Melahirkan Peradaban Islam di Indonesia

Melahirkan Peradaban Islam di Indonesia

2

Akhir-akhir ini ulama dianggap terpecah menjadi dua golongan yang tak jarang diartikan saling sikut satu sama lain hanya karena perbedaan pendapat yang ditanggapi secara kaku dan berlebihan. Wajar saja seharusnya ketika Al-Qur’an ditafsirkan secara berbeda satu sama lain. Nash boleh serupa, tetapi akal jelas berbeda. Apalagi setiap huruf dalam Al-Qur’an pun memiliki arti yang sangat beragam sebagai bukti keindahan, keluasan dan demokrasi dalam Al-Qur’an.

Ambil contoh huruf ba yang dalam kaidah nahwu memiliki sekitar sepuluh arti yang tak akan ditemukan secara utuh dalam al-Qur’an terjemahan bebas. Itu baru huruf pertama surah Al-Fatihah, selanjutnya masih ada beragam pemaknaan yang baru akan dimengerti setelah seseorang mempelajari dua belas klasifikasi ilmu alat secara mendalam. Bahkan setelah selesai mendalami kedua belas klasifikasi ilmu tersebut, masih ada banyak gua yang harus dimasuki seseorang sebelum dianggap pantas untuk menafsirkan, berfatwa atau setidaknya untuk mengomentari pendapat ulama lain.

Tidak sampai di situ, andai pun ada dua orang mufassir yang telah sampai derajat ini, secara sangat mungkin masih akan ditemukan perbedaan pendapat yang disebabkan oleh hal lain yang juga dijadikan pertimbangan sebelum menafsirkan Al-Qur’an atau mengeluarkan fatwa. Umpamanya, ada satu ulama yang hanya konsen pada keilmuan agama yang mendalam tetapi tidak begitu mengerti politik, sosial dan keilmuan umum lainnya, lagi-lagi akan berbeda pendapat dengan ulama yang bukan saja mengerti ilmu agama tetapi juga paham terhadap konteks, stabilitas dan situasi yang sedang dan akan terjadi.

Jadi yang harus dikritisi bukan hanya perbedaan pendapat yang selama ini selalu dimunculkan ke permukaan dengan raut muka yang menegangkan. Namun lebih kepada sejauh apa umat muslim sudah mendalaminya sebagai sebuah kewajiban sebelum mengomentari pendapat-pendapat orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan panutannya. Apalagi hanya dengan bermodalkan ceramah, terjemah dan fanatisme buta yang justru membuat perbedaan pendapat yang sebelumnya bernuansa rahmat, intelektualitas dan terbingkaikan dalam kemajuan berfikir kini menjadi sesuatu yang rendah, cetek dan memalukan. Ini adalah akibat dari meningkatnya minat berkomentar yang disertai dengan minat membaca atau belajar yang menurun karena yang terpenting di antara yang paling penting adalah belajar, perkara berbeda pendapat itu bukan sesuatu yang harus diperdebatkan secara membabi buta.

Inilah kondisi yang terjadi di negeri kita tercinta, dengan seenaknya seorang remaja mampu mengkafirkan pendapat kiai yang keilmuannya justru sudah mendalam. Entah ini efek negatif dari demokrasi, atau kebobrokan sistem pendidikan di Indonesia, yang jelas kondisi ini harus segera diselesaikan.

Pemerintah seharusnya mampu menjadi mediator kedua pihak yang berbeda pendapat agar kelak, perpecahan ini tidak merembet dan menjadi borok yang merusak persatuan bangsa. Bhineka Tunggal Ika yang hanya diserukan ketika Pilkada juga seharusnya diperluas lagi jangkauannya agar persaudaraan sebangsa tak hanya omong kosong dan cita-cita gagal. Begitu juga pendidikan, Madrasah Aliyah yang ada selama ini sangat tidak kompeten untuk menghasilkan ulama yang tidak hanya toleran tetapi juga berpengetahuan mendalam dan meluas.

Selama ini, Madrasah Aliyah hanya menjadi second choice ketika seorang siswa gagal masuk SMA favorit pilihannya. Parahnya lagi, masih banyak masyarakat kita yang menganggap pesantren merupakan tempat buangan anak-anak yang nakal ketika belajar di sekolah umum. Image pendidikan bernuansa islami masih sering disalah artikan dan disalahgunakan oleh sebagian pihak. Butuh pergeseran ideologi dari hanya sekadar mementingkan religiusitas semata menuju spiritualitas yang akan menciptakan manusia humanis, toleran dan berpemikiran meluas.

Dikotomi tujuan juga seharusnya kembali dipertimbangkan dalam menyusun kurikulum sehingga tidak ada lagi ikan yang diajari memanjat pohon dan monyet yang dipaksa menyelam di lautan lepas. Pembagian Aliyah menjadi sekian klasifikasi ini amat sangat penting agar tak hanya pendidikan umum yang beragam seperti SMA, SMK dan STM tetapi madrasah khususnya Aliyah juga mempunyai tujuan yang lebih beragam karena intelektual dan ulama pun butuh materi pelajaran yang berbeda satu sama lain.

Dengan begitu, demokrasi tak lagi dijadikan kambing hitam atas kebebasan berpendapat yang bersifat memecah karena setiap pendapat yang muncul bukan hanya sekadar omong kosong tetapi dapat dipertanggung jawabkan keilmuannya. Lalu, dengan otomatis nuansa keharuman majunya Peradaban Islam di Indonesia akan tumbuh sedikit semi sedikit. Kelak, Indonesia -semoga saja- bisa menjadi pusat peradaban Islam dunia serta menjadi kiblat keilmuan bangsa-bangsa lainnya yang mampu mengkolaborasikan keilmuan, budaya dan toleran dalam bingkai Islam Nusantara.

Minimal, kesemrawutan yang memekakkan telinga yang terjadi bulan-bulan ini tak akan terjadi lagi di masa mendatang dan cita-cita menciptakan masyarakat yang cerdas, toleran dan adil akan terwujud.

Share.

About Author

Pembicara yang tak fasih, pemikir yang tak pandai, penulis yang tak kunjung selesai

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage