Najwa Shihab, Carl Bernstein dan Bob Woodward

Najwa Shihab, Carl Bernstein dan Bob Woodward

1

Kasus penyadapan terhadap markas Partai Demokrat di Amerika Serikat oleh “orang-orangnya” presiden Richard Nixon (presiden dari Partai Republik) berhasil dibongkar oleh dua wartawan The Washington Post: Carl Bernstein dan Bob Woodward. Pembongkaran terhadap skandal yang terkenal dengan istilah Watergate itu diabadikan dalam buku yang ditulis oleh Bernstein dan Woodward dengan judul “All the President’s Men.”

Tentu upaya pembongkaran terhadap skandal besar yang melengserkan presiden Nixon dari jabatannya secara tidak hormat itu tidaklah mudah dan penuh resiko. Lika-likunya diceritakan secara detail di dalam buku tersebut mulai dari menghubungi banyak pihak yang tidak semuanya bersedia buka suara, sampai dengan adanya ancaman dari pihak-pihak yang terusik dengan aksi investigatif Bernstein dan Woodward terhadap skandal Watergate.

Mengapa lika-liku yang sulit itu tetap ditempuh dan akhirnya membuahkan hasil yang spektakuler? Jawabannya adalah karena skandal Watergate itu “mahal” di mata media massa. Mahal karena menyangkut orang nomor satu di Amerika Serikat, Presiden Nixon, serta orang-orang penting di sekelilingnya. Sehingga The Washington Post rela melakukan apapun demi membungkar kasus tersebut.

Bagi wartawan, Carl Bernstein dan Bob Woodward, tentu saja ada faktor kepuasan dan gengsi ketika berhasil membongkar skandal yang mahal itu, sehingga mereka rela bolak-balik mengunjungi banyak pihak, telpon sana-sini, duduk menunggu narasumber selama berjam-jam tanpa kepastian, mendapatkan rayuan sampai dengan ancaman dari pihak-pihak yang terusik, dan tentu saja sampai dengan menuliskannya menjadi berita yang bisa dipertanggungjawabkan.

Logika media massa berbeda dari logika partai politik. Bagi media massa semakin tinggi resiko dalam membongkar sebuah kasus, maka semakin mahal kasus tersebut sehingga layak diperjuangkan dengan berbagai cara. Sementara bagi partai politik, semakin tinggi resiko maka semakin dihindari karena khawatir tidak mendapatkan teman untuk koalisi.

Itu kisah Carl Bernstein dan Bob Woodward dalam membongkar skandal Watergate yang penuh resiko tapi berujung manis. Lalu apa hubungannya dengan Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa di Metro TV?

Para pemirsa dikejutkan dengan kabar bahwa acara Mata Najwa akan berhenti tayang pada akhir Agustus 2017. Kabar tersebut berasal dari postingan Najwa Shihab di akun instagramnya beberapa waktu setelah Mata Najwa menayangkan wawancara eksklusif dengan Novel Baswedan pada 26 Juli 2017 di Singapura.

Mata Najwa, acara yang turut membesarkan Metro TV diumumkan akan berhenti tayang pada akhir Agustus nanti.

Posisi penting Novel Baswedan sebagai penyidik KPK yang sedang menangani kasus mega korupsi E-KTP dan baru saja mendapat teror air keras, memunculkan spekulasi seputar penyebab berhentinya acara yang punya rating tinggi itu. Tidak hanya acaranya yang berhenti, karir sang tuan rumah, Najwa Shihab, di Metro TV juga bakal berhenti.

Spekulasi yang sempat menyebar di media WhatsApp adalah bahwa wawancara yang dilakukan oleh Najwa Shihab itu tidak direstui oleh pihak Metro TV. Tetapi Mba Nana (sapaan Najwa Shihab) tetap kekeuh untuk terbang ke Singapura dengan biaya sendiri dan mewawancarai Novel Baswedan yang sedang menjalani pengobatan di sana.

Spekulasi tersebut tetap menarik meskipun Mba Nana dan Dirut Metro TV telah membantahnya. Dirut Metro TV mengatakan bahwa itu disebabkan keinginan dari Mba Nana yang sebenarnya sudah berstatus sebagai pegawai freelance (bukan pegawai tetap) di Metro TV sejak 2015. Mba Nana pun menjelaskan bahwa ia ingin fokus pada aktivitas sosial yang sedang digelutinya.

Adalah wajar jika publik menggunakan pribahasa ‘ada asap ada api’. Tidak mungkin acara Mata Najwa yang laris manis itu dihentikan dengan alasan yang biasa-biasa saja. Pasti ada yang luar biasa. Jika sudah menyangkut nama Novel Baswedan, maka sudah pasti menyangkut juga kasus super besar E-KTP. Itu artinya bukan persoalan yang biasa-biasa saja.

Bisa saja Metro TV mendapat “serangan” dari pihak-pihak yang terganggu dengan ditayangkannya wawancara eksklusif itu, sehingga harus membuang acara yang telah membesarkan nama Metro TV. Namun “serangan” macam apa yang dilancarkan ke Metro TV? Bukankah big bosnya, Surya Paloh (Ketum Partai Nasdem), tidak tersangkut lingkaran setan E-KTP? Jadi mengapa bisa diserang? Atau mungkinkah sebenarnya tidak ada serangan apapun, sehingga alasannya adalah murni seperti yang dijelaskan oleh Mba Nana dan Dirut Metro TV tadi?

Meskipun menarik, spekulasi yang telah menyebar itu nyatanya tidak meyakinkan, entah karena datanya saja yang belum lengkap atau memang spekulasi itu meleset dari realitas.

Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa logika media massa menganggap semakin tinggi resiko pemecahan sebuah kasus, maka semakin mahal kasus tersebut. Jika didasarkan pada logika tersebut maka seharusnya Mata Najwa mendapatkan penghargaan dari Metro TV karena berhasil mewawancarai Novel Baswedan, penyidik senior KPK yang sedang menangani kasus E-KTP. Bukan malah dihentikan acaranya.

Seperti halnya The Washington Post dengan dua jurnalisnya, Carl Bernstein dan Bob Woodward, yang begitu gigih memecahkan skandal politik terbesar di Amerika Serikat, Watergate, sehingga menumbangkan presisen Richard Nixon. Mereka mendapatkan kehormatan dan keharuman nama dalam dunia jurnalistik.

Tapi mengapa faktanya malah Mata Najwa dihentikan? Jawaban yang tersisa hanyalah alasan biasa yang telah dikemukakan oleh Mba Nana maupun Dirut Metro TV tadi. Jadi, marilah mengendalikan insting detektif kita dengan didasarkan pada data-data yang ada. Jangan sampai hanya bermodal dugaan-dugaan saja.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage