Ada Eep Dibalik Politisasi Masjid

Ada Eep Dibalik Politisasi Masjid

156

Mangkirnya Anies dalam debat yang dipandu Rosi, diotaki oleh Eep. Bahkan dalam sebah pesan singkat yang viral, Eep menawarkan perubahan konsep debat menjadi talk show. Akhirnya, #AniesTakutDebat jadi trending topic di Medsos sebagai bentuk reaksi terhadap batalnya Anies hadir di forum #DebatDiRosi yang dihelat Kompas TV pada Minggu 2 April 2017.   

Setelah sukses mengacaukan agenda debat Kompas TV, di hari yang sama pada sebuah video yang viral dipublish tanggal 2 April 2017, Eep Saefulloh Fatah, yang konon didaulat sebagai tim konsultan politik pasangan Cagub Anies Baswedan – Sandiaga Uno, secara terang-terangan melontarkan bahwa masjid adalah tempat kampanye paling efektif dan sekaligus murah untuk meraih kemenangan.

Dalam tayangan pada kanal youtube tersebut, Eep mengajak hadirin untuk menimbang usulan politisasi masjid demi mengalahkan Ahok:

“Saya secara pribadi, ingin … kami sudah kembangkan dalam beberapa hal, menyangkut soal ini  ingin itu menjadi alat untuk mengalahkan Pak Ahok…”

Menurut Eep, partai FIS bisa menang pada pemilu di Al-Jazair karena kesuksesannya menggunakan masjid sebagai alat propaganda politik. Padahal partai FIS bukan partai besar, tidak dihuni oleh tokoh-tokoh berpengaruh yang tersebar di berbagai daerah, dan pendanaannya pun biasa-biasa saja. Mereka menang karena berhasil memanfaatkan masjid sebagai media efektif menyerang lawan politik.

Jadi, khatib tidak lagi sekadar menyerukan ketaqwaan kepada para jemaah. Dengan meniru partai FIS yang tTanpa jaringan politik yang luas dan dahsyat, tanpa uang, partai FIS di Aljazair berhasil memenangkan Pemilu di Aljazair. Menurut Eep, ia berharap dapat meniru strategi kemenangan Partai FIS/Partai Front Keselamatan Islam (al-jabhah al-islamiyah lil-inqadh) di Aljazair yang berhasil memenangkan pemilu dengan mempolitisasi masjid.

Kekuatiran Menag

Kasus ceramah Eep sebenarnya bukan hal baru, tapi ajakan Rasis oleh seorang elit berlatar akademik tinggi adalah sebuah kegagalan kita dalam membangun tradisi politik yang sejuk dan damai. Jika ini adalah seruan elit, kita bisa bayangkan bagaimana respon akar rumput yang setiap saat menunggu perintah bergerak, apapun siap dilakukan demi mencapai tujuan.

Telah lama kita mendengar teriakan sesat hingga ajakan memilih calon tertentu di atas mimbar-mimbar masjid. Sayang sekali, ketika duduk dalam barisan shaf masjid, berharap dapat siraman rohani malah yang didengar seruan boikot hingga tegakkan jihad.

Pada Januari 2017 lalu, wacana sertifikasi penceramah sempat jadi polemik. Wacana tersebut, menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin didasari atas perlunya ada standarisasi khatib (penceramah) Jum’at agar tidak sembarang orang yang dinilai belum mumpuni keilmuannya bisa menjadi khatib.

Pihak yang kontra menilai, usulan tersebut adalah tindakan berlebihan yang dilakukan pemerintah. Sementara bagi Menag, rencana itu bukan merupakan bentuk represif dari pemerintah atau membatasi seseorang menyebarluaskan ajaran agama. Sertifikasi tersebut tidak bersifat wajib, setidaknya publik mengetahui tidak semua da’i dan mubaligh bersertifikat. Jadi, pada akhirnya, publik yang akan memberi penilaian.

Padahal, kekuatiran Menag Lukman Hakim Saifuddin sangat beralasan. Politisasi ceramah dan khutbah masjid ini sebenarnya sudah berlangsung massif. Dengan kondisi itulah maka muncul usulan untuk menerapkan sertifikasi penceramah, sebagai upaya menekan laju kelompok radikal yang kerap menyisipkan agenda-agenda terselubung dalam setiap ceramahnya.

Tujuan mengalahkan Ahok

Kekuatiran Pilkada DKI telah menyeret isu Sara yang berpotensi merusak tatanan sosial semakin nyata. Justru, bukan hanya dari mereka yang berpikir picik ‘asal bukan Ahok’, namun seorang yang memiliki latarbelakang keilmuan, telah jauh melampaui batas norma sosial yang seharusnya dijaga bersama dan dikuatkan.

Mengalahkan Ahok telah menjadi tujuan, pantas saja kampanye program selama ini dari kubu Anies-Sandi dinilai kosong dan sama sekali tak visioner. Bahkan, dalam mata Najwa, muncul kesimpulan bahwa Ahok fokus menjelaskan programnya, sementara Anise justru fokus menyerang Ahok.

Sayang sekali, mereka sepertinya kehabisan akal untuk mewujudkan ambisi mengalahkan Ahok. Mereka melupakan esensi Pilkada sebagai wahana untuk menakar calon kepala daerah yang mampu memberikan pelayanan optimal kepada warga sekaligus menata Jakarta menjadi lebih baik. Mengalahkan Ahok telah menjadi tujuan, yang bisa ditempuh dengan segala cara, termasuk politisasi masjid.

Source:

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/01/26/110518/menag-terus-godok-rencana-sertifikasi-khatib.html

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage