalam perekrutan beberapa kursi di sebuh perusahaan ternama. Namun, terkadang latar belakang pendidikan bukanlah penilaian utama. Jabatan dalam perusahaan bisa diperoleh dari garis keturunan, koneksi, dan yang tak kalah berbicara adalah uang. Hal ini berujung pada kemerosotan moral para pencari kerja di Indonesia, utamanya generasi penerus bangsa. Jadi, apakah gunanya gelar Sarjana atau Diploma yang diperoleh setelah mengenyam pendidikan tinggi?

Untuk sebagian besar penduduk Indonesia, sekolah hingga perguruan tinggi dirasa mudah dilakukan. Saat ini begitu banyak tawaran beasiswa mulai dari anak-anak Indonesia yang berprestasi, hingga para karyawan yang ingin melanjutkan studi. Tidak hanya dari pemerintah, pihak swasta melalui program CSR pun berlomba melantunkan sosialisasi dengan memberikan bantuan material untuk meringankan biaya pendidikan. Bagi komunitas sosial kelas menengah ke atas, biaya pendidikan tidak menjadi masalah. Menurut TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan), mengacu pada Peraturan Mendiknas Nomor 69 Tahun 2011, Program BOS (Bantuan Operasional) yang disalurkan sejak tahun 2012 membebaskan pungutan biaya nonpersonalia selama 1 tahun mulai dari tingkat SD negeri dan swasta, namun tidak termasuk Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Di Indonesia, perkembangan pendidikan erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari Data Pokok Pedidikan dalam Ikhtisar Data Pendidikan Tahun 2016/2017 yang dipublikasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Menurut data tersebut, jumlah bangunan Sekolah Dasar (SD) Negeri paling banyak memenuhi daratan Indonesia, yakni hampir 44%, disusul bangunan Taman Kanak-Kanak pihak swasta sekitar 28% dan urutan ketiga, bangunan Sekolah Menengah Pertama milik Negeri  7,5% (tidak termasuk Perguruan Tingg). Program WAJAR sembilan tahun tepat diterapkan di Indonesia.

Sayangnya, lokasi infrastruktur sekolah masih terpusat di kota-kota dengan pertumbuhan ekonomi tinggi. Menurut Data Pokok Pendidikan SD Tiap Provinsi Tahun 2016/2017, penyebaran sekolah SD terbanyak ada di Pulau Jawa, yakni mencapai 45%. Sementara yang paling sedikit (2%) ada di Pulau Papua yang hanya terdiri dari 2 Provinsi, yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat (Pulau terbesar di Indonesia). Di Pulau Kalimantan (sebagai pulau terbesar kedua di Indonesia) hanya memiliki 8% sekolah SD. Hal ini menimbulkan kecenderungan masyarakat bahwa sekolah di Pulau Jawa jauh lebih baik daripada pulau lainnya.

Perlu disadari, bahwa umumnya sekolah di Indonesia lebih fokus pada penilaian IQ (Intelligence Quotient). Pada tahun 2006, seorang penulis dan peneliti kepemimpinan bernama Daniel Goleman Ph.D dalam bukunya yang berjudul ”Emotional Intelligence : Why It Can Matter More Than IQ” mengemukakan hasil studi bahwa keberhasilan sebuah perusahaan berkaitan erat dengan kecerdasan emosional karyawannya.

Bila kecerdasan kognitif pada dasarnya diturunkan secara biologis, maka kecerdasan emosional berawal dari hubungan dalam komunitas terkecil, yaitu keluarga. Sebuah keluarga menjadi pusat sarana pembelajaran kecerdasan emosional anak. Makna emosional dipelajari seseorang sejak bayi, pertama kali dari raut wajah orang tuanya (orang yang mengasuh).

Bayi yang tumbuh menjadi anak, mempelajari emosional dari visual (penglihatan) dan audio (pendengaran) atas tiap kata yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Komunikasi verbal yang sopan dan interaksi yang harmonis antar anggota keluarga mendukung emosional anak ke arah positif. Kemajuan teknologi dan arus informasi global turut mempengaruhi emosional anak. Tayangan di media televisi, smartphone, majalah maupun surat kabar perlu disaring oleh orang tua sebelum dicerna anak.

Komunitas sekolah dan lingkungan masyarakat merupakan sarana bagi anak untuk sosialisasi emosional yang diperolehnya dari keluarga. Selain sebagai media penilaian kognitif, sekolah juga berperan sebagai saluran untuk menampilkan kecerdasan emosional anak. Seperti lingkungan masyarakat, sekolah menilai emosional seseorang dengan predikat bermoral/tidak bermoral. Penelusuran lebih lanjut akan dikatikan dengan keluarga yang melatarbelakangi sang anak. Itu sebabnya, pihak sekolah akan menghubungi orang tua atau wali asuh bila diketahui anak tersebut melakukan tindakan di luar batas kewajaran karena menunjukkan emosionalnya secara berlebihan.

Sebagai generasi penerus bangsa, pendidikan intelektual dan emosional anak penting untuk dilakukan. Peran aktif sekolah dan respon positif keluarga mendukung perkembangan intelektual dan emosional anak ke arah yang lebih baik. Penguatan internal keluarga akan menjamin integritas anak bangsa yang berbudi baik dimana pun mereka berada.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage