Aa Gym Steril, Ampun Aa!

Aa Gym Steril, Ampun Aa!

58

Singkat saja, aku ingin sekali menuliskannya!

Sebelum kita mengulas mengenai Aa Gym, atau adakah nuansa politik dalam kegiatan tabligh akbar di Pulau Pramuka, ada baiknya saya buka dengan dua paragraf yang saya kutip dari tempo, berikut :

Ulama terkenal Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym menyatakan ceramahnya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tidak akan berbau urusan politik. Aa Gym mengaku selama ini dirinya tidak pernah terlibat dalam urusan politik apa pun. “Saya tidak pernah ikut politik. Steril,” kata Aa Gym kepada Tempo saat dihubungi, Senin, 9 Januari 2017.

Saat ditanyakan tentang adanya permintaan dari warga Pulau Pramuka agar acara tablig akbar ini ditunda karena takut ada nuansa politik, Aa Gym menegaskan bahwa acara ini tidak ada kaitannya dengan politik. “Jangan-jangan yang meminta itu yang ada kepentingan politik,” ucap Aa Gym.

Muncul pertanyaan dari benak saya tentang kata “steril”. Apakah itu benar?

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa si aa kehilangan popularitasnya yang bermula dari poligami atau menikah lagi dengan perempuan yang berbeda tentunya. Itu bagiku sah-sah saja, namun pada kenyataannya tidak sedikit masyarakat menanyakan kesetiaan si aa yang suka berkata akhlak…akhlak…akhlak.

Dengan cukup mendukung aksi bela islam terhadap kasus yang dianggap “penista” yang menimpa Ahok. Popularitas Aa gym kembali menanjak, ironisnya tanpa melihat realitas dengan objektif ataupun menelusuri kebenarannya. Parahnya dia (gym) menyebut aksi tersebut panggilan iman, tetapi giliran ada aksi tandingan tak sungkan juga ia sebutkan “duniawi”.

Seperti yang dikabarkan megapolitan.kompas bahwa di Kepulauan Seribu terpasang spanduk #TahanPenista, spanduk tersebut terpasang menjelang kedatangan aa Gym sebagai pengisi ceramah. Selain itu ada juga yang bertuliskan kawal terus aksi bela islam III.

Jadi pertanyaan saya tentang kata steril yang ada pada aa Gym. Seperti menyimpan maksud “saya ingin kembali populer”. Yang pada akhirnya maka akan sia-sia jika kesempatan seperti tabligh akbar di Pulau Pramuka tidak diambil atau dipenuhi sebagai penceramah.

Bagaimana mungkin tabligh tersebut tidak bernuansa politik, dan bagaimana mungkin aa Gym bisa menyebut dirinya steril yang dalam artian ini adalah “kemurnian”.

Bukankah spanduk yang beredar di media sosial tentang tabligh akbar di Kepulauan Seribu tidak ada tulisan #TahanPenista, tapi kenapa tidak pada kenyataannya. Bukankah aa Gym selalu terlihat seperti berupaya untuk menyempatkan diri terlibat dalam suasana politik Jakarta dan bahkan diundang dalam acara televisi untuk membahas kasus Penista. Yang paling fakta adalah Kepulaun Seribu tempat dimana Ahok berpidato yang kemudian dianggap “penista”.

Steril dan tidak ada kaitannya dengan politik yang disampaikan aa Gym tentang tabligh akbar di Kepulauan Seribu adalah sebuah keraguan. Karena jelas saat aa Gym sebut tentang demo tandingan adalah duniawi, itu sudah melukai demokrasi. Bahkan sangat mendukung aksi yang menginginkan Ahok dipenjara.

Ironis memang jika ada seorang Ustadz yang tidak konsisten dengan apa yang diucapkan. Atau berceramah tentang menjadi suami yang setia dan baik ataupun tentang istri soleha namun diri sendiri pada kenyataanya tidak demikian.

Fakta memang membuktikan di dalam persaingan ‘politik’ seperti Pilkada, agama memang kerap kali dijadikan senjata. Karena sentimen dan identitas sangat mudah dijejali dalam masyarakat yang enggan mengkajinya terlebih dahulu, lantaran hadiahnya sangat memukau yaitu Syurga. Sementara hanya Tuhan yang berhak menentukan Syurga dan keberimanan Seseorang.

Adakah yang berani jamin aa Gym steril, dan tabligh akbar di Pulau Pramuka tidak bernuansa politik?

Terakhir, Novel (Sekjen FPI DKI) menyebutkan warga Kepulauan Seribu orang awam yang tidak mengerti Al-Maidah 51.

Dan ini kesempatan aa Gym untuk memberi siraman rohani.

Begitulah mungkin keindahan politik yang tidak setia pun sanggup berujar steril. Sementara dibalik layar bisa jadi angka-angka bernominal bersatu. Kemurnian dimunculkan kepermukaan dan dibelakang “kapan saya diundang lagi”.

Akhhhh sudahlah, benar-benar keras.

Saya saran untuk KPUD dan Bawaslu agar melihat semua ini dengan jeli. Karena kampanye hitam itu banyak rupa dan banyak pula siasat terselubungnya.

Dan memang demikianlah konservatisme agama, ditengah masyarakat kontemporer urban bermunculan tokoh-tokoh agama baru yang namanya justru besar di layar kaca ataupun ‘gosip’ ketimbang ilmu keagamaan itu sendiri. Disingkirkanlah kyai dan ulama tradisional yang bahkan ilmunya lebih mempuni lebih paham. Lalu dikeluarkanlah kata bid’ah, syiah meskipun tidak sesuai pada kenyataannya. Jadi sedikit bullshit jika tidak bernuansa politik dan popularitas serta kepentingan. Disisi lain konsisten itu diperlukan.

Salam Steril Abu-abu.

Share.

About Author

Aku adalah bukan kamu. Dan ternyata dialektika itu "seksi". / FB : Losa Terjal

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage