Setelah Vickinisasi Terbitlah Rockinisasi

Setelah Vickinisasi Terbitlah Rockinisasi

25
Dok. Istimewa

Dok. Istimewa

Pertunangan antara Vicky dan Zaskia yang menjadi perhatian banyak orang, setelah video wawancaranya beredar luas. Awalnya awak media belum  menyadari apa yang keluar dari mulut Vicky. Namun setelah di tonton berulang-ulang maka  banyak yang gemas dan tidak sedikit yang menyematkan predikat “janggal”  pada gaya retorika Vikcy.

Bahasa Vikinisasi kemudian populer dan diartikan sebagai  bahasa gaul yang unik serta  populer di tahun 2012. Kemunculan bahasa ini bermula saat Vicky menyampaikan isi hatinya tentang Zaskia saat pertunangan tersebut.

Jika dilihat secara detail maka  ungkapan Vikinisasi merupakan sebuah cibiran bagi orang-orang yang sok intelek dan menggunakan bahasa tinggi namun tidak bermakna. Sebab saat ini banyak yang mementingkan keidahan bahasa dengan kualitas bahasa namun memperkosa makna dari bahasa itu sendiri.

Setiap kata-kata dalam gaya bahasa Vikinisasi  adalah bahasa menggunakan kata-kata hiperbola, dengan arti yang tidak jelas dan “tidak nyambung”. Kalau pun ada maknanya, seringkali terkesan dipaksakan.

Salah satu contohnya adalah “Kontroversi hati”, jika di cari arti kata “kontroversi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maka makna dari kata tersebut adalah “perdebatan” atau “persengketaan” atau “pertentangan”. Oleh karena itu, penggunaannya jadi berlebihan jika “hanya” dikaitkan pada persoalan isi hati, walaupun dunia sastra tidak asing dengan kata-kata “pertentangan batin”. Namun, sampai saat ini saya tak pernah menemukan kata “kontroversi” digabungkan dengan kata “batin”.

Perlu diketahui bahwa “Kontroversi” pun punya sifat khusus. Yang namanya perdebatan biasanya melibatkan dua hal, walaupun itu seseorang dengan dirinya sendiri. Oleh karenanya, kata itu biasanya hadir tanpa diikuti dengan kata lain. Misalnya, “Peraturan itu  pun akhirnya menimbulkan kontroversi”.

Nah, sampai saat ini saya sendiri masih bingung apa maksud dan tujuan Vicky dalam melonntarkan kata-kata ini, apakah konspirasi kemakmuran (yang berarti keadaan makmur) dalam ucapan Vicky lantas berarti ada persekongkolan dalam meraih kemakmuran?

Di tahun 2017 ini, kita dikejutkan dengan beberapa gaya bahasa dari akademisi Rocky Gerung. Ia dikenal sebagai salah satu pengajar di perguruaan tinggi ternama, sangat di sayangkan ketika beredarnya kabar atau berita bohong atau hoax, pendapat atau  pandangan akademisi ini justru mendukung adanya hoax dengan sebuah pernyataan di ILC yaitu hoax sebagai penyeimbang bahkan kita menemukan solusi baru  tapi buntu seperti “ Naikan IQ dan Hoax akan Turun”.

Nah, jika secara fakta terbukti apa yanng dikatakan oleh Rocky ini benar tak perlu menuai kontroversi dikalangan pegiat media sosial. Pasalnya, baru saja kita lihat bahwa Tifatul yang juga mantan Menkominfo di era SBY justru menyebar foto hoax, begitu juga dengan yang dilakukan oleh Wakil Perdana Menteri Turki turut juga menyebarkan foto hoax tentang krisis kemanusiaan yang menipa etnis Rohingya.

Lalu apakah Rocky akan beralasan jika keduanya IQ rendah, tidak mungkin kan. Secara kulit luar kedua tokoh ini pasti punya IQ yang lumayanlah, hal ini menandakan bahwa “Naikan IQ anda” atau IQ yang tinggi juga tidak menjamin sesorang terbebas dari yang namanya hoax, bahkan ikut menyebarkan.

Kini “naikan IQ anda dan Hoax akan turun” menjadi istilah baru yang patut kita namakan Rokinisasi, sebab saya juga menemukan sebuah cuitan dalam akun Twiter @rokygerunng yang sangat aneh (bagi saya).

Kalian terus memperpanjang kedaluwarsa otak kalian, begitu isi cuitannya Roky Gerung. Coba perhatikan secara detail pada “memperpanjang kedaluarwarsa otak”. Nah, jika anda merujuk ke KKBI tentang makna kedaluwarsa/ke·da·lu·war·sa/ maka akan kita peroleh pengertian kedalurwarsa sebagai berikut:

(1) tidak model lagi (baju, kendaraan, dan sebagainya); tidak sesuai dengan zaman: hakikat cerita itu telah – apabila diajarkan sekarang; 2 sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dan sebagainya); habis tempo; 3 terlewat dari batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan (tentang makanan): jika dimakan, makanan yang  akan membahayakan kesehatan.

Bagaimana dengan penggunaan kata “memperpanjang”, istilah ini sangat aneh dan sangat berlebihan seperti sama halnya dengan kata-kata dalam Vikinisasi. Pasalnya,  memperpanjang kedaluwarsa otak bakal tidak kita temukan dalam bentuk apapun. Sehingga saya melihat ada peluang untuk lahir gaya bahasa baru setelah Vikinisasi, melihat peluang bukan berarti menyamakan Pak Rocky dengan Vicky.

Dalam penggunaan kata “memperpanjang” dan “kedaluwarsa” jarang kita mendengar disandingkan dengan nama organ “otak, jantung, paru” dan seterusnya memang dalam dunia medis digunakan istilah tersebut namun sering dikaitkan dengan “sel” dalam otak atau bisa juga pembuluh darah.

Justru yang lazim digunakan seperti memperpanjang SKCK, SIM, yang kedaluwarsa (terlewat dari waktu berlakunya). Biasanya juga kita kenal atau sangat dekat dengan kedua kata tersebut pada industri makanan untuk  yang menggunakan bahan penngawet guna memperpanjang umur simpan (masa kedaluwarsa).

Gaya bahasa seperti Vicknisasi ini sudah lama diterapkan di dunia politik tapi terkadang  kita tidak sadar bahwa gaya berbahasa seperti itu kerap dijumpai dalam diri pejabat publik kita bahkan akademisi kita. Barangkali merekalah pengikut sindrom ”vickinisasi” itu.

Share.

About Author

Atas dasar romantisme kegelisan yang sama

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage