Media Televisi Dan Komisi Penyiaran Indonesia, Perusak Mentalitas Generasi Bangsa Ini

Media Televisi Dan Komisi Penyiaran Indonesia, Perusak Mentalitas Generasi Bangsa Ini

15

Mentalitas manusia dipengaruhi oleh cara berpikir. Cara berpikir seseorang yang di dalamnya ada worl view , juga dipengaruhi oleh model pendidikan. Jika cara berpikir bangsa ini tergolong masih terbelakang atau primitif dan sebagai indikatornya adalah masih berpikir dan berdebat  berkutat di sekitar agama, penodaan agama dan persaingan agama, itu dikarenakan model pendidikan di negara ini ada yang salah.

Jika dianalisa mungkin banyak yang mempengaruhi mengapa cara berpikir seperti ini masih terjadi. Dari banyak hal itu, saya akan mencoba menganalisa terkait medel pendidikan di negeri ini. Pendidikan di sini penulis pilah menjadi dua, pendidikan formal dan informal. Dari pemililahan dua inipun, penulis hanya akan fokus di persoalam pendidikan non formal yang mana di sinipun negara terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Yang penulis maksutkan dengan pendidikan informal di sini adalah semua proses pendidikan yang terjadi  di luar sekolah. Itu bisa berupa pergaulan sosial, pendidikan dalam keluarga dan juga  tontonan media informasi dan komunikasi. Tontonan itu banyak dan  salah satunya  adalah media televisi. Tentang media informasi berupa televisi, ini ada beda yang sangat signifikan antara 20 tahun terakhir dan 20 tahun sebelumnya. Sebelum 1998an, stasiun televisi masih sedikit dan keberadaannya dikontrol (atau menurut saya pribadi DIKERANGKENG) oleh pemerintah melalui kementrian penerangan. Meski saya kuran begitu setuju dengan semua kinerja kementrian penerangan saat itu, namun   semasa orba media dikendalikan pemerintah dan pastilah ada sisi positifnya. Namun selepas orba runtuh, situasi berbeda.

Tidak dapat dipungkiri bahwa selebas rezim orba ambrol, media informasi mendapatkan kebebasannya, sangat bebas sebebas-bebasnya. Ijin menerbitakn media cetak sangat mudah, ijin mendirikan stasiun radio dan tipi juga sangat mudah, sehingga tidak mengherankan kalau bermunculan stasiun televisi di berbagai daerah. Namun karena selama dikerangkeng oleh rezim orba, mediapun kurang mendapatkan “asupan gizi untuk kedewasaan”, maka meski bebaspun masih bersikap kekanak-kanakan.

Itu semua dapat dibuktikan bahwa  selepas dari kerangkeng rezim orba, malah bingung. Bingung mau melakukan apa dan bingung bekerja untuk apa dan siapa. Dan di tengah media televise dan media lainnya mengalami kebingungan ini, masuklah ruh bisnis yang menggaet media sebagai “pacar” baru yang sangat mesra dan menguntungkan. Jadilah kekuatan ekonomi yang menguasahi media televisi. Padahal sejatinya, media adalah alat untuk melaksanakan proses pendidikan untuk masyarakat.

Ada banyak akibat yang ditimbulkan dari semua ini, namun dari banyak akibat itu penulis hanya akan menyoroti di sekitar pengaruh terhadap pendidikan anak, perkembangan anak dan sikap anak terhadap lingkungan serta Negara. Penulis menulis ini berangkat dari keprihatinan manakala “tanpa sengaja” mendampingi anak melihat sebuah FTV di sebuah stasiun televisi dari grup MNC. FTV itu berseri dan tayang senin-sabtu, sekitar jam 14.30-16.00 WIB. Di tayangan yang saya sempat itu disajikan semua yang tidak rasional, semua yang tidak berbasis fakta di kehidupan keseharian. Kejahatan dibebaskan bertingkah  dengan sangat bebas, ucapan dan gestur kebencian disajikan di  jam tayang di manaanak-anak sedang memiliki waktu untuk melihat televisi, di situ juga terjadi penistaan terhadap jajaran kepolisisn, kesehatan dan penegak hukum.

Di film tersebut dikisahkan betapa bodoh dan lambannya polisi menangani situasi kejahatan, betapa mudahnya dikibuli penjahat. Dan ini tertanam di jiwa anak, minimal anak saya. Dan doa saya, semoga hanya anak saya yang menjadi korban, meski saya tidak yakin. Pada sisi lain, sebuah rumah sakit begitu longgarnya menerima keluar masuk orang, dan itu menjadikan pasien selalu terancam posisinya. Tidak ada security, perawat dan yang lain, ini sungguh konyol. Belum lagi aparat pengadilan yang seenaknya saja menjatuhkan sanksi dan juga melepaskan tersangka, tanpa proses seperti yang ada dalam juklak peradilan di negeri ini.

Masih banyak yang terjadi, namun itu saja yang saya ungkapkan. Melalui tulisan ini, saya hendak bertanya, di mana fungsi KPI (Komisi Penyiaran Indonesia)? Dimana kak Seto yang selama ini dikenal sebagai “Panglima Tertinggi” kepedulian terhadap anak dan juga perihal pendidikan anak? Di mana juga peran mentri pendidikan dan jajaran kementriannya? Apakah karena media televisi ini sudah membayar dengan rupiah tertentu lalu kemudian mengorbankan generasi muda bangsa ini?

Anak-anak menjadi apriori terhadap rumah sakit, terhadap aparat kepolisian dan juga terhadap lingkungan karena dalam film tersebut sama sekali tidak ada yang namanya simpati dan juga empati. Maka jika saat ini tidak ada respek anak-anak terhadap aparat Negara, itu ternyata dimulai dari siaran media bernama televisi. Dan jika dibiarkan, maka sebenarnya khancuran bangsa ini semakin mendekati titik akhirnya.

KPI, apakah standar sebuah film atau sinema elektronika bisa tayang? Apakah kualitas tayangan ataukan nominal rupiah yang masuk?JIka hanya mengandalkan nominal rupiah, maka ingatlah bahwa ada jiwa-jiwa anak-anak negeri ini yang teracuni oeh tayangan-tayangan konyol nan bodoh di stasiun-stasiun televisi di negeri ini.

Saran konkrit saya melalui tulisan ini, wahai para orangtua, dampingilah anak-anak kalian setiap saat melihat siaran televisi, untuk “yang terhormat” KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan kementrian pendidikan, lakukan tindakan tegas kepada media televisi yang bandel, dan bila perlu jika ada stasiun tipi yang bandel, cabut ijinnya. Kalianlah yang punya otoritas, bukan uang dari pemilik stasiun tipi itu. Kalian dibayar dengan uang rakyat, maka mengabdilah kepada rakyat, sebelum rakyat menghakimi kalian.

Salam Hormat

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage