Jangan Belajar dari Jakarta, Disana Masih Lebih Banyak Orang Bodoh

Jangan Belajar dari Jakarta, Disana Masih Lebih Banyak Orang Bodoh

97

kompas.com

“Jangan bangga hanya karena merantau, sekolah di Jakarta, atau hanya sekedar punya KTP Jakarta sebab disana masih lebih banyak orang dungu daripada orang pintar. Banggalah jika engkau sudah menjadi bagian dari mereka yang bisa berpikir cerdas.”

Kutipan diatas saya update di akun FB mengomentari hasil perhitungan sementara Pilkada DKI Jakarta hari ini. Dalam hitung cepat Litbang Kompas Anies-Sandi unggul 58%, jauh meninggalkan pasangan Ahok-Djarot. Meski masih dalam tataran hitung cepat, hampir bisa dipastikan Ahok-Djarot harus menyudahi tugasnya sebagai gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta.

Melihat hasil Pilkada di DKI tahun ini, banyak orang bisa memberi kesimpulan bahwa Jakarta tidak sebagaimana yang banyak dipikirkan orang. Jakarta yang notabene adalah ibu kota negara, ternyata belum bisa menjadi contoh rasionalitas di bumi Indonesia. Pilkada tahun 2017 ini membuka aib manusia yang ada di Jakarta.

Dalam berbagai survei tingkat kepuasan terhadap kinerja  pasangan Ahok-Djarot dalam memimpin Jakarta selalu diatas 70%. Namun dalam fakta pemilihan kepala daerah putaran kedua, hasilnya berbanding terbalik. Ahok hanya dipilih oleh 42% orang Jakarta. Bagaimana orang yang merasa puas akan kinerja seseorang pemimpin tapi tidak memilihnya kembali untuk memimpin? Bukankah itu salah satu bukti bahwa banyak orang di Jakarta belum bisa berpikir rasional? Hanya “kebodohan’ satu-satunya jawaban.

“Yah, di sini mah orang bodoh semua,” teriak Maimunah, warga Kampung Lapak dari belakang kerumunan orang, di Jakarta, Sabtu.

Teriakan Maimunah sempat memancing perhatian sekitarnya. Namun, mereka tak peduli dan tetap memperhatikan arah ke depan.

Sementara itu, Anies juga tidak terpengaruh dan tetap melanjutkan penyampaian program-programnya.

Saat dikonfirmasi, Maimunah mengaku mengatakan hal itu lantaran menganggap dirinya orang kampung. Ia pun tak tahu apa yang ingin diaspirasikan.

“Namanya orang kampung, disuruh milih ini, ya nurut aja,” katanya.(http://megapolitan.kompas.com)

 

Ahok sudah bekerja dengan sangat baik. Dia sudah membuat banjir di Jakarta berkurang. Para penghuni di bantaran kali dipindah dan dimanusiakan dengan memberi hunian-hunian yang cukup baik dan layak. Rakyat yang miskin dan hidup tak layak diberi biaya sekolah, yang sakit diberi jaminan kesehatan yang cukup menjanjikan. Mengapa semuanya itu tidak dilihat sebagai sebuah bukti keberhasilan dalam memimpin?

Pemimpin yang fenomenal ini sudah menutup banyak tempat prostitusi dan tempat peredaran narkoba. Dia memperbaiki kinerja  birokrasi pemerintahan yang lamban. Dia membuat sarana dan prasarana berubah dan semuanya hasil kerja kerasnya dalam memperbaiki Jakarta. Masjid raya dijadikannya sebagai etalasi keilmuan agama Islam. Dan masih banyak lagi yang sudah diusahakan. Rakyat Jakarta merasa puas akan semuanya itu, mereka juga mengakui bahwa wajah Jakarta sudah jauh berubah. Bahkan sudah sangat layak disandingkan dengan berbagai kota terkenal di dunia. Tapi mengapa tidak dipilih kembali? Hanya “kebodohan’ satu-satunya jawaban

Melihat hasil perhitungan Pilkada ini, banyak orang memang tidak menduga hasilnya demikian mengejutkan. Keterkejutan itu tentu selaras dengan konsep dan pengakuan kita bahwa orang Jakarta sudah sangat cerdas dan sudah mengerti mana yang lebih baik untuk kemajuan kotanya. Kita merasa bahwa Jakarta adalah kota metropolitan dan dikelilingi oleh beraneka universitas dan sekolah yang masuk dalam jajaran favorit. Kita merasa orang Jakarta hebat, cerdas dan punya otak. Namun semunya berbanding terbalik dengan apa yang kita duga. Inilah yang membuat kita menjadi heran dan terkejut. Jakarta ternyata tidak seperti yang selama ini kita bayangkan atau pikirkan. Apa yang semestinya kita anggap masuk akal, ternyata tidak bisa terwujud hanya karena sentimen Sara yang kurang beralasan.

Barang kali, kita lebih bangga dengan kota bahkan desa kita sendiri. Sebab meski jauh dari “kata metropolitan” kita masih bisa memilih apa yang rasional. Jakarta tidak menjadikan orang dengan sendirinya selangkah lebih maju. Menjadi orang Jakarta tidak dengan sendirinya menjadi lebih hebat, atau lebih baik dan lebih pintar, tetapi masih-masing orang masih harus mendidik dirinya sendiri dengan belajar berpikir rasional.

Salam Seword…In Carmelo

Share.

About Author

Tidak seorang pun dapat memberi apa yang dia tidak punya. Jika seseorang memberimu kebaikan, itu karena dia punya kebaikan dalam dirinya; tapi jika seseorang memberimu keburukan, itu karena dia tidak punya kebaikan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage