Mencuat Nama Calon Pengganti Menristekdikti dan Mendikbud

Mencuat Nama Calon Pengganti Menristekdikti dan Mendikbud

5

Gambar 1. Foto sekolah miskin

Indonesia sedang mengalami pembangunan yang signifikan di bidang infrastruktur. Hal ini sesuai dengan program Pak Jokowi yang memprioritaskan pembangunan berbagai infrastruktur untuk meningkatkan gairah perekonomian. Mulai dari Aceh, hingga Papua tak ada yang lepas dari pembangunan, termasuk daerah-daerah perbatasan. Berbagai pembangunan tersebut membuat kita tidak ragu untuk memilih Pak Jokowi untuk melanjutkan pelayanannya bagi Indonesia 5 tahun lagi. Tetapi meskipun kita sudah melakukan pembangunan infrastruktur yang sangat pesat, tetapi pembangunan manusia Indonesia cenderung stagnan.

United Nation Development Program (UNDP) mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2015 sebesar 0,689 dan berada di tingkat 113 dari 188 negara di dunia. IPM ini meningkat sekitar 30,5 persen dalam 25 tahun terakhir. Namun, di saat yang bersamaan, UNDP melihat ada sejumlah indikator kesenjangan yang bertolak belakang dengan peningkatan IPM tersebut.

Pertama, tingkat kemiskinan dan kelaparan. UNDP mencatat, ada sekitar 140 juta orang Indonesia yang hidup dengan biaya kurang dari Rp20 ribu per hari dan 19,4 juta orang menderita gizi buruk.

Kedua, tingkat kesehatan dan kematian, tercatat sebanyak dua juta anak di bawah usia satu tahun belum menerima imunisasi lengkap. Kemudian, angka kematian ibu sebanyak 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup.

Ketiga, akses ke layanan dasar. UNDP melihat bahwa hampir lima juta anak tidak bersekolah dan anak-anak di Papua memiliki tingkat dikeluarkan dari sekolah yang tinggi.

“Ketertinggalan ini multi dinamis, misalnya dari sisi gender, perempuan akses ke sekolahnya minim, informasinya minim, risikonya semakin besar, dan ini cenderung diteruskan ke generasi selanjutnya,” jelas Ansye. –CNN

Untuk mengatasi kesenjangan ekonomi harus disertai dengan program dan kebijakan yang tepat dalam membangun kualitas manusia. Tetapi Indonesia saat ini masih berkutat pada hal-hal yang tidak inklusif, seperti kebijakan Full Day School, kasus-kasus bullying yang dari hari ke hari justru semakin parah, dan juga aktifitas-aktifitas mahasiswa yang tanpa arah, termasuk demo-demo tak jelas didalamnya .

Belajar dari ketidakjelasan arah pembangunan manusia tersebut maka Pak Jokowi harus segera mengganti pucuk kepemimpinan di dua lembaga yang bertanggung jawab atas hal tersebut yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, H. Mohammad Nasir.

Seiring naiknya isu tersebut, juga muncul dua nama yang digadang-gadang akan menggantikan mereka berdua yaitu :

1. Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin M.Sc (calon menristekdikti)

Gambar 2. Prof Asep

Pak Asep, nama panggilan beliau, merupakan rektor Universitas Trilogi dan juga saat ini menjabat sebagai guru besar statistika IPB. Nama ini akhir-akhir ini cukup sering terdengar karena merupakan salah satu inisiator dari gerakan guru besar Indonesia untuk mendukung KPK. Beliau dan guru-guru besar lainnya menolak berbagai tindakan pelemahan KPK, terutama terkait hak angket DPR.

Integritasnya dalam memimpin, dan loyalitasnya dalam membangun Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Beliau juga sering membuat tulisan yang mengkritik sistem pendidikan tinggi Indonesia saat ini. Mahasiswa terlalu ditekan oleh biaya kuliah, arah idealisme mahasiswa yang tidak jelas, dosen-dosen yang lebih fokus ke riset dibandingkan pengabdian masyarakat, dan masih banyak lagi.

Pak Asep merupakan lulusan dari IPB yang kemudian melanjutkan pendidikannya untuk S-2 dan S-3 di University of Guelph, Canada. Beliau juga memiliki berbagai penghargaan yang diberikan oleh berbagai institusi internasional.

2. Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi M.M (Calon Mendikbud)

Gambar 3. Prof Lydia

Bu Lydia, nama panggilan beliau, saat ini menjabat sebagai salah satu guru besar psikologi Universitas Indonesia dengan fokus di bidang psikologi pendidikan. Pada tahun 2012-2014, beliau sempat menjadi direktorat Jenderal (ditjen) Pendidikan Anak Usia Dini, nonformal dan Informal (PAUDNI), yang saat ini sudah berubah menjadi Pendidikan Anak Usia dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD-Penmas).

Nama ini mencuat karena dinilai dapat menjadi sosok yang tepat untuk membangun roadmap pendidikan Indonesia berbasiskan perkembangan psikologi anak. Membangun pendidikan Indonesia di luar Jawa juga menjadi beban utamanya jika beliau dipilih jadi menteri. Terlebih lagi kondisi generasi millenial dan generasi Z yang memiliki passion berbeda juga menjadi tantangan sekaligus keuntungan baru.

Banyak nama boleh diisukan. Banyak menteri boleh diganti. Tetapi keputusan Indonesia maju atau tidak ada di tangan rakyat sebagai subjek sekaligus objek dari pembangunan itu sendiri. Mari kita membangun karakter kita untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumber referensi :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170322182446-78-202081/ranking-indeks-pembangunan-manusia-indonesia-turun-ke-113/

Share.

About Author

Calon Presiden Indonesia 2029-2034.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage