Lucunya BEM UIN Sultan Syarif Kasim Riau Tolak Tokoh Islam Plural Terima Yang Radikal

Lucunya BEM UIN Sultan Syarif Kasim Riau Tolak Tokoh Islam Plural Terima Yang Radikal

45

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Prof Dr Munzir Hitami, menulis dan menyampaikan permohonan atas batalnya penyelenggaran kuliah umum dan bedah buku oleh Prof Dr Nadirsyah Hosen bertema meracik fikih nusantara untuk mewujudkan masyarakat Rahmatan Lil Alamin.Peserta kuliah umum yang diselenggarakan Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau akhirnya dipindahkan ke Hotel Grand Suka Pekanbaru.

Saya mengucapkan permohonan maaf saya yang sedalam-dalamnya atas kejadian yang tak mengenakkan ini“.

Munzir menyadari beberapa tahun belakangan terjadi pergumulan yang memicu konflik antar golongan. Baik karena ideologi maupun karena kepentingan politik. Bahkan seringkali latar belakang konflik tak lagi bisa dipetakan secara jelas karena telah bercampur baur. Meski begitu terhadap mahasiswa yang berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN yang menjadi dalang pembubaran ini, Munzir tak mau ambil tindakan tegas. Ia khawatir jika ia mengambil tindakan tegas, terjadi keributan yang lebih besar lagi nantinya.

Kalau untuk sekarang kita memang cuma bisa urut dada dulu lihat mereka supaya tak makin runyam masalahnya“.

Sekretaris ISAIS UIN Suska Riau, Hanafi Ihsan mengaku kecewa dengan pembatalan yang dilakukan oleh segelintir mahasiswa yang menolak membangun budaya dialog dalam ruang akademisi kampus.

Kita sangat kecewa. Apalagi yang menjadi dalang pembubaran adalah BEM UIN. Karena kampus yang menjadi institusi pengembangan pemikiran dan dialog, hari ini justru ditutup rapat“.

Penolakan yang dilakukan oleh BEM UIN ini, menurut dari akun Presma BEM Emil Negarawan, menganggap bahwa materi diskusi diindikasikan dengan penyebaran jaringan islam liberal. Padahal, dialog sama sekali belum dilakukan dengan pemateri yang bersangkutan, Prof Nadirsyah Hosen, peraih gelar Doktor dua kali ini adalah tenaga pengajar pada Faculty of Law di Monash University, Australia. Nadirsyah merupakan cendikiawan Nahdhatul Ulama (NU) yang dinilai aktif menghasilkan karya-karya pemikiran Islam ke Indonesiaan sesuai dengan ruh NU.

Dengan ditolaknya Prof Nadirsyah Hosen, oleh mereka, maka secara tidak langsung mereka menolak NU dan institusi kampus yang menaunginya,” jelas Hanafi.

Berita ini sebetulnya cukup memalukan. Pertama secara latar belakang Nadirsyah Hosen dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang cerdas, pengetahuannya luas, secara akademik juga tak bisa diragukan, dan tidak ada sepak terjangnya mengindikasikan melenceng dari ke-Islam-an. Gus Nadir, begitu Beliau biasa disebut, seperti layaknya ulama NU lainnya memang selalu menyebarkan Islam Nusantara yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Mereka menyebarkan Islam yang terbuka dengan pluralisme dan itu memang cocok dengan kondisi bangsa Indonesia yang punya banyak keberagaman. Semangat pluralisme inilah yang kemudian sering dicap oleh kelompok yang berlawanan sebagai Islam yang liberal.

Lucunya Bulan April justru BEM UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau mempromosikan kedatangan Bachtiar Nasir (Ketua GNPF) dan Munarman (FPI). Ini adalah lelucon terbesar bangsa ini bahwa sebuah Badan Eksekutif Mahasiswa di Universitas Negeri malah lebih ‘welcome‘ dengan tokoh-tokoh yang sering menunjukkan ‘kekerasan’ dan menampilkan wajah Islam yang tak bersahabat. Entahlah apa yang merasuki otak para mahasiswa ini dengan lebih menerima golongan radikal daripada sosok ulama yang membawa pesan damai toleransi. Padahal tidak ada ceritanya Gus Nadir pernah berbicara kasar ataupun melakukan tindakan menyebarkan kebencian di depan publik.

Kalau saya sebagai Rektor UIN Suska Riau saya akan tegas tetap mempersilahkan penyelenggaraan acara kuliah umum dan bedah buku oleh Prof Dr Nadirsyah Hosen tersebut. Alasannya jelas, selain kegiatan tersebut juga bersifat ilmiah, menjunjung nilai demokrasi dalam kampus, juga pengisi acaranya bukan orang yang bermasalah. Sementara saat datang ke Riau itu saja status Munarman tersangka kasus dugaan pelecehan dan fitnah terhadap pecalang di Bali sementara Bachtiar Nasir termasuk daftar nama yang diperiksa untuk dugaan makar. Mengapa harus takut dan tunduk dengan mahasiswanya? Yang jadi rektor Pak Munzir atau si Ketua BEM bernama Emil Negarawan itu? Lagipula apa kampus itu milik pribadi si Ketua BEM sehingga Ia bisa mengatur mana acara yang boleh dan tak boleh dengan dasar sedangkal itu?

Inilah ngerinya ketika radikalisme sudah masuk kampus. Banyak mahasiswa tak tahu diri dan lupa berpikir waras dan akhirnya menggunakan posisi dan kuasanya untuk membungkam hal yang seharusnya malah Ia pelajari dan sebarkan. Mungkin tak hanya UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau saja yang mengalami hal seperti ini. Fenomena ini bisa jadi semacam gunung es di kampus-kampus negeri kita. Entah apa langkah yang diambil Menristekdikti dengan kondisi seperti ini. Kita tunggu saja.

Baca juga:

Baca tulisan lainnya di : ARTIKEL-ARTIKEL RAHMATIKA. “satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke)

Sumber:

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage