Lagi, Dunia Pendidikan Kita Melahirkan Generasi Pembunuh.

Lagi, Dunia Pendidikan Kita Melahirkan Generasi Pembunuh.

10

Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua. Tetaplah berpelukan dalam perbedaan, jangan lelah mencintai Indonesia. Jangan jadikan perbedaan sebagai bibit perpecahan tapi jadikan keberagaman sebagai modal kekuatan untuk kita, bahwa dengan Bhineka kita Tunggal Ika. Merdeka.

Kali ini saya mau membahas makin hancur leburnya dunia pendidikan kita, bagaimana tidak di usia Sekolah Dasar (SD) saja, bangsa ini sudah mencetak para “pembully” bahkan celakanya lagi Dunia Pendidikan di tingkat Dasar itu telah mencetak Generasi bermental pembunuh.

Kalau soal bully membully, saya ambilkan contoh bagaimana siswa SD di OKU Sumsel tidak mau sekolah karena sering di bully atau di ejek teman-temannya karena berkelamin ganda. Yang membuat miris artinya ketika seorang anak ini memilih untuk tidak lagi mau pergi ke Sekolah, itu barang pasti bahwa anak yang berkelamin ganda ini, tiap detik di bully dan pasti pihak sekolah hanya diam saja. Kalau tidak mengapa ini terjadi?

Dan terbaru yang kita lihat di media mainstrem bahwa anak SD usia 8 Tahun harus mati dengan tindak kekerasan fisik, di lempar pakai menimuman beku di bagian kepala

Ade kemudian menunjukkan ruang kelas SR, lokasinya sangat dekat dengan halaman belakang tempat kejadian di mana bocah malang itu pingsan setelah dilempar minuman beku. Ada empat bulatan tergambar di tempat SR terjatuh, tiga bulatan terlihat berderet dan satu bulatan terpisah posisinya berhadapan dengan tiga bulatan tersebut.

“Ini posisi E, kemudian korban (SR) dan I lalu yang didepan ini adalah DI yang melemparkan minuman beku,” imbuh Ade.

Begitu detikcom memuatnya. Jujur saja sebagai seorang ayah, hati saya langsung berontak. Makanya saya terpanggil untuk mengulas ini. Memang benar Albotik (Aluna Botak nun-Cantik) belum sekolah tapi naluri orang tua membuat hati ini terhenyu. “Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Sekali lagi saya mengelus dada, dan langsung mengirim link berita itu kepada adik dan kakak ipar saya yang mana anak mereka sudah usia sekolah, sekedar mengingatkan untuk berhati-hati dan lebih memantau anak-anak mereka. Termasuk juga para pembaca seword.

Ok, kita cukupkan dulu rasa prihatin itu. Kita masuk pembahasan “Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Menurut saya ada yang salah dengan dunia pendidikan kita, bisa jadi karena gurunya kebanyakan Honorer, jadi ngajarnya terlalu banyak karena menggantikan PNS yang tidak masuk, sehingga peran mereka hanya mengajar, bukan mendidik. Ini bukan karena saya dari barisan honorer, lalu membahas honorer. Tapi ini lebih pada rasa, rasa dimana saya merasakan bagaimana mirisnya dunia pendidikan kita dan nelangsanya nasib Guru Honorer

Mengapa dunia pendidikan kita menjadi mesin pencetak para pembunuh?

Jawabnya karena Negara abai, abai kepada bibit perpecahan, masih ingatkah kita bocah ingusan dalam pawai obor yang berteriak “Bunuh Ahok”?

Apakah mereka diproses hukum? Jadi jangan heran kalau yang ditangkap di alam fikiran anak-anak seusia mereka bahwa membunuh itu halal di Republik ini.  Lalu masihkah kita ingat demo tiga angka yang sampai jilid sekian, di mana spanduk provokasi dan hujatan bahkan ada kata tak pantas, tapi lagi-lagi Negara abai, jadi jangan heran jika dibalam fikiran anak-anak usia SD “Membully itu boleh dan tidak melanggar hukum”

Kesimpulan dan Penutup

Dari banyaknya kejadian kekerasan pada anak usia dini akhir-akhir ini saya lebih melihat itu dikarenakan selain negara abai juga disebabkan dunia Pendidikan kita itu sedang titik-titik. Jangan pernah berharap pendidikan kita akan maju dan mengasilkan manusia tangguh kalau gaji guru saja 300 ribu.

Satu hal lagi, peran orang tua juga penting di sini dalam mencipkan generasi tangguh yang tidak sumbuh pendek dan bermental pembunuh,yakni jangan serta merta menyerahkan anak ke sekolah 100% sebab sekolah saat ini belumlah tempat aman untuk anak-anak kita. Yang terpenting kalau ada laporan dari anak bahwa di sekolah dia mendapat bullyan dan tindak kekerasan lainnya, jangan abai. Segera Kordinasi ke pihak sekolah, karena di alam Negara yang sudah merdeka, merdeka itu harus 100% tidak boleh ada intimidasi oleh siapapun dan dengan cara apapun.

Semoga mewaraskan
Wasalam
Suara Honorer

Yolis Syalala

Share.

About Author

Kaca mata HONORER

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage