Full Days School, Peraturan Menteri Yang Menyimpang

Full Days School, Peraturan Menteri Yang Menyimpang

12

Mendikbud Muhadjir Effendi telah mengeluarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur tentang pemadatan jam sekolah untuk sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, tetapi sayangnya dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut tidak secara tegas dan jelas menjelaskan apa korelasi antara full days school dengan pendidikan karakter yang selama ini digaungkan oleh Kemendikbud.

Peraturan menteri tersebut hanya terfokus pada penambahan jam belajar siswa. Saya pribadi menilai tidak ada korelasi positif antara penambahan jam belajar dengan penguatan karakter siswa, yang ada malah siswa jadi tambah strees karena seharian cuma lihat buku dan papan tulis.

Karakter seseorang itu terbangun atau dibangun dari hal-hal yang memiliki nilai emosional tinggi yang terjadi berulang-ulang sehingga akan tersimpan dalam memorinya dan akan bisa mempengaruhi karakter seseorang. Contohnya, kalau kita hidup dilingkungan pemabuk atau penjudi, kemungkinan besar kita juga akan jadi pemabuk atau penjudi, walaupun tidak selamanya seperti itu, tapi minimal sudah pernah merasakan bagaimana itu rasanya miras dan bagaimana rasanya ketagihan berjudi, ingatan seperti ini yang akan membekas terus di memori yang bisa mempengaruhi karakter seseorang.

Full days school tidak hanya berdampak buruk terhadap kejiwaan siswa karena akan membuat stress para siswa, tetapi juga akan berdampak pada hak-hak anak. Pendidikan itu memang suatu hal yang wajib dan itu sudah kita sepekati bersama, tapi mendikbud Muhadjir Effendi juga tidak boleh lupa jika anak-anak juga mempunyai hak untuk bermain, bersosialisasi dan mengembangkan dirinya.

Karakter anak lebih dominan dipengaruhi oleh masanya dalam bermain dan bersosialisasi daripada belajar disekolah. Kalau mendikbud ingin membangun penguatan karakter siswa, seharusnya mata pelajaran tentang agama dan kebangsaan yg di rumuskan sedemikian rupa untuk membentuk karakter siswa, bukan jam belajarnya yang ditambah, karena terlalu lama belajar itu bukan hanya tidak efektif, tapi juga terlalu memforsir tenaga alias sia-sia.

Kalau seharian penuh para siswa hanya berada di sekolah, lalu kapan waktu mereka untuk bermain, untuk bersosialisasi, untuk mengembangkan diri, untuk beribadah (mengaji untuk yang muslim), dan lain-lain. Tenaga mereka akan terforsir bahkan habis pada hal-hal yang berkaitan dengan ilmu dan pengetahuan, sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan pembentukan karakter akan tersisihkan.

Contohnya begini, kalau anak-anak seharian berada disekolah, pulang sekolah suah capek, langsung tidur, dan hal ini berulang seperti ini sehari-hari, dampaknya malah akan buruk untuk kejiwaan siswa, siswa akan menjadi apatis, strees dan mungkin egoismenya akan susah untuk dikendalikan, karena dalam pikirannya hanya bagaimana bisa mendapat nilai bagus disetiap mata pelajaran.

Lalu untuk apa full days school diterapkan jika dampak positifnya untuk siswa tidak relevan dengan tujuan dari sebuah pendidikan, apakah ada agenda lain dibalik diberlakukannya full days school oleh Mendikbud Muhadjir Effendi?.

Mendikbud itu tidak hanya mengurusi tentang pendidikan saja, tetapi kebudayaan juga harus diperhatikan. Namanya saja menteri pendidikan dan kebudayaan, tetapi kebijakannya mengenai pendidikan malah bertentangan dengan kebudayaan. Kebudayaan Bangsa Indonesia itu adalah bersosialisasi, mau anak-anak, mau dewasa ataupun orang tua, bersosialisasi adalah salah satu bentuk kebudayaan kita sebagai Bangsa Indonesia, jadi jangan batasi waktu bersosialisasi anak-anak dengan menerapkan kebijakan prematur yang hanya trial and error.

Sekadar usul saja untuk Pak Mendikbud, kalau tujuannya memang untuk penguatan karakter siswa mengenai nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan karakter, seharusnya pelajaran tentang Pancasila, pelajaran tentang patriotisme, pelajaran tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dan pelajaran lain yang relevan tentang kebangsaan yang harus ditambah atau dirumuskan pokok-pokonya, bukan jam belajarnya yang ditambah, karena akan mubadzir kalau sampai jam belajarnya ditambah tapi siswa tidak mendapatkan memori yang membekas tentang nilai-nilai kebangsaan.

Saya rasa perdebatan tentang full days school ini bukanlah hal yang sepele, jadi memang harus dipikirkan secara masak-masak oleh semua pihak tentang segala aspek yang nantinya akan terkena dampak jika memang full days school ini diterapkan oleh Mendikbud.

Mendikbud juga harus mau mendengarkan masukan dari semua pihak tentang kebijakan full days school ini, baik pihak yang setuju maupun pihak yang tidak setuju terhadap kebijakan tersebut.

PBNU sudah dengan tegas menolak kebijakan tersebut karena dinilai akan mematikan Madrasah Dinniyah. Kita semua tahu kalau virus radikalisme sudah sangat tumbuh subur di Indonesia ini berkat paham-paham monopolistik agama yang disodorkan mentah-mentah oleh pihak-pihak tertentu melalui berbagai cara pada generasi-generasi penerua bangsa ini. Melalui Madrasah Dinniyah, NU melakukan semacam kontra-radikalisme dengan mengajarkan bahwa Islam itu adalah agama yang damai dan penuh dengan kesejukan.

Jadi kalau sampai kebijakan full days school ini diterapkan sehingga berpengaruh langsung pada Madrasah Dinniyah yang sudah sekian lama berjuang menangkal virus-virus radikalisme, maka hal ini akan sangat disayangkan karena bertentangan dalam hal menjaga Indonesia agar terbebas dari virus-virus radikalisme berkedok agama.

Hal-hal sensitif seperti ini harus dibicarakan secara intensif dan mendalam oleh semua pihak agar kebijakan yang dikeluarkan oleh Mendikbud tidak bertentangan atau menyimpang dari pokok-pokok masalah yang sedang di hadapi oleh Bangsa Indonesia. Mendikbud juga tidak boleh menutup telinga tentang masukan-masukan dari semua pihak yang berkaitan dengan kebijakan full days school ini.

Jayalah Indonesia.

Salam damai Indonesiamu.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage