Empat Masalah Pendidikan di Indonesia

Empat Masalah Pendidikan di Indonesia

11

Berbicara tentang pendidikan merupakan sesuatu yang tak akan ada habisnya karena pendidikan dengan segala komponennya akan selalu berubah mengikuti pola kehidupan zaman. Teori tentang pembelajaran yang dahulu dianggap sangat efektif pun tak serta-merta dapat digunakan oleh pelajar pada zaman modern ini. Maka dari itu, perubahan adalah suatu keharusan agar tujuan dari pendidikan akan tercapai secara sempurna. Lalu yang jadi pertanyaan, efektifkah perubahan itu dilakukan dalam rentan waktu yang sangat singkat sebagaimana pak menteri yang kemungkinan besar akan diganti setiap periode kekuasaan yang berbeda?

Ini adalah problematika yang sering didiskusikan oleh sekian banyak intelektual, mahasiswa maupun para guru yang terjun langsung sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia. Namun sebelum terlalu jauh terlarut dalam konsep-konsep yang membingungkan, ada baiknya kita mengenali terlebih dahulu beberapa masalah pendidikan di negeri tercinta ini.

Pertama, miskinnya program studi yang menyalurkan bakat siswa.

Kejadian ini tak hanya ditemukan di kampung-kampung terpencil. Justru di kota-kota besar yang seharusnya menjadi contoh pendidikan pun masih terlalu monoton jurusan dan penyaluran bakat. Akibatnya, seluruh waktu siswa terbuang hanya untuk mendalami kecerdasan kognitif semata sehingga kesempatan untuk mengasah bakatnya seakan dilenyapkan oleh sekolah. Sekolah yang seharusnya menjadi ajang untuk mencari dan mengasah bakat kini berubah fungsinya hanya menjadi tempat menghafal yang tidak mengembangkan kreatifitas pemikirannya. Ditambah lagi, sekolah yang menerapkan sistem fullday school jelas akan sangat berbahaya karena kesempatan mengasah bakat yang biasanya para siswa selipkan setelah pulang sekolah kini tak bisa lagi mereka lakukan.

Kedua, konsep hafalan yang terlalu mendominasi sehingga pengembangan pemikiran cenderung rendah.

Ujian merupakan sesuatu yang menakutkan bagi peserta didik di Indonesia, terutama ketika Ujian Nasional yang hanya berlangsung sekian jam dianggap mampu menjadi penentu proses belajar siswa sekian tahun. Biasanya, seorang siswa akan dianggap pintar ketika dia mampu menjawab soal ujian sesuai dengan apa yang tertera di buku pelajaran. Pandangan seperti ini harus diubah dengan segera. Benar hafalan memang penting, tetapi bukan berarti pengembangan pemikiran harus dipinggirkan begitu saja karena kelak yang akan menentukan kesuksesan siswa bukan hanya hafalannya tetapi kemampuan dia untuk menyelasaikan suatu permasalahan berdasarkan kemampuan berfikirnya.

Ketiga, minat membaca yang sangat rendah.

Menurut hasil survei UNESCO pada tahun 2016, minat membaca orang Indonesia sangat rendah. Bahkan dari enam puluh satu negara yang di survei, Indonesia menempati urutan ke enam puluh dengan tingkat minat 0,001 %. Ini merupakan salah satu bencana intelektual yang dilupakan oleh pemerintah, sebab andai bencana ini tidak ditanggulangi dengan serius, Indonesia kelak hanya akan menjadi bangsa yang tertinggal, karena membaca merupakan salah satu senjata untuk mengarungi masa modern. Tidak peduli sebanyak apapun sumber daya alam yang kita miliki, jika kualitas sumber daya manusianya sangat rendah dalam tanda kutip , maka sumber daya alam itu hanya akan jadi rebutan bangsa lain, sementara kita dengan kebodohannya akan dengan mudah ditipu daya oleh oknum-oknum jahat.

Ke-empat, rendahnya anggaran pendidikan.

Anggaran pendidikan di Indonesia pada tahun 2017 sebesar Rp 39,82 Triliun yang akan digunakan untuk memperbaiki sekolah yang rusak, menggaji para guru serta untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan lainnya. Ini menunjukkan fokus pemerintah untuk membenahi sektor pendidikan masih terhalang oleh biaya. Apalagi Presiden Jokowi yang lebih terlihat memfokuskan pemerintahannya untuk meningkatkan ekonomi sehingga pendidikan akan sedikit teralihkan perhatiannya. Oleh karena itu, butuh perhatian dan tanggung jawab dari masyarakat hingga pengusaha agar tidak ada lagi guru honorer yang digaji hanya dengan sekantong plastik beras.

Ke-empat masalah di atas hanyalah segenggam masalah dari sekian banyak masalah yang dapat dituliskan dalam tulisan yang terbatas ini. Sisanya, silakan datangi sendiri ke sekolah-sekolah di sekitar kita, rasakan bagaimana beratnya perjuangan membangun karakter dan intelektual para siswa. Apalagi ketika pemerintah membiarkan tayangan tak bermutu ditayangkan pada jam belajar di rumah, apalagi ketika artis-artis yang dibayar begitu mahal sementara seorang guru berjuang setengah mati hanya mendapatkan rupiah tak seberapa, apalagi ketika narkoba kini dapat ditemukan hanya beberapa langkah dari perkampungan penduduk serta masih ada puluhan hingga ratusan kata apalagi yang akan semakin memberatkan perjuangan pahlawan tanda jasa di bumi pertiwi.

Semoga saja tulisan ini mampu mengetuk nurani, serta membuka mata betapa kondisi pendidikan anak cucu kita yang semakin lama semakin memprihatinkan, agar setidaknya tak ada lagi kursi empuk yang dibeli saudara kita di parlemen yang mengorbankan biaya renovasi sekolah yang hampir runtuh.

Share.

About Author

Pembicara yang tak fasih, pemikir yang tak pandai, penulis yang tak kunjung selesai

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage