full Day School Dipatahkan Presiden Jokowi, Mendikbud Sering Buat Gaduh. Bu Susi Mana Yaa?

full Day School Dipatahkan Presiden Jokowi, Mendikbud Sering Buat Gaduh. Bu Susi Mana Yaa?

8

Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua. Tetaplah berpelukan dalam perbedaan, jangan lelah mencintai Indonesia. Jangan jadikan perbedaan sebagai bibit perpecahan tapi jadikan keberagaman sebagai modal kekuatan untuk kita, bahwa dengan Bhineka kita Tunggal Ika. Merdeka

Jokowi Batalkan Program “Full Day School”

itu judul berita merdekadotcom. Biar tak di tuduh honorer antek pemerintah berikut saya tautkan link beritanya : Baca ini!

Bagi saya itu sebagai jawaban atas pernyataan tendensius para honorer yang mendeskreditkan Presiden Jokowi. Ceritanya begini, beberapa hari lalu sejak isu Full Day School ini muncul ke permukaan ada banyak pasukan sumbuh pendek yang serta merta langsung menghujat pemerintah dan khususon Presiden Jokowi menjadi sasaran tembak. Siapa saja pasukan Honorer itu?

Yaaa, mereka ada termasuk barisan saya, barisan budak modern para Guru Honorer Indonesia. Keluhan mereka beragam, ada yang kritik membangun dan itu tidak masuk radar sumbuh pendek, saya contohkan kira-kira kalimat mereka diantaranya “full day school hendaknya difikirkan lagi, bagaimana bisa terlaksana jika kesejahteraan Guru Honorer saja pemerintah tidak pedulikan.

Bagi saya itu ok, dan kritik cerdas, bukan nyinyir tanpa solusi. Bagaimana pula yang masuk dalam sumbuh pendek? Tak usah saya tuliskan contoh, tapi saya umpamakan pokoknya mereka ini barisan “Salawi” (Salah Jokowi) jika diterjemahkan dalam bahasa Melayu, artinya adalah “Sikit-sikit salah Jokowi. Nyinyir tanpa solusi, dan biasanya mereka ini adalah condong ke radikal gitu.

Di beberapa postingan mereka saya komentari “Sabar ini ujian, kan yang menginginkan kebijakan itu Si Pak Menteri, bisa saja Presiden menolak, seperti ketika beliau ingin menghapus Ujian Nasional, toch kandas karena Presiden tidak setuju,  tidak adil jika kita selalu menyalahkan Presiden. Kalau saudara merasa tidak nyaman lagi dipimpin beliau ada baiknya saudara mengungsi dululah menjelang Presiden pensiun”

Yaaa, kira-kira begitulah komentar saya. Apa yang membuat saya sedih? Komentar-komentar miring serta kritik yg tidak produkif itu dilakukan oleh orang-orang yang kadang berjuang bersama saya. Kalau boleh pinjem istilah Pak Mantan “Saya Prihatin” sumpah. Kalaulah dia memang bukan pendukung Jokowi di Pilpres lalu bukan begitu caranya.

Sodara Honorer sebangsa dan setanah air, saya berbicara demikian bukan sebagai honorer sesat seperti yang dituduhkan, bukan juga sebagai honorer antek pemerintah, tetapi saya berbicara di sini atas nama rakyat Honorer yang waras otak dan hatinya, jikapun kita rasakan tidak adil atas penistaan honorer selama ini, ada cara-cara melawan yang dilegalkan konstitusi kita bukan malah mengancam pemerintah mau gabung ISIS segala, lalu menghujat Presiden, ingat negara ini tidak akan rugi kehilangan manusia bermental pelacur semacam itu.

Cerita didustai dan dikhianati Negara? “Sama bos, saya juga Honorer, SK CPNS saya tahun 2009 itu diperkosa Setan secara berjamaah di Badan Kepegawain Negara (BKN) sejak tahun itu sampai sekarang saya terus menggugat hak saya, apa pernah saya mengancam mau pasang Boom di kantor BKN?”

kesimpulan dan Penutup.

Sebagai warga negara, mari kita menghormati para penyelenggara Negara, dan Presiden didalamnya, karena mereka sah secara konstitusional, bagi yang kemarin Pilpres bukan pemilihnya “ayolah move on kawan” jangan jadi rakyat opisisi sementara kau masih belum bisa mawas diri. Terkadang masyarakat kita itu hanya bisa menuntut pemerintah itu sempurna tapi pernahkah kita bertanya pada diri kita, sudah sempurnakah kita sebagai warga negara, ditilang Polisi, maki-maki, padahal memang bener langgar aturan. Melihat Polisi disuap ketika proses tilang, ngocehnya sampai Beruang di kutup utara sana terbangun oleh ocehannya, padahal kalau masyarkat kompak tidak mau menyuap apakah ada praktik suap?

Jadi kesimpulan dari artikel ini, mari kita jadi pelopor cerdas bermedia sosial, cerdas sebagai masyarakat dalam artian kita tidak serta merta nyinyir tanpa menawarkan solusi. Kepada Bapak Presiden, kalau saya boleh berbisik kepada Bapak “Pak ntuh Menteri Pendidikan sudah sering buat kegaduhan, sudah saatnya Bu Susi dilibatkan” (Taulah maksudnya kan) hahaha

Wasalam Suara Honorer

Yolis Syalala

Share.

About Author

Kaca mata HONORER

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage