Ingin Menjadi Orangtua Ideal? Pahami 5 Bahasa Cinta Ini

Ingin Menjadi Orangtua Ideal? Pahami 5 Bahasa Cinta Ini

6

Pelukan, salah satu yang dibutuhkan anak agar selalu merasa aman.

Pada artikel sebelumnya, saya mengulas tentang kategori orang tua. Dari mulai yang terlalu protektif, terlalu mudah mengizinkan, terlalu menuntut berlebihan pada anak, menolak kehadiran anak, tidak mau repot, dan terakhir tipe ideal.

Nah, dalam tulisan ini, saya ingin menuliskan tentang tipe orang tua ideal. Sebab ada beberapa komentar yang masuk dan menginginkan agar tipe orang tua ideal bisa dibeberkan lebih mendalam.

Sebagai orang tua, tentu semua berharap menjadi sosok yang ideal. Meski tidak ada sekolah khusus menjadi orang tua, namun cukup banyak sekali seminar parenting termasuk buku-buku teknik pengasuhan yang bertebaran di rak-rak buku. Termasuk, belajar dari pengalaman orang lain melalui sharing hingga diskusi. Pendek kata, banyak cara untuk mendapatkan informasi bagaimana menjadi orang tua yang ideal.

Untuk menjadi orang tua ideal, salah satu yang perlu dipahami adalah tentang lima bahasa kasih atau lima bahasa cinta. Teori ini adalah milik penulis buku 5 Loves Languages yang ditulis Gary Chapman.

Yang dibutuhkan anak adalah satu hal, yakni rasa aman (save). Rasa aman ini berbanding lurus dengan baterai kasihnya. Ibarat telepon seluler, baterai tentu harus selalu penuh agar bisa digunakan untuk berkomunikasi dan sosialisasi. Anak pun ibarat telepon seluler yang baterai kasihnya harus selalu diisi agar selalu normal.

Jika baterai kasih anak drop, alias kekurangan kasih sayang, tentu akan tidak merasa aman. Ketika anak sudah merasa tidak aman, inilah yang menyebabkan anak berperilaku menyimpang. Dari mulai marah, ngambek, menangis, ngamuk, hingga perilaku lainnya yang dianggap negatif.

Coba bayangkan ketika baterai telepon seluler Anda sedang drop, pasti langsung berbunyi, meminta untuk diisi. Selain itu, pasti sudah tidak bisa lagi digunakan secara maksimal dan rewel.

Untuk itulah, baterai kasih anak harus selalu diisi. Yang wajib sebagai pengisi utama baterai kasih anak ini adalah ayah dan ibunya. Bukan kakek, nenek, tante, paman, apalagi pembantu.

Ayah dan ibu ibarat setrum dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Lebih efisien dan cepat penuh. Sementara kakek, nenek, tante, paman, hingga pengasuh, ibaratnya adalah pengisi daya cadangan seperti powerbank. Maka jangan heran jika ayah dan ibu tidak bisa mengisi baterai kasih, anak tentu akan mencari powerbank. Yang mengkhawatirkan adalah, ketika powerbank itu berupa kecanduan film porno, mengisap lem, narkoba, hingga pergaulan negatif lainnya.

Kedua orang tua harus memastikan mengisi sendiri baterai kasih anak, agar tidak ketergantungan dengan powerbank lain yang kualitasnya bisa saja diragukan.

Berikut ini adalah lima cara untuk mengisi baterai kasih anak.

Pertama, pujian. Anak memerlukan pujian. Sekecil apa pun keberhasilan anak, upayakan untuk memberikan penghargaan berupa pujian atau kalimat pendukung lainnya yang positif. Jika anak pulang sekolah dan buru-buru ingin memperlihatkan hasil karyanya yang bagus, atau menunjukkan nilainya yang tinggi, segera beri respons. Hentikan semua aktivitas Anda, lantas beri apresiasi penuh apa yang sudah ditunjukkan.

Wah, hebat. Kamu bisa menggambar dengan rapi. Pertahankan terus, dan usahakan lebih baik lagi,” begitu kira-kira contoh kalimat pendukung yang bisa mengisi baterai kasih anak.

Tuh kan, kamu bisa dapat nilai bagus. Anak mama pinter sekali. Asalkan kamu selalu rajin mengulang pelajaran di rumah, kamu pasti bisa semakin paham dan semakin jago lagi.” Tentu, masih banyak contoh pujian lainnya, yang pasti diperlukan untuk anak agar baterai kasihnya terisi.

Kedua, waktu berkualitas. Pernahkan anak protes ketika Anda hendak berangkat bekerja? “Pa, papa di rumah aja, ngga usah kerja,” begitu kalimat protes dari anak. Jika kalimat protes itu yang dilontarkan, menunjukkan bahwa anak membutuhkan waktu berkualitas dengan orang tuanya. Ia menginginkan interaksi lebih lama dengan ayah atau ibunya.

Satu hal yang patut dipahami, tak sedikit orang tua yang meski berada di rumah, tapi tidak punya waktu berkualitas dengan anak. Interaksi dengan anak sangat kurang. Kenapa? Salah satunya karena lebih suka memegang telepon seluler dan aktif di media sosial ketimbang interaksi dengan anak.

Bahkan, saat berjalan-jalan ke mal, berapa banyak keluarga yang sejatinya tidak memanfaatkan waktu berkualitas. Jalan bareng tapi masing-masing pegang gadget. Baik ayah ibu maupun anak-anak, masing-masing sibuk dengan gadget-nya. Akibatnya, waktunya menjadi tidak berkualitas dan baterai kasih anak tidak terisi dengan maksimal.

Ketiga, sentuhan. Memberikan sentuhan lembut dengan penuh kasih sayang pada anak, juga sangat diperlukan. Apalagi jika anak suka menyentuhkan tubuhnya pada ayah atau ibunya, itu mengindikasikan dia memiliki kecenderungan ingin disentuh. Misalnya tiba-tiba anak duduk di pangkuan Anda, meminta gendong, atau minta dipeluk. Termasuk ketika tidur ingin diusap kepalanya, itu menandakan anak membutuhkan sentuhan.

Namun sebaiknya, tak perlu menunggu anak meminta. Langsung saja secara otomatis berikan sentuhan kapan pun jika memang sebagai orang tua punya waktu. Bahkan, meski anak sudah beranjak remaja, sentuhan dalam bentuk usapan di kepala, pundak, hingga pelukan, tetap diperlukan agar baterai kasihnya selalu terisi.     

Keempat, pelayanan. Memberikan pelayanan pada anak juga merupakan salah satu upaya mengisi baterai kasihnya. Membantu mempersiapkan buku pelajaran, mempersiapkan sepatu, hingga menyiapkan makanan pada anak, adalah bentuk pelayanan.

Yang kerap terjadi adalah, tak sedikit orang tua yang memberikan pelayanan sambil ngomel atau ngedumel. Akibatnya, baterai kasih anak menjadi tidak terisi. Berikan pelayanan sepenuh hati. Sembari memberikan pelayanan, niatkan dalam hati agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berkualitas.

“Kalau dilayani terus, kapan bisa mandiri?” begitu protes orang tua ketika mendengar teori ini. Yakinlah, pada akhirnya anak tetap mandiri. Memberikan pelayanan bukan berarti anak tidak bisa mandiri. Tetap ada batasan yang jelas antara melayani dengan memanjakan. Jika sejak kecil semua hal dibantu pembantu, jelas ini memanjakan. Apalagi mudah menyuruh pembantu.

Sementara pelayanan berbeda, karena jika diajarkan sejak dini, anak pun akan paham mana yang meminta tolong dilayani dan mana yang menyuruh seperti laiknya kepada pembantu.

Terakhir, kelima, hadiah. Hadiah, tentu tidak harus mahal. Hadiah kejutan berupa makanan kesukaan, atau mainan favorit, tentu bisa menjadi cara untuk mengisi baterai kasih anak. Hadiah di sini adalah yang tanpa syarat. Jika mendapat sesuatu dengan syarat tertentu, tidak masuk dalam kategori ini. Berikan hadiah tanpa syarat apa pun, dan itu menjadikan anak merasa dihargai dan dibutuhkan keberadaannya.

Lima bahasa cinta di atas, harus diisi dengan tambahan tatapan mata yang tulus. Usahakan, saat berkomunikasi dengan anak, mata orang tua dan anak sejajar.

Meski lima bahasa cinta itu berlaku umum, namun pada setiap anak ada bahasa cinta yang dominan. Ada yang lebih suka dipuji, suka waktu berkualitas, suka disentuh, suka dilayani, dan lebih suka dikasih hadiah.

Lantas, yang mana bahasa cinta anak Anda? (*)

 

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage