Taruna Akpol Tewas Dianiyaya Seniornya Yang ‘Sok Jagoan’. Masih Perlukah Senioritas?

Taruna Akpol Tewas Dianiyaya Seniornya Yang ‘Sok Jagoan’. Masih Perlukah Senioritas?

5

Citra buruk pendidikan Indonesia kembali terulang. Seorang taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tewas setelah dianiaya para seniornya. Berita ini juga dikonfirmasi langsung oleh pihak kepolisian :

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Djarod Padakova membenarkan ada taruna Akpol yang meninggal dan diketahui sekitar pukul 02.00 WIB.
“Benar, anak taruna Akpol tingkat II meninggal dunia, diketahui tadi pagi sekitar jam 02.00 WIB,” kata Djarod lewat pesan singkat, Kamis (18/5/2017). Dilansir detik.com.

Taruna Akpol yang tewas tersebt adalah Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam. Dan para ‘jagoan neon’ yang memukul, menganiaya, dan menewaskan Adam adalah Taruna Tingkat 3. Tidak tanggung-tanggung, senior yang katanya jagoan tersebut berjumlah 13 orang saat memukuli Adam. Jagoan ko beraninya keroyokan!

Dari informasi yang beredar, korban mengalami pemukulan dari taruna tingkat III sebanyak 12 taruna saat mengikuti kegiatan dini hari tadi. Terkait hal itu, penyidik Polda Jateng masih melakukan olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan.

Bukan pertama kali ini seorang siswa di tanah air harus tewas akibat kebengisan para seniornya. Pada bulan Januari di tahun yang sama, seorang Taruna STIP juga tewas akibat dianiaya dan dipukuli oleh para seniornya.

Seorang siswa tingkat satu di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta Utara, bernama Amirulloh Adityas Putra, 18 tahun, meninggal dunia setelah dianiaya oleh empat seniornya di dalam asrama, Selasa malam, 10 Januari 2017. Ini kronologi penganiayaan sadis yang dilakukan empat senior itu kepada juniornya.
“Pelaku menganiaya korban dengan cara memukul perut, dada, dan ulu hati dengan tangan kosong,” kata Kepala Humas Polres Metro Jakarta Utara, Komisaris M. Sungkono kepada wartawan pada Rabu, 11 Januari 2017. Dikutip tempo.co.

Sebenarnya dua kasus tersebut hanyalah sedikit kasus penganiayaan siswa oleh seniornya di Indonesia. Banyak sekali kasus lain, namun penulis hanya ingin memberikan dua kasus tersebut karena masih relevan dan terjadi di tahun 2017 ini.

Senioritas nampaknya merupakan sebuah alasan bagi para orang tua so ‘senior’ untuk menjajah para juniornya. Bukan haya di sekolah, didalam konteks apapun nampaknya masyarakat Indonesia masih lekat dengan yang namanya senioritas. Karena ada pepatah yang berbunyi “Hormatilah Orang Tua”.

Penulis tidak setuju dengan semboyan tersebut. Sampai hari dimana saya menulis, saya selalu menerapkan ”golden rule” dalam kegiatan bersosial. Artinya, penulis bakal memperlakukan seseorang seperti orang tersebut memperlakukan penulis. Kejam? Tidak, justru ”golden rule” sangat cocok untuk kebutuhan survival manusia. Saya tidak menghormati seseorang semata-mata karena dia lebih tua, tapi saya menghormati seseorang karena dia menghormati saya. Simple dan adil bukan?

Penulis juga pernah mengalami senioritas di sekolah. Setiap jenjang sekolah dari SD, SMP, SMA sampai sekarang sedang kuliah, penulis pernah mendapatkan perilaku senioritas tersebut. Yang palng lucu adalah saat Ospek SMA dulu.

Ada seorang senior panitia pelaksanaan ospek yang berlagak marah didepan para bocah ingusan baru masuk SMA. Selain mukanya yang lucu, yang lebih ngakak adalah saat dia sok-sok an memukul kaca sekolah. Padahal, muka sang senior tersebut terlihat muka orang baik-baik dengan rambut cepak, berkacamata, dan jidat lebar. Tipe-tipe remaja masjid dan pengurus Organisasi Siswa (Osis). Istilahnya, good boy/girl gone bad. Niat ingin memberi shock therapy pada juniorsenior tersebut malah seperti sedang melawak.

Apa kalian pernah melihat drama munafik para senior saat ospek dulu?

Saat SMP dan SD, senioritas saat ospek yang dialami penulis biasa-biasa saja dan normal. Seperti mengumpulkan makanan dengan sebuah kode rahasia, ataupun memakai tali sepatu yang berbeda warna. Tetap saja, mereka seenak jidat menjajah seorang manusia bebas yang hidup di negara demokrasi.

Selain saat ospek, penulis juga mendapatkan perilaku senioritas berupa teguran senior. Saat memakai celana pensil ke sekolah atau rambut yang panjang, para senior menegur dengan emosi membludak dan bergaya layaknya jagoan. Lengkap dengan tatapan mata tajam, nada suara tinggi, dan alis mata mengerenyut. Teguran yang sejatinya merupakan intimidasi. Saat menegur, para senior pun sama memakai celana pensil dan rambut yang panjang. gak ngaca!

Senioritas terbaik adalah sebuah contoh perilaku, bukan sebuah kata-kata munafik dan intimidatif. Setuju?

Kembali ke judul yaitu ‘senioritas’, apa alasan para senior sampai tega menjajah para juniornya? Ini opini penulis :

Dendam Kesumat

Karena senioritas yang mengakar dari zaman purba di sekolah tersebut, para senior yang dulunya junior, juga pernah mengalami jajahan dari senornya dulu. Hal ini yang menyebabkan mereka dendam dan melampiaskannya kepada para juniornya. Akibatnya, senioritas seperti sebuah sistem yang berulang.

Hormati Orang Tua

Dari kata-kata tersebutlah para senior terinspirasi untuk menjajah para juniornya. Sekecil apapun para junior melakukan kesalahan, kesalahan tersebut merupakan sebuah kesalahan besar dimata para senior. Dan mereka bakal bertindak sebagai juri, mengoreksi setiap kesalahan para junior. Tak jarang koreksi juri amatir tersebut adalah sebuah kekerasan.

Darah Muda

Darah muda darahnya para remaja

Yang selalu merasa gagah

Tak pernah mau mengalah

Masa muda masa yang berapi-api

Yang maunya menang sendiri

Walau salah tak perduli

Sepenggal lirik lagu dari lagu pendiri Partai Idaman tersebut merepresentasikan senioritas para senior. Memang saat memasuki usia remaja, manusia seringkali tak bisa mengontrol emosinya. Wajar saja, rentang usia tersebut merupakan rentang waktu manusia dalam mencari jati dirinya.

Balik ke akar masalah, masih perlukah senioritas terutama dalam lingkungan sekolah? Tidak, tapi jika senioritas tersebut adalah senioritas positif, penulis setuju. Contohnya yaitu senior memberikan perilaku yang baik didepan para juniornya.

Bagaiamana pendapat anda? Apakah senioritas masih diperlukan?

”Respect is something earned, not something given ”

 

 

Share.

About Author

Penulis adalah Writter

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage