Sistem Pendidikan Semi Militer di Indonesia

Sistem Pendidikan Semi Militer di Indonesia

6

Halo Pembaca Seword yang budiman, kembali kita dikejutkan dengan adanya pemberitaan tentang tragisnya seorang pemuda yang meninggal ketika mengikuti pendidikan pada sekolahannya.

Siswa sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta terpaksa terhenti dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dikarenakan telah menjadi jenazah, jauh sebelum waktunya.

Korban tewas meninggal dunia akibat kekerasan yang terstruktur dari sebuah sistem pendidikan yang salah kaprah itu. Penulis juga mempunyai pengalaman belajar pada sebuah sekolahan yang menerapkan sistem pendidikan semi militer.

Ada dua jenis hukuman pendisiplinan yaitu hukuman fisik dan hukuman kontak fisik, selain hukuman administratif berupa pengurangan nilai kondite dan hukuman dari Kepala Urusan Asrama.

Menurut penulis hal itu terjadi karena kesalahan penanganan dalam menjalankan hukuman pendisiplinan dalam bentuk kontak fisik. Sebenarnya pemberlakukan hukuman kontak fisik itu ada teknik-teknik yang harus diperhatikan, seperti bagian tubuh mana yang boleh diberlakukan kontak fisik itu, teknik pelaksanaan kontak fisik dan jenis pukulan dan tamparan yang boleh dilakukan.

Seperti penggunaan bagian jari untuk tamparan,tidak boleh menggunakan telapak tangan, dan hanya pada bagian pipi. Juga dilarang pemukulan menggunakan kuda-kuda, juga bagian beberapa bagian tubuh yang tidak boleh dipukul.

Dan semua itu pada intinya hanya untuk pendidikan kedisiplinan dan pembangunan mental. Namun sekarang hukuman kontak fisik sudah dihapuskan dan dilarang pelaksanaannya dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Untuk meningkatkan kedisiplinan, pendidikan ala militer sering diadopsi sejumlah lembaga pendidikan kedinasan yang dibawah departemen kementrian maupun swasta. Namun pada pelaksanaannya terjadi pemahaman tentang kedisiplinan yang berlebihan sehingga muncul stigma kekerasan pada sekolah tersebut.

Dulu penulis sering berpikir bahwa pendidikan itu sama sekali tidak bermanfaat, dikarenakan hanya untuk melegitmasikan kasta senior-yunior, dan hanya untuk gagah-gagahan saja.

Sekolah penulis dulu mempunyai empat jenjang tingkatan pendidikan.

Tingkat pertama yang biasa disebut Taruna Remaja.

Tingkat kedua atau Taruna Madya.

Tingkat ketiga atau Taruna Perdana.

Tingkat keempat yang dinamakan Taruna Perdana.

Yang paling menderita adalah tingkatan pada jenjang pertama, Taruna Remaja. Hal ini dikarenakan pada tingkat pertama atau Taruna Remaja ini apabila mendapatkan hukuman kedisiplinan maka akan mendapatkan porsi hukuman paling banyak yaitu sebanyak tiga kali.

Yang berturut-turut terdiri dari Senat dan Polisi Taruna tingkat Madya, Perdana dan Utama. Belum lagi apabila jenis pelanggaran berat seperti tidak berada di asrama ketika pengecekan dilakukan atau ketahuan tidak mengikuti apel pagi maupun malam dan yang terberat adalah meninggalkan pos penjagaan ketika memperoleh jatah piket. Maka hukuman kedisiplinan akan langsung ditangani oleh piket kemiliteran yang terdiri dari anggota TNI yang diperbantukan dan oleh Kepala Urusan Asrama yang biasanya di jabat oleh alumni yang sudah lulus selain dari para senior angkatan.

Sebenarnya untuk membina ketegasan dan kedisiplinan tidak perlu menggunakan kekerasan fisik. Cukup dengan perintah yang disertai ketegasan dan diberikan penempaan fisik seperti push up, sit up dan lari memutari lapangan. Pada masa penulis, adalah awal penerapan larangan hukuman fisik squat jam dan push up dengan tangan terkepal.

Hukuman kontak fisik yang disertai dengan makian sebenarnya hanya akan mewariskan perilaku kekerasan dan dendam. Sehingga para Taruna Remaja yang baru saja naik ke tingkat kedua atau Taruna Madya akan melakukan secara serampangan dan dipenuhi dendam emosi yang membara untuk sekedar merasakan pengalaman menjadi senior pertama kalinya dengan hak melaksanakan hukuman kontak fisik.

Seperti yang terjadi pada kasus STIP terakhir ini korban mendapatkan perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh Taruna tingkat kedua.

Bahkan dahulu sewaktu penulis masih dalam tahap pendidikan pada sekolah semi militer, pernah menjadi suatu kebiasaan untuk membentuk otot lengan dengan barbel hanya untuk melatih kekuatan pukulan yang bisa menumbangkan (menjatuhkan) adik tingkat dengan sekali pukul.

Dan hanya untuk mendapatkan kesan “wah” gagah-gagahan kita mengobarkan warisan rasa dendam dan kecenderungan perilaku kekerasan pada kehidupan selanjutnya setelah pendidikan usai.

Namun, menurut pandangan penulis, nilai militer yang cenderung tidak mengenal demokrasi dan menghilangkan sisi kreatif dalam berpartisipasi dalam pelaksanaan pendidikan sekolah-sekolah sipil justru hanya akan memunculkan sisi kekerasan saja.

Penanaman nilai-nilai kedisiplinan dapat diimplementasikan pada keseharian di sekolah tersebut, yang melibatkan siswa, pegawai administrasi dan staff pengajar. Sehingga dengan pola seperti ini akan tercipta bangunan budaya kedisiplinan yang tinggi pada para siswanya.

Dalam pelaksanaan kedisplinan ini membutuhkan suatu mekanisme seperti penerapan konsep reward and punishment terhadap setiap tindakan yang dilakukan. Sehingga para siswa sadar betul akan apa yang dilakukannya.

Walaupun sudah ada peraturan kementrian pendidikan yang menghapus sistem kekerasan pada hukuman kontak fisik ini sudah diberlakukan, namun tertutupnya internal sekolahan-sekolahan ini menimbulkan kurangnya pengawasan publik.

Publik ataupun para orang tua siswa hanya mendapatkan kabar berita tewasnya para siswa secara terus menerus tanpa bisa mencegah maupun mengontrolnya. Pihak sekolah yang biasanya terdiri dari para alumni pun terkesan menutup-nutupi kejadian sebenarnya apabila terjadi jatuhnya korban.

Penulis dulu adalah angkatan terakhir pada sekolah penulis yang masih secara legal mendapatkan hukuman kekerasan ini sebagai sebuah peraturan yang sah. Walaupun pada adik tingkat penulis telah terdapat pelarangan hukuman kekerasan ini, namun kami semua tetap melakukan secara sembunyi-sembunyi dan aksi tutup mata para alumni yang menduduki jabatan pada sekolahan.

Hal inilah yang menjadi sangat berbahaya, apabila hanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa pengawasan dari pendidik. Karena mereka para senior pelaksana hukuman ini tidak mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam penanganannya dan hanya mengikuti apa yang sudah mereka terima dari para seniornya terdahulu.

Padahal walaupun kita sudah pernah mendapatkan pengajaran teknik –teknik pelaksanaan hukuman kontak fisik, namun dikarenakan penerapan hukuman ini diberlakukan pada yunior taruna satu angkatan dengan jumlah rata-rata 250 orang, maka kelelahan kadang menjadikan kita kurang kontrol dan kurang fokus dalam penerapannya.

Sering terjadi retak tulang iga, pendarahan pada bola mata hanya dikarenakan melesetnya pukulan dari sasaran yang diperbolehkan.

Akhir kata, diperlukan pengawasan yang transparan yang bisa dilakukan oleh POTAR (Persatuan Orang Tua Taruna) maupun badan –badan lain yang dibentuk secara independent diluar struktural organisasi pada sekolahan tersebut, dan diberikan akses sepenuhnya dalam hal pengawasan sehingga dapat mengontrol metode pengajaran dan proses belajar mengajar pada instansi sekolahan semi militer tersebut.

Sehingga dapat menyelamakan nyawa para siswa yang sedang menempuh kegiatan belajar guna mencapai cita-citanya.

Demikianlah Kura Kura pendapat saya yang masih konsisten ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini…Wassalam.

Salam untuk angkatan XXX Sekolah Tinggi Perikanan, Jalanindhitah Sarva Jivitam

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage