Menyingkapkan Radikalisme Agama di Dalam Politik

Menyingkapkan Radikalisme Agama di Dalam Politik

0

Agama dan politik tentunya adalah dua hal yang berbeda satu sama lain, bahkan keduanya dapat diibaratkan sebagai minyak dan air, api dan udara, bumi dan langit, atau apa saja-lah yang dapat memberikan gambaran analogi dua hal yang berbeda dan tentunya tidak dapat didamaikan bersama. Sebagian orang mungkin tidak setuju dengan opini ini dan itu silakan saja karena memang setiap orang berhak memiliki pendapanya dan cara pandangnya sendiri. Namun perlu diketahui adanya fakta yang tidak terbantahkan bahwa agama dan politik memiliki titik tolak dan ranah yang berbeda. Agama memiliki titik tolak pada suatu keyakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Titik tolak ini hanya mungkin ada pada manusia sebagai mahluk yang berakal budi. Sedangkan politik merupakan sebuah cara atau tepatnya dapat dikatakan sebagai seni untuk mencapai suatu kekuasaan publik tertentu yang diraih secara bersama maupun pribadi baik secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Atas dasar inilah kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keduanya memiliki esensi yang berbeda, di mana agama memiliki ranah privat, pribadi, dan bersifat personal. Sedangkan politik bergerak pada tataran publik dan bersifat umum.

Agama dan Radikalisme

Seperti telah dikatakan di atas bahwa secara tidak langsung agama pada dasarnya merupakan suatu wadah keyakinan seseorang sekaligus identitas pribadi dalam kaitannya kepada Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Entah disadari atau tidak, keyakinan tersebut pada akhirnya akan mengarahkan orang yang bersangkutan pada segi-segi kerohanian atau hal-hal yang bersifat rohani. Inilah yang disebut spiritualitas dan sekaligus menjadi roh dalam hidup beagama, artinya bila seseorang ingin menjadi lebih bersifat spiritual berarti ia harus memiliki ikatan yang lebih kental kepada hal yang bersifat rohani daripada hal-hal yang bersifat material atau duniawi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas pada dasanya merupakan roh dalam hidup beragama yang mengerakkan seseorang untuk mencapai tujuan dan makna hidup yang didasarkan pada keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain spiritualitas merupakan bagian penting atau hal paling pokok dari keseluruhan hidup seseorang ketika mengklaim diri beragama. Hal itu memang demikian karena memang spiritualitas diarahkan kepada pengalaman subjektif dari apa yang relevan secara eksistensial untuk manusia dalam kaitannya dengan Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Singkatnya dapat dikatakan bahwa spiritualitas tidak hanya mempersoalkan apakah hidup di dunia ini berharga, namun juga fokus pada persoalan mengapa hidup ini berharga dan bagaimana caranya menghargai hidup ini supaya memiliki nilai-nilai yang beradab.

Terlepas dari pemahaman di atas, perlu diketahui bahwa dalam sejarah kehidupan beragama memang ada bagian yang disebut radikalisme. Radikalisme sesungguhnya bukanlah hal yang baru dan bukan hanya terdapat pada agama samawi saja, yaitu Islam, Kekristenan, dan Yahudi, namun juga pada aliran kepercayaan hidup lain yang lebih tua dari agama langit tersebut. Bahkan dalam aliran New Age pun, yang notabene merupakan paham modern, terdapat paham radikalisme. Kiranya dalam hal ini tidak perlu dijelaskan aliran kepercayaan apa, kapan hal itu terjadi, dan bagaimana sejarahnya karena memang bukan maksud dari opini ini. Di samping itu, guna menjelaskan paham radikalisme mereka pun perlu dirumuskan secara ilmiah dan tentunya hal itu tidak akan mampu menampung batas dari artikel ini. Oleh sebab itu hal yang hendak ditonjolkan dan difokuskan di sini adalah mengenai radikalisme di dalam agama.

Apa itu radikalisme? Radikalisme itu sendiri merupakan suatu bentuk paham, acuan dasar pemikiran, dan cara pandang seseorang atau kelompok yang dimaksudkan untuk mengembalikan suatu tatanan yang sudah mapan kepada hal yang paling mendasar menurut kaidah atau pedoman asli. Guna mencapai tujuan tersebut maka dibutuhkan suatu perubahan tatanan kongkret yang dicapai melalui tindakan nyata, entah hal itu diejawantahkan melalui kehidupan sosial, kehidupan berpolitik, maupun kehidupan pribadi. Jadi bagi kaum radikal atau orang-orang yang mengikuti paham radikalisme, perubahan itu bukan hanya pada masalah cara pandang, namun juga dalam kehidupan nyata di mana cara pandang itu diterapkan secara konkret dan lurus tanpa memperhatikan orang lain. Hal itu berarti apabila usaha penerapan itu bertentangan dengan orang atau kelompok lain, maka kaum radikal secara otomatis akan memusuhinya dan bahkan mengeksklusikannya karena memang mereka dianggap sebagai orang atau kelompok yang tidak sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan. Inilah yang disebut radikalisme sebagai suatu paham. Sekali lagi, radikalisme bukanlah suatu ajaran agama atau aliran kepercayaan tertentu, namun lebih merupakan suatu bentuk usaha dan tata cara berpikir dalam mencita-citakan kembalinya ajaran tertentu sesuai dengan bentuk asli yang diungkapkan secara nyata melalui tindakan kongkret. Dengan kata lain radikalisme itu lebih pada perkara paham, sikap, mentalitas, dan pola berpikir. Jadi bukan ajaran agama.

Bahaya Laten Radikalisme Agama

Jika mencermati pengertian di atas, sebenarnya dapat dilihat secara langsung bahwa bahaya laten paham radikalisme adalah kemungkinan terjadinya perubahan tatanan hidup masyarakat di mana nilai-nilai manusiawi dalam menjunjung tinggi pluralitas dan keberagaman menjadi punah. Radikalisme agama tentunya menghendaki hal demikian karena memang kaum radikal berusaha mewujudkan cita-citanya dalam bentuk keseragaman yang didasarkan pada satu agama dan ajarannya secara ketat. Dalam hal ini tentunya kaum radikal akan merambah pada hal paling mendasar, misalnya dari intervensi sistem pendidikan, sistem kemasyarakatan, hingga pada sistem politik yang menjalankan roda pemerintahan negara. Inilah bentuk konkret yang dilakukan kaum radikal dalam mewujudkan cita-cita paham radikalisme secara nyata di tengah-tengah masayarakat yang mapan.

Adapun bentuk lain dari bahaya laten radikalisme adalah munculnya kebodohan yang masif dan terorganisir dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat. Bagaimana mungkin? Hal itu mungkin saja. Tentunya dengan pengandaian bahwa tingkat pendidikan masyarakat hanya setingkat pendidikan formal saja atau dibawahnya. Minimnya tingkat pendidikan tersebut bisa disebabkan berbagai macam, sebut saja salah satunya adalah kemiskinan sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengeyam pendidikan lebih lanjut. Kelompok menengah kebawah inilah yang secara mudah menjadi santapan utama kaum intelek radikal dalam menyalurkan gagasannya karena mereka memang tidak memiliki wawasan yang memadai untuk mengolah apa yang mereka terima. Dengan kata lain, semakin tingkat pendidikan masyarakat rendah, maka semakin mudah mewarisi paham radikalisme agama. Inilah sekurang-kurangnya bahaya laten radikalisme agama yang diejawantahkan melalui sistem kemasyarakatan dan politik dalam suatu negara, di mana hancurnya negara itu merupakan keniscayaan bagi kaum radikal.

Singkat saja dalam perumusan akhir artikel ini. Agama atau aliran kepercayaan pada dirinya sendiri adalah baik di mana keyakinan itu didasarkan pada keberadaan Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Namun kembali pada manusia itu sendiri, bahwa untuk mewujudnyatakan suatu ajaran agama dan keimanan perlu disadari adanya batas-batas tertentu yang tidak bisa dipaksakan. Radikalisme merupakan suatu bentuk intoleransi yang mengabaikan nilai-nilai kehidupan manusia dan spiritualitas dalam kaitannya dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

 

 

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage